Sastra Empat Era di Mata Eka Kurniawan

Andika Putra, CNN Indonesia | Senin, 29/02/2016 19:59 WIB
Sastra Empat Era di Mata Eka Kurniawan Eka Kurniawan (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Karya sastra Indonesia seakan tak pernah pudar dan tak lekang oleh waktu. Hal itu terlihat dari banyaknya pembaca yang masih menyukai karya-karya sastra masa lalu Indonesia. Bahkan banyak toko buku tua yang meminjamkan atau menjual karya sastra era '70-'90-an.

Berbicara tentang karya sastra Indonesia masa lalu dengan sekarang, tentu ada perbedaan. Perbedaan itu bisa datang dari mana saja tergantung bagaimana kita memandang perbedaan tersebut. Yang pasti perbedaanlah yang berhasil membuat Indonesia bersatu pada masa lalu.

Penulis asal kota Tasikmalaya, Eka Kurniawan, memaparkan mengenai penulis di Indonesia, pada era 1970 sampai 2000-an. Ia beranggapan telah terjadi penurunan (kualitas) penulis sepanjang empat dekade belakangan ini.


"Jujur, menurut saya, kalau dibandingkan [era 2000-an] dengan masa sebelumnya [era '70-an), ada sedikit penurunan. Konteks penurunan itu disebabkan oleh banyak faktor, seperti sosial politik dan represi Orde Baru," ujar Eka saat diwawancarai oleh CNN Indonesia.com, baru-baru ini.

Eka berbicara seperti itu bukan tanpa bukti. Ia membuktikan dengan karya Pramoedya Ananta Toer dan Chairil Anwar yang merupakan produk lawas dan belum ada yang bisa melampauinya.

"Mereka berdua itu produk '45, nyatanya selama 70 tahun ini belum ada yang bisa melampauinya. Itu fakta buruknya," lanjut Eka, serius.

Penulis yang dinobatkan sebagai salah satu dari 100 pemikir paling berpengaruh di dunia oleh Jurnal Foreign Policy ini juga menghimbau bahwa kita tidak bisa menanggapi hal ini dengan pesimis. Walaupun mengalami penurunan (kualitas), tetapi penulis di Indonesia semakin beragam.

"Kita tidak bisa pesimis ya, karena pada saat yang bersamaan (saat penulis menurun) ada sesuatu yang menarik bahwa dalam sastra Indonesia selama tahun '70-an itu berkembang begitu banyak genre sampai sekarang. Mungkin hal itu terjadi karena ada faktor di negara ini yang mendorong penulis untuk mencoba hal baru."

Walau tidak terlalu mengikuti karya-karya Nh. Dini, Eka mengaku karya-karyanya yang berbau feminis bisa diterima masyarakat banyak. Menurutnya, feminisme merupakan ideologi yang bergantung pada bagaimana penulis menyampaikannya.

Penulis lainnya, Eka menyebutkan, nama Intan Paramaditha. Eka kagum dengan kepandaian Intan yang meramu feminisme dengan gaya gothic dan folklore.

(vga/vga)