Wregas sudah mendapat ganjaran ribuan Euro. Tapi ia masih berambisi menayangkan film berbahasa Jawa tersebut di kancah internasional lainnya. Alumnus IKJ itu menargetkan, Prenjak bisa diputar di Festival Film Toronto dan Festival Film Busan.
Kedua festival itu akan dibuka dalam waktu dekat. Namun, sampai saat ini Wregas belum mendaftar ke kedua festival bergengsi itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami selalu menganggap Cannes adalah festival nomor satu di dunia. Puncak pencapaian adalah Cannes, karena selain tertua, banyak sekali maestro film yang berkompetisi di sana. Semua orang dari belahan dunia datang ke sana untuk menonton," ujar Wregas menjelaskan.
Setelah berjaya di satu festival dan akan meneruskan ke festival lain, Wregas menegaskan ia tidak akan membawa Prenjak ke ranah bioskop komersil. Ia berpendapat, karyanya akan benar-benar diapresiasi dan dipahami masyarakat melalui festival.
"Itu wadah yang baik bagi saya untuk berkarya, daripada saya mengetuk satu-satu pintu bioskop kemudian menawarkan film yang telah saya buat. Apalagi, ajang festival sangat baik untuk menceritakan pesan yang ada di dalam film ini, mengingat di dalamnya ada realita yang ingin kami curahkan," ujarnya.
Apalagi penonton festival film biasanya dari berbagai negara. Jangkauan Wregas bercerita pun bisa jauh lebih luas ketimbang komersil.
Wregas menuturkan, Prenjak berangkat dari pengalaman salah satu temannya yang harus membesarkan anak sejak kelas tiga SMP tanpa kehadiran seorang ayah. Perjuangan itulah yang menginspirasi Wregas membuat Prenjak.
Prenjak berkisah tentang perempuan beranak satu bernama Diah, yang karena sangat membutuhkan uang, maka menjual korek api kepada rekan kerjanya, Jarwo. Korek api itu dijual Rp10 ribu per batang, tapi pembelinya mendapat bonus melihat anggota tubuhnya. (rsa)