Kehidupan Ondel-Ondel Jakarta

Andry Novelino, CNN Indonesia | Rabu, 22/06/2016 19:52 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Ondel-Ondel di Jakarta maknanya semakin lama semakin bergeser. Dulu, Ondel-Ondel berfungsi sebagai penolak bala kini cara mengais rupiah.

Seorang anggota pengamen ondel-ondel sedang memakaikan boneka ondel-ondel ke anggota lainnya yang bertugas mengenakannya. Profesi pemanggul Ondel-Ondel ini disebut Panjak. 
Kini, Ondel-Ondel kerap ditemui di jalanan. Umumnya, Ondel-Ondel diarak pengamen secara berkelompok. Salah satunya adalah kelompok pengamen Budi yang berasal dari daerah Senen. Mereka mulai berangkat mengamen sejak pukul 5 pagi dari Senen berjalan ke daerah selatan Jakarta. 
Setiap harinya, kelompok pengamen Ondel-Ondel ini selalu membagi hasil yang mereka dapat secara merata. Dulu, Ondel-Ondel banyak disewa untuk kegiatan besar, namun kini permintaan banyak menurun. 
Layaknya manusia, Ondel-Ondel juga memiliki jenis kelamin. Wajah Ondel-Ondel laki-laki akan dicat dengan warna merah. Sedangkan wajah Ondel-Ondel perempuan akan dicat dengan warna putih.
Boneka Ondel-ondel dibuat dari anyaman bambu dengan tinggi sekitar 2,5 meter dan diameter kurang lebih 80 cm. Dibuat sedemikian rupa agar orang yang memikul boneka tersebut leluasa. Rambutnya terbuat dari ijuk dan kertas warna-warni.
Bukan hal mudah mengarak Ondel-Ondel berkeliling Jakarta. Ondel-Ondel dari kayu, punya berat sekitar 10 kilogram. Boneka besar dengan dekorasi meriah itu kemudian diarak dengan iringan musik khas Betawi yang dimainkan dengan alat musik seperti tehyan, kendang, knong, gong, dan kecrek.  
Ondel-Ondel memang merupakan ciri khas budaya Betawi, kerap hadir di berbagai acara provinsi DKI Jakarta. Namun kini kemunculannya tidak lagi sebagai ikon budaya. Namun lebih banyak ditemukan sebagai cara mengais rejeki. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Dari ikon budaya Betawi, Ondel-Ondel di Jakarta maknanya semakin lama semakin bergeser. Dulu, Ondel-Ondel berfungsi sebagai penolak bala kini cara membuat dapur tetap mengepul. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)