Pesta Mantra Penggila Harry Potter di Jakarta

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Jumat, 05/02/2016 00:49 WIB
Pesta Mantra Penggila Harry Potter di Jakarta Indonesia ikut merayakan
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak seperti biasanya, toko buku di bilangan Senayan, Jakarta itu penuh pada Kamis (4/2) malam. Anak-anak muda berjejalan di pintu masuknya. Beberapa di antaranya mengenakan jubah hitam panjang. Ada yang bersyal merah kuning. Sebagian lagi sambil menggenggam tongkat sihir.

Mereka bukan gerombolan penyihir sungguhan yang hendak menginvasi Ibu Kota. Hampir 300 orang yang datang malam itu hanya penggemar Harry Potter, karakter penyihir fiktif yang diciptakan oleh imajinasi pengarang Inggris, JK Rowling.

Malam itu Indonesia ikut merayakan "Harry Potter Book Night," di tanggal yang sama seperti penggemar-penggemar negara lain. Mereka berkumpul, berbagi nostalgia cerita Harry Potter yang sudah rampung sejak 2007 silam itu. Sekaligus merayakan sebuah buku baru.

Harry Potter and the Sorcerer's Stone atau Harry Potter and the Philosopher's Stone yang dibahasaindonesiakan menjadi Harry Potter dan Batu Bertuah, diterbitkan kembali dengan edisi lebih luks. Hardcover, penuh warna, dan glossy. Lebih menarik lagi, ada ilustrasi.


Ada goresan wajah Harry serta dua sahabatnya, Ron Weasley dan Hermione Granger di beberapa halaman. Beberapa adegan juga diwujudkan dalam gambar oleh ilustrator asal Inggris, Jim Kay. Sampulnya pun tak lepas dari goresan tangan sang ilustrator.

Buku itu sebenarnya sudah ada sejak lama, sekitar Oktober tahun lalu. Namun edisi bahasa Indonesia baru diluncurkan hari ini. Bahkan, secara resmi sebenarnya baru ada di toko buku sejak 9 Februari mendatang.

"Ini karena ada acara saja. Di toko baru ada minggu depan. Tapi pre order sudah sejak bulan lalu, dan pemesanannya lumayan," ujar Diniarty Pandia, editor fiksi Gramedia Pustaka Utama kepada CNNIndonesia.com malam itu.

Pemesanan pre order mendapat diskon. Namun sekarang, pembelian sudah dengan harga normal, Rp349.500. Harga itu sudah sangat ditekan, karena kemasan buku tidak menggunakan kertas impor, meski sama-sama berwarna dan hard cover seperti terbitan Bloomsbury di sana.

Buku aslinya, yang juga dijual di Indonesia, berharga dua kali lipat lebih mahal, sekitar Rp700 ribuan. Dibanding Harry Potter edisi pertama yang terjual puluhan juta kopi di seluruh dunia, ada beberapa detail tambahan, seperti soal telur-telur naga. Sisanya ceritanya sama persis.

Tentang Harry, bocah yatim piatu berambut berantakan yang punya tanda petir di dahinya, mendapati dirinya ternyata seorang penyihir terkenal pada usia 11 tahun. Petualangannya pun dimulai.

Dini bercerita, hak penerbitan buku pertama Harry Potter edisi ilustrasi sebenarnya sudah ditawarkan kepada Gramedia sejak dua tahun lalu. Jika dirunut, itu artinya sesaat setelah Bloomsbury menemukan Kay sebagai ilustrator. Penuh pertimbangan, Gramedia menerima.

Prosesnya tak semudah biasa. Sebagai buku ilustrasi, penerbit sangat mengontrol soal kualitas warna, cetak, bahkan tata letak.

"Sinopsis pun diperiksa. Tata letaknya kurang sedikit, harus diubah," kata Dini. Namun itu semua hanya membutuhkan waktu sekitar satu sampai dua bulan kerja keras.

Kini, telah tersedia 3.000 eksemplar Harry Potter dan Batu Bertuah edisi ilustrasi. Perayaannya sekaligus berbarengan malam buku yang pertama kali digelar di Indonesia.

Selain berdatangan mengenakan kostum kebanggaan, para penggemar Harry Potter yang menyesaki toko buku di Senayan itu juga mengikuti serangkaian acara meriah. Mulai pembacaan sepenggal cerita dari buki Harry Potter edisi satu sampai tujuh, adu mantra, sampai adu cepat menemukan kata di TTS.

Yang jelas malam itu para penggemar Harry Potter bersuka cita di bawah tema acara: "A Night of Spells."

Harry Potter Book Night sendiri sebenarnya sudah menjadi acara tahunan di banyak negara. Para penggemar Harry Potter berkumpul setiap Kamis pertama bulan Februari. Lokasi penyelenggaraannya beragam, bisa toko buku, kantor penerbitan, sekolah, juga rumah.

Meski cerita Harry Potter telah tamat, imajinasi liar yang dipantik oleh Rowling ternyata tak pernah mati. Ada yang mewujudkan dengan film, gambar, kostum, taman bermain, sampai aksesori bahkan ramuan.

Kata Dionisius Wisnu, public relations Gramedia Pustaka Utama, "Sungguh menyenangkan malam ini para pembaca di Indonesia bisa ikut berbagi euforia dengan pembaca Harry Potter lain di seluruh dunia."

"Semoga Harry Potter akan terus menginspirasi generasi yang lebih muda supaya jangan berhenti membaca buku," Dion melanjutkan. (sur/sur)