Berpesta Sosis dan Kerak Telor di Festival Condet

CNN Indonesia/Gautama Padmacinta, CNN Indonesia | Minggu, 31/07/2016 19:47 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Pamor Condet sebagai kawasan cagar budaya Betawi telah lama memudar. Festival Condet pun kehilangan ikon klasiknya yang khas.

Festival Condet digelar di kawasan cagar budaya Betawi di Jakarta Timur sejak Sabtu kemarin (30/7) hingga pengujung malam ini, Minggu (31/7). Acara yang berlangsung di seruas Jalan Raya Condet ini digagas oleh Yayasan Cagar Budaya Betawi Condet.
Berbagai acara dan pertunjukan khas Betawi di gelar di Festival Condet, dari marawis, lenong betawi, kirab budaya, sampai silat. Salah satunya, dipersembahkan oleh bocah dari Persatuan Silat Muara Condon. Tentu saja tidak ketinggalan sajian kuliner khas Betawi.
Penjual kerak telor banyak dijumpai di Festival Condet. Makanan khas Betawi ini terbuat dari beras ketan putih, telur ayam, ebi, yang disangrai kering, ditambah bawang merah goreng. Lalu, ditaburi 'topping' berupa kelapa sangrai, cabai merah, kencur, jahe, merica, garam dan gula pasir.
Kerak telor boleh dikatakan 'primadona' Festival Condet, karena makanan khas Betawi lain, macam sayur asem, nasi uduk, kembang goyang, serta kue-kue khas lain terbilang langka di acara ini. Kebanyakan stan malah menjual makanan Barat macam sosis panggang dan kentang goreng.
Banyaknya stan sosis dan makanan modern lain membuat beberapa pengunjung yang berdatangan dari berbagai kawasan, antara lain Cibubur dan Tanjung Priok, merasa kecewa lantaran tidak menemukan ikon khas Condet, termasuk buah duku dan salak yang dahulu sangat terkenal.
Untung saja, para pengunjung masih bisa mendapati emping atau keripik melinjo. Selain dijual secara eceran, juga dilombakan. Pesertanya, warga Condet, sebagian besar kaum ibu. Dengan telaten mereka menyanggrai, mengupas, memipihkan, dan menjemur melinjo, sebelum menggorengnya.
Tua muda antusias mencicipi emping, juga dodol Betawi. Sekalipun stan makanan modern seperti sosis panggang mendominasi Festival Condet, toh tak melunturkan kecintaan dan kerinduan para pengunjung terhadap makanan ikonik khas Betawi, termasuk emping dan dodol.
Selain deretan stan, beberapa toko atau ruko di sepanjang Jalan Raya Condet juga membuka selasarnya untuk dijadikan panggung hiburan. Tak hanya menonton, para pengunjung yang berkerumuman di muka panggung juga menantikan pembagian hadiah dari para penampil, antara lain kaus.
Semasa Gubernur Ali Sadikin, Condet ditabalkan sebagai kawasan cagar budaya Betawi dengan segala kekhasannya. Namun kini agaknya ciri khas Betawi yang masih tersisa hanya kesenian. Sementara ciri khas arsitektur Betawi sampai perkebunan duku dan salak nyaris tidak bersisa.
Pada pagi hari, Jalan Raya Condet masih relatif sepi, sehingga memungkinkan digelar pawai budaya di Festival Condet yang menampilkan berbagai wujud kesenian, termasuk tarian Sirih Kuning. Menjelang siang, kerumuman pengunjung benar-benar padat, langkah kaki pun tersendat.
Selain di pawai budaya, kesenian juga digelar di panggung-panggung yang dibangun di selasar toko atau ruko. Tak sedikit pengunjung mencari-cari pertunjukan Ondel-ondel. Namun mereka hanya menemui Ondel-ondel yang dipajang, tidak dipanjak. Akhirnya mereka berfoto bersama si Ondel-ondel.
'Spider-man' membawa anak-anak berkeliling naik kereta-keretaan. Festival Condet memang ramai dijejali ribuan pengunjung. Namun festival ini tidak banyak menampilkan kekhasan Betawi maupun Condet. Padahal banyak orang merindukan Condet yang dulu, dengan segala pesonanya sebagai cagar budaya Betawi.