Film yang Membuka Luka Lama Israel

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Selasa, 11/10/2016 10:38 WIB
Film yang Membuka Luka Lama Israel Ilustrasi Israel. (REUTERS/Amir Cohen)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sutradara kenamaan Israel, Amos Gitai akan membawa pencinta film kembali ke tragedi pembunuhan paling bersejarah di negara konflik itu. Kantor berita AFP melaporkan, Gitai baru membuat film tentang Perdana Menteri Yitzhak Rabin.

Sebelumnya ia sudah pernah membuat film dokumenter dengan isu yang sama. Judulnya Rabin, The Last Day. Dokumenter itu menampilkan 24 jam terakhir sebelum sang mantan jenderal dibunuh oleh seorang ekstremis Yahudi pada 1995.

Pembunuhan itu dilatarbelakangi aksi Rabin yang memperjuangkan perdamaian Israel dan Palestina. Sewaktu menjadi perdana menteri, ia banyak menjalin kesepakatan dengan petinggi Palestina, menjadi bagian dari 'Oslo Accords.'


Ia juga menyerukan perdamaian di Yordania. Atas tindakannya itu, Rabin memenangi Nobel Perdamaian pada 1994, bersama Shimon Peres yang baru meninggal beberapa pekan lalu, dan pemimpin Palestina Yasser Arafat.

Tapi Yigal Amir yang menjadi oposisi atas keputusan perdamaian itu, justru membunuhnya. Rabin pun menjadi satu-satunya perdana menteri di Israel yang dibunuh. Ia ditembak usai menggelar konvoi perdamaian di Tel Aviv.

Rabin pun kemudian menjadi simbol proses perdamaian Israel dan Palestina.

Dalam film yang digarap Gitai, berjudul Yitzhak Rabin, Chronicle of an Assassination, pembunuhan Rabin akan diceritakan lewat kaca mata istrinya. Film itu akan dirilis pada pekan ini di Avignon Festival di Perancis.

Leah, istri Rabin diperankan oleh bintang berdarah Perancis dan Israel, Sarah Adler dan aktris Palestina Hiam Abbass. Leah, yang meninggal pada 2000, sebeumnya sempat diwawancara panjang oleh Gitai. Ia dikenal sangat setia dan sabar mendampingi suaminya, dan menyuarakan perdamaian dari dirinya sendiri.

Akan ada satu adegan dalam film itu, di mana Leah mengatakan bagaimana malam sebelum pembunuhan ada sekitar 50 aktivis sayap kanan di dekat rumah mereka. Salah satu dari aktivis yang berkumpul itu adalah sang pembunuh, Amir.

Pembunuhan itu dianggap sebagai tragedi pribadi bagi keluarga Rabin sekaligus bencana sejarah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Film Yitzhak Rabin, Chronicle of an Assassination disebut akan membuka luka lama sejarah Israel.

Gitai sendiri memang ’mengidolakan’ Rabin. Dikenal menyutradarai Kadosh dan Kippur, ia menganggap sosok itu sebagai pahlawan. Dua dekade setelah kematian Rabin, sang sutradara tetap mengakui kekuatan Rabin membawa perubahan.

Ia menyebut Rabin sebagai ‘satu-satunya alternatif bagi mereka yang sekarang memegang kekuasaan.’

“Saya tahu saya menyentuh subjek yang sangat sensitif bagi Israel. Hanya beberapa hari lalu di festival di Jerusalem, Menteri Budaya Miri Regev menuding artis-artis Israel menjadi ‘kuda troya’ musuh,” ujarnya pada AFP.

Ia berharap filmnya bisa menjadi pesan universal, bukan hanya bagi negaranya yang bermasalah. “Menonjolkan kebencian telah menjadi jalan untuk terpilih di seluruh dunia sekarang, ketika Anda melihat Donald Trump di Amerika Serikat dan apa yang terjadi di Eropa, Israel, serta Timur Tengah,” ia mengatakan. (rsa/rsa)