Hubertus Sadirin, Tim Ahli Cagar Budaya Provinsi DKI Jakarta mengatakan hal tersebut saat dihubungi CNNIndonesia.com, pada Selasa (5/1). Pada Agustus 2014, Sadirin yang saat itu menjabat Penasihat Gubernur DKI Jakarta Bidang Konservasi, mendatangi Edhi di Yogyakarta sebelum mengkonservasi patung Dirgantara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tujuan dibangunnya patung Dirgantara adalah untuk menunjukkan keperkasaan bangsa Indonesia di bidang dirgantara. Karenanya bukan kebetulan jika patung ini dibangun di depan Wisma Aldiron Dirgantara yang dulunya berfungsi sebagai Markas Besar TNI Angkatan Udara.
Ide awalnya dari Sukarno ketika berpidato di Yogyakarta. Wakil Gubenur DKI Jakarta Henk Ngantung, yang juga seorang pelukis, kemudian membuat sketsanya. Pembuatan patungnya dikerjakan Tim Pematung Keluarga Area Yogyakarta dibawah pimpinan Edhi Soenarso.
Patung yang berdiri di atas landasan setinggi 20 meter dari jembatan, atau 25 meter dari landasan bawah itu rampung setelah setahun pembangunan. Presiden Sukarno meresmikan patung perunggu itu pada 17 Agustus 1963.
Berbeda dengan Dirgantara dan Pembebasan Irian Barat yang sudah dipastikan menggunakan model wajah sang pematung, patung Selamat Datang (1962) belum diketahui siapa modelnya.
Patung yang berada di Bundaran Hotel Indonesia ini terdiri dari perempuan dan laki-laki, menghadap utara, melambaikan tangan. Rancangannya juga dibuat Henk Ngantung. Tinggi badan patung dari kaki sampai ujung tangan yang melambai 7 meter, sedangkan tinggi penyangga 10 meter.
(vga)