Ondel-ondel, Warisan Jakarta yang Tergerus Waktu

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Rabu, 22/06/2016 15:00 WIB
Ondel-ondel, ikon Suku Betawi, kini semakin tergerus modernisasi. Dulu jadi bagian dari seni eksklusif Betawi kini bertahan di jalanan. Riwayat Ondel-ondel semakin getir, dulu dianggap penolak bala dan seni eksklusif, kini tak lebih dari sekadar boneka untuk mencari recehan rupiah. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sudah setahun terakhir Hasanuddin berpikir keras untuk menjalankan usaha warisan orang tuanya, ondel-ondel. Pria ini harus menerima kenyataan sepi tawaran manggung bagi kesenian Betawi yang makin tak terdengar nyaring di tanahnya sendiri, Jakarta.

Bahkan Hasanuddin sudah tak berdiam di tanah leluhurnya. Sebagai orang Betawi asli, dan menjadi satu-satunya pewaris darah seni orang tuanya, Hasanuddin harus tinggal jauh dari tepi dan semarak ibu kota, ia tinggal di pedalaman Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Keringnya tawaran manggung bagi kelompok kesenian Betawi yang ia miliki sudah berlangsung selama beberapa tahun. Namun yang terparah, menurutnya, adalah sepanjang 2016 ini ondel-ondel miliknya sepi panggilan.


"Dahulu sebulan setidaknya dua kali panggilan. Sekarang kadang satu per bulan, bahkan sudah tiga bulan baru ada satu panggilan," kata Hasan, sapaan akrabnya, saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, di kediamannya, beberapa waktu lalu.

Hasan pasrah kesenian yang diwariskan orangtua hanya kepadanya itu harus tersaingi oleh kesenian modern. Sejak mulai mengikuti jejak bapak-ibunya menjadi seniman saat duduk kelas 1 Sekolah Dasar, Hasan kini nyaris tak lagi merasakan manisnya kemeriahan rezeki semeriah acara Betawi.

Padahal, dalam satu kali pentas, Hasan juga tak banyak mengambil untung. Sepasang ondel-ondel ia tarik biaya Rp2,5 juta untuk sekali tampil selama 2,5 jam. Dibagi dengan anggota tim sejumlah 13 orang lalu ditambah biaya akomodasi, Hasan hanya mendapat untung Rp100 ribu, di era saat ini.

Sejak mulai memimpin grup kesenian yang kini bernama Duta Cilik Bulan Purnama saat usianya 17 tahun sepeninggal sang Ayah, Hasan sudah pernah mengecap ngamen di jalanan. Kala itu, di era 1998-1999, kelompok Hasan ngamen dari kampung ke kampung memainkan alat musik gambang kromong.

"Saya terinspirasi dari prestasi orang tua sebagai seniman. Meski kadang pekerjaan seniman dianggap sebelah mata, namun malah banyak dipercaya juga," tutur Hasan.

Hasan sudah pergi pagi-pagi dari rumahnya di Kemayoran bersama timnya. Mulai dari hanya dibayar Rp1500 perak per lagu, dikejar penduduk kampung dengan golok karena dianggap berisik, sampai pulang tengah malam dan mendapati rumahnya tergenang banjir, sudah pernah ia rasakan.

Ia saat itu hanya ngamen melalui gambang kromong, karena sejatinya, ondel-ondel hanya dikeluarkan di momentum resmi seperti peresmian gedung, pernikahan, atau sunatan. Saat itu pula, kelompok Hasan adalah satu dari sedikit kelompok kesenian Betawi yang memiliki ondel-ondel seantero Jakarta.

"Saat itu saya bertekad, saya tidak ingin mengamen lagi," kata Hasan mengenang.
budaya Betawi, Hasanuddin saat ditemui di rumahnya di Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Masa Kejayaan

Menghadapi masa sulit saat muda mengantarkan Hasan dewasa jadi 'juragan' kesenian. Ia sempat mendapatkan banyak tawaran manggung dan pentas, baik dari masyarakat atau instansi.

Bahkan, Hasan pernah merasakan suasana beberapa negara berkat kesenian Betawi, termasuk ondel-ondel. Kala itu, Dinas Pariwisata Pemerintah Provinsi DKI Jakarta rutin mengajak Hasan dan kelompoknya menjadi duta budaya mengenalkan budaya Betawi kepada dunia luar.

"Saya pernah ke Libya, Belanda, dan juga ikut acara kebudayaan di Shanghai, China. Semua diajak Pemda saat itu," kata Hasan. "Kalau di dalam negeri, setiap tahun ada acara budaya di Bali pasti ikut.”

Berbagai tawaran pun membanjiri Hasan. Ia lalu melebarkan sayap membentuk kelompok lenong dengan harga Rp15 juta setiap tampil berisikan 25 pemain dan kru yang siap menghibur hingga durasi tujuh jam. Hasan malah sudah menyiapkan beraneka paket kesenian untuk berbagai keperluan dan acara.

Bahkan Hasan pernah harus mengurus sembilan penampilan sekaligus dalam satu acara. Ia mengirimkan dua kelompok gambang kromong, dua tim ondel-ondel, dua tim calung, dan tiga tim tari Betawi dalam acara Jakarta Marathon pada 2013 lalu.

Dan ia pernah membantu penyelenggaraan rekor MURI untuk sebuah restoran waralaba dengan menghadirkan 125 pasang ondel-ondel. Upaya nekat yang menarik berbagai tenaga di sekitar rumahnya tersebut berhasil dikerjakan hanya dalam waktu lima hari. Sisa dari ondel-ondel tersebut, ia jual secara bebas bagi siapa saja yang ingin membeli.

"Karena ada rezeki dan merayakan sunatan anak saya, saya adakan pertunjukan lenong di sini, di kampung Sunda, selama dua hari dua malam, sebagai bukti dari kebudayaan Betawi," kenang Hasan.
Dulu, ondel-ondel identik dengan perayaan acara resmi, namun kini semakin banyak ditemui di jalanan. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni
Berakhir di Jalanan

Namun masa kejayaan tersebut kini hanya bisa dikenang dari album foto dan peralatan yang membisu di gudang di samping tempat tinggal Hasan beserta mertua dan istrinya. Hasan kini harus kembali pontang-panting mengurus sanggarnya di Kemayoran dari rumahnya, 60 kilometer dari Jakarta.

Hasan sadar ia kini tak banyak bisa menjamin pendapatan ke-50 anggota sanggar yang ia miliki. Maka ia pun tak heran, bila ondel-ondel yang ia anggap harusnya digunakan pada acara resmi justru kini mulai menari-nari di pinggir jalan. Ia sadar, di antara para pengamen ondel-ondel itu bisa jadi saudara, kolega, atau karyawannya sendiri.

"Saya tidak senang dengan adanya pengamen ondel-ondel di jalanan tersebut. Sedih rasanya. Saya punya cita-cita mengangkat kesenian ini dan ondel-ondel bisa jadi maskot dari Betawi juga Jakarta," kata Hasan. "Tapi kalau sekarang ada di jalanan, susah mengangkatnya lagi,"

Hasan mengetahui persis makna ondel-ondel yang seharusnya berfungsi sebagai penolak bala, kini tak lebih dari sekadar boneka untuk mencari recehan rupiah. Ia tak mengerti mengapa mengamen akhirnya menjadi pilihan bagi para seniman dalam mencari sesuap nasi, di sisi lain, masih ada pekerjaan lainnya selain menggadaikan seni dan budaya.

Keberadaan para pengamen tersebut ternyata juga berimbas kepada Hasan. Banyaknya pengamen ondel-ondel hanya modal spanduk tersebut ternyata membuat sanggar Hasan sedikit dipertanyakan keasliannya oleh para calon pelanggan.

Hasan dan istri pun harus rela menjelaskan berkali-kali bahwa mereka bukan pengamen. Berulang kali pula Hasan mencoba menasihati para pengamen ondel-ondel tersebut. Namun apa daya, urusan perut masih jadi masalah bagi kaum seniman marjinal ibukota.

"Sebenarnya yang saya harapkan kesenian ini benar dapat kesejahteraan dari pemerintah, beda dari kondisi seperti dahulu. Saya juga ingin anak muda mengenal kesenian di DKI ini seperti apa, bukan hanya kenal pop, rock, dangdut," kata Hasan.

"Yang dibutuhkan seniman hanyalah adanya acara. Selain jadi sumber pemasukan dan menjamin kelangsungan hidup, penyelenggaraan adalah cara mengembangkan kesenian. Kalau bukan dari penyelenggaraan, dari mana lagi?" lanjutnya.

Hasan selalu bercita-cita melihat seniman Betawi, seperti ia sendiri, memiliki ruang berekspresi dan pendapatan di berbagai ruang publik atau jasa yang menjamur di Jakarta. Ratusan hotel dilihat Hasan dapat menjadi salah satu peluang memberikan ruang berkembangnya kebudayaan daerah di tengah gerusan budaya asing agar tak punah di telan zaman.

"Kami semua para seniman siap. Karena kalau ada ruang seperti itu pasti bisa berkembang. Sekarang kalau pemerintahnya tidak mendukung, ya tidak bisa maju padahal kebudayaan ini terlindungi dari segi hukum. Saya hanya takutnya ini semakin punah," kata Hasan.

Kini, di tepian jauh dari ibu kota, Hasan masih merawat warisan kebudayaan nenek moyangnya. Hasan mengakui ia tak ingin anaknya menjadi seniman, lantaran kesejahteraan seniman belum terjamin di negeri ini. Namun Hasan tak bisa mengelak, salah satu anaknya yang masih tiga tahun kini mulai menunjukkan darah seni yang ia wariskan. Setidaknya, masih ada harapan pewaris pengetahuan kebudayaan dari nenek moyang Hasan. (les)