Berbicara tentang karya sastra Indonesia masa lalu dengan sekarang, tentu ada perbedaan. Perbedaan itu bisa datang dari mana saja tergantung bagaimana kita memandang perbedaan tersebut. Yang pasti perbedaanlah yang berhasil membuat Indonesia bersatu pada masa lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eka berbicara seperti itu bukan tanpa bukti. Ia membuktikan dengan karya Pramoedya Ananta Toer dan Chairil Anwar yang merupakan produk lawas dan belum ada yang bisa melampauinya.
Penulis yang dinobatkan sebagai salah satu dari 100 pemikir paling berpengaruh di dunia oleh Jurnal Foreign Policy ini juga menghimbau bahwa kita tidak bisa menanggapi hal ini dengan pesimis. Walaupun mengalami penurunan (kualitas), tetapi penulis di Indonesia semakin beragam.
"Kita tidak bisa pesimis ya, karena pada saat yang bersamaan (saat penulis menurun) ada sesuatu yang menarik bahwa dalam sastra Indonesia selama tahun '70-an itu berkembang begitu banyak genre sampai sekarang. Mungkin hal itu terjadi karena ada faktor di negara ini yang mendorong penulis untuk mencoba hal baru."
Walau tidak terlalu mengikuti karya-karya Nh. Dini, Eka mengaku karya-karyanya yang berbau feminis bisa diterima masyarakat banyak. Menurutnya, feminisme merupakan ideologi yang bergantung pada bagaimana penulis menyampaikannya.
Penulis lainnya, Eka menyebutkan, nama Intan Paramaditha. Eka kagum dengan kepandaian Intan yang meramu feminisme dengan gaya gothic dan folklore.
(vga/vga)