Realitas Perbukuan Kini: Intelektual vs Fesyen

Silvia Galikano, CNN Indonesia | Selasa, 17/05/2016 15:56 WIB
Realitas Perbukuan Kini: Intelektual vs Fesyen Ilustrasi (Pixabay/DariuszSankowski)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menghamparnya buku baru di toko buku bukan serta merta jadi indikasi budaya membaca kita semakin baik. Jika diteliti satu per satu, sebagian besar buku itu bersifat hiburan. Alhasil kalau sekarang mencari buku penting, tak akan mencari ke toko buku komersil, karena di sana tidak ada.

Pernyataan tersebut disampaikan wartawan yang juga penulis buku Seno Gumira Ajidarma kepada CNNIndonesia.com lewat sambungan telepon dari Solo, pada Minggu (15/5).

Klaim meningkatnya minat baca pun harusnya ditanyakan lagi: apa yang dibaca? Jika disebut-sebut sekarang orang suka buku puisi, tapi ke mana kita bisa membeli buku karya W.S. Rendra? Di jaringan toko buku besar tidak ada, pasti sudah dikembalikan, karena buku puisi tidak laku.


Begitu pun buku terjemahan yang seabrek-abrek tapi tak memiliki “harga diri.” Seno memberi contoh era dulu Sapardi Djoko Damono menerjemakah karya Ernest Hemingway, The Old Man and The Sea (Lelaki Tua dan Laut, Pustaka Jaya, 1983), sampul bukunya digambar pelukis Indonesia, seperti Wakijan atau Popo Iskandar.

Sekarang buku terjemahan John Grisham sama persis tampilannya dengan edisi bahasa Inggris. Demikian pula desain cover hingga komentar bahasa Inggrisnya, tapi ketika dibuka isinya berbahasa Indonesia.

Contoh lain, buku tentang Wali Songo yang semestinya sejarah tapi yang dituliskan mistiknya, meniru novel fantasi yang tokoh-tokohnya bisa terbang.

“Kondisi ini terjadi di seluruh penerbitan. Terbitan banyak tapi sangat tidak berkepribadian. Mau berjaya tapi mentalnya bermasalah,” ujar penulis novel Sepotong Senja untuk Pacarku.

Karena fenomena ini terjadi di seluruh jaringan toko buku besar, maka tempat berkumpulnya orang serius, yang menurut Seno jumlahnya masih banyak, bukanlah di toko buku. Karena dunia belajar intelektual berbeda sama sekali dengan dunia komersial, dan dunia intelektual tak terlayani oleh penerbitan komersial.

“Misalnya, kita sedang mendalami antropologi, mencari buku-buku Sigmund Freud, Carl Jung, itu semua tidak ada di jaringan toko buku besar, baik versi impor maupun terjemahan.”

Masa Reformasi sempat melonjakkan semangat membaca. Tiba-tiba saja banyak buku Karl Marx, Friedrich Nietzsche, walau sebagian di antaranya bajakan. Penerbit-penerbit kecil pun menjamur. Namun era tersebut hanya sebentar. Semangat itu tidak ada lagi sekarang.

Buku sejarah sosial atau sejarah politik, yang sekarang tersedia di jaringan toko buku besar, hanyalah hasil disertasi, padahal buku-buku teori juga diperlukan. Akhirnya, yang ingin belajar sosialisme atau postmodernisme, sangat mengandalkan internet.

“Habis gimana? Kalau tidak baca, bagaimana bisa?” kata Seno. “Cari buku The Postmodern Condition-nya Jean-François Lyotard di mana? Masa dengar-dengar? Paling klak-klik internet.”

Di jaringan toko buku impor, hal serupa juga ditemui. Kalau bicara buku baru, lengkap tersedia. Sastra klasik juga terbilang lengkap. Namun buku filsafat dan sejarah sangat terbatas.

“Andaipun ada, hanya buku sejarah versi pemenang. Mana ada di sana buku sejarah tentang Perang Dunia II yang ditulis Jepang?”

Menurut Seno, yang juga pengajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan Pascasarjana Universitas Indonesia, dunia perbukuan sudah dua kali sepi. Yang pertama, saat menghilangnya buku penting/buku standar, dan ke-dua, ketika posisi media buku sudah terambil alih oleh internet.

Apakah itu artinya kita kekurangan buku? Tidak juga. Kalau yang dimaksud bahan bacaan, semua tersedia di internet, tinggal pilih mana yang perlu, dicetak untuk jadi buku fisik bagi keperluan pribadi.

Penerbitan buku komersial semacam teen lit, fan fiction, religi, hingga buku ringan yang ditulis selebriti, disebut Seno, tak lebih dari fesyen dan tidak pernah mendekati intelektualisme yang serius. Inilah realitas dunia perbukuan yang tak dapat dihindari, bahwa yang marak sekarang adalah buku sebagai hiasan.

“Sama saja dengan jilbab. Orang alim bukan hanya sekarang. Memang orang zaman dulu tidak alim? Tahun 1920-1940, religiositas sudah ada, tapi bukan untuk fesyen.”

Book club yang pernah jadi kegiatan hangat, ironisnya menjadikan fesyen pula sebagai titik berangkat. Topik obrolan yang diminati adalah tentang penulis perempuan, sastrawati wangi. Walau tak ada yang salah, namun menurut Seno, itu bukan intellectual discourse yang benar.

“Walau begitu, kita perlu punya banyak komunitas perbukuan, karena dari komunitaslah penulis dilahirkan. Semakin banyak komunitas terbentuk, semakin besar juga potensi lahirnya penulis.”

Seno menangkap fenomena semangat menulis yang sedang tinggi sekarang. Siapa saja berani menulis dan membuat buku. Pasalnya, dulu, yang berani menulis hanyalah orang yang berprofesi sebagai penulis.

Dari banyaknya penulis baru yang muncul, taruhlah 100 penulis baru, nanti hanya lima penulis yang bertahan, dan dia bertahan karena kualitas. Apakah ini gejala positif? Tentu saja!

(sil/vga)