Sang Sineas Pejuang HAM di 'World Human Rights Awards'

Fadli Adzani, CNN Indonesia | Jumat, 08/01/2016 14:18 WIB
Sang Sineas Pejuang HAM di 'World Human Rights Awards' Patung Martin Luther King Jr. (REUTERS/Jim Young )
Jakarta, CNN Indonesia -- Banyak cara dilakukan oleh para pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) yang berasal dari berbagai kalangan, termasuk sineas, untuk menggelar kampanye sampai sosialisasi.

Lewat medium film, mereka bekerja keras menumpahkan ide demi menegakkan HAM. Tidak mudah, karena butuh pengorbanan waktu, tenaga, pikiran juga dana yang tidak sedikit.

Untuk itu, sineas Damien Dematra menghelat acara World Human Rights Awards, festival film internasional untuk menghargai jerih payah para sineas pejuang HAM seantero dunia.


Uniknya, festival film bertema HAM pertama di dunia ini digagas oleh orang Indonesia. Siap dibuka pada 18 Januari mendatang, bertepatan dengan Martin Luther King's Day, pegiat HAM asal Amerika Serikat.

"Kemanusiaan itu penting untuk dibangkitkan kembali, agar HAM ditegakkan sebagai salah satu unsur penting dari kemanusiaan sendiri," ujar Damien kepada awak media di bilangan Menteng, Jakarta, pada Kamis (7/1).

"Peminat dari World Human Rights Awards ini cukup banyak, lebih dari 200 film dari seluruh dunia telah kita terima, tapi kemudian kita seleksi lagi jadi 59 film," lanjut Damien.

Film-film itu akan diputar sejak 21 hingga 27 Januari di Pusat Kebudayaan Rusia, Menteng. Semua film yang akan ditampilkan adalah film-film mengenai kisah pejuang HAM di seluruh dunia, seperti Before Spring, For My Children, People of Nowhere, Once Upon A Time There Was A Man, Black Sheep, dan masih banyak lagi.

Kebanyakan film itu berasal dari negara-negara di Timur Tengah seperti Mesir, Israel, dan Uni Emirat Arab. Swedia juga turut berpartisipasi.

"Nantinya, seluruh sineas dari film-film itu akan datang ke Indonesia pada 18 Januari," Damien menceritakan.

Sebenarnya, Damien sendiri sudah bergelut dan berandil besar dalam pembuatan festival film yang mengangkat isu sosial, seperti lingkungan, hak wanita, perdagangan manusia, dan lain-lain. Usaha Damien sebagai pencetus festival film semacam itu pun ditiru oleh negara-negara lain.

"Ini kita yang pertama kali mengangkat isu-isu sosial dalam festival film. Syukurnya, banyak negara yang terinspirasi dari usaha kita ini, sebut saja Amerika," paparnya.

Damien tidak sendiri, ia pun bekerja sama dengan Pusat Kebudayaan Rusia Jakarta, iHebat International Volunteers, Yayasan Peduli Anak Indonesia, World Film Council, serta Radio Republik Indonesia atau RRI.

Tidak hanya itu, World Human Rights Awards juga akan menampilkan World Documentary Award, Animation Award, serta pameran foto. Seluruh kegiatan ini akan dimulai dari jam 10 pagi hingga 6 sore selama 21 hingga 27 Januari di Pusat Kebudayaan Rusia.

Semua acara yang diselenggarakan oleh Damien ini tidak dipungut biaya sepeser pun.

(vga/vga)