Minimnya Panggung untuk Sineas Pejuang HAM

Fadli Adzani, CNN Indonesia | Sabtu, 09/01/2016 04:24 WIB
Minimnya Panggung untuk Sineas Pejuang HAM Ilustrasi sinemas (CNN Indonesia Internet/Joshua_Willson/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) datang dari berbagai macam kalangan, baik masyarakat biasa, pejabat, politisi, maupun profesional—tak terkecuali sineas. 

Lewat medium film, para sineas meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya HAM dan kemanusiaan, serta nilai-nilai dan norma kehidupan.

Namun sayangnya, "panggung" untuk para sineas pejuang HAM masih terbilang sedikit. Mereka dilanda kebingungan mau dibawa ke mana film-film bertema HAM.

Hal ini diakui sineas Damien Dematra. Menurutnya, selama ini, sineas pejuang HAM harus melalui jalan berliku dan sulit untuk dapat mempertontonkan film-film bertema HAM mereka.


Untuk mengatasi problem ini, Damien membuat festival film internasional bertajuk World Human Rights Awards yang mempertontonkan film tentang HAM dari seluruh dunia.

“Kita hadir di Indonesia karena sineas-sineas pejuang HAM itu butuh panggung. Di dunia nyaris tidak ada, enggak cuma di Indonesia, namun juga di dunia,” ujar Damien kepada awak media massa di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Damien mengaku, bahwa dirinya tidak pernah mengundang sineas untuk datang ke acara World Human Rights Awards, namun para sineas-sineas dari seluruh dunia lah yang mendaftarkan diri mereka ke festival film internasional itu.

“Mereka saja sudah bersyukur bisa dapat panggung untuk mempertontonkan film mereka,” ia menegaskan.

Selain itu, banyak hal-hal yang harus para sineas pejuang HAM itu korbankan. Hal itu mereka lakukan demi mendapatkan tempat agar film mereka dapat ditonton oleh masyarakat.

“Para sineas itu jual mobil untuk buat film, mereka tidak butuh hadiah di festival film ini, mereka hanya ingin orang untuk menonton film mereka,” ia melanjutkan.

Uang yang mereka keluarkan untuk membuat film-film tentang HAM pun tidak sedikit. Mengutip pernyataan Damien, sekitar Rp40 juta habis untuk membuat film-film yang terbilang pendek.

Lebih lanjut, Damien pun kembali menegaskan bahwa para sineas itu tidak mengincar uang atau hadiah dari mengikuti festival film itu. Bisa mendapatkan panggung agar film mereka dipertontonkan saja sudah sangat bersyukur.

“Mereka tidak butuh hadiah dan penghargaan, hanya cukup ditonton."

(fad/vga)