Menikmati Seni Instalasi dengan Lima Panca Indra

Resty Armenia, CNN Indonesia | Jumat, 28/10/2016 05:14 WIB
Menikmati Seni Instalasi dengan Lima Panca Indra Sembilan seniman asal Korea Selatan dan Indonesia menyodorkan karya seni instalasi yang dapat dinikmati dengan lima panca indra sekaligus. (Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Selama ini para penikmati seni sebagian besar melakukan aktivitasnya dengan menggunakan indra penglihat dan pendengar, misalnya saat memandang lukisan atau mendengar konser musik dan teater.

Bagaimana jika kemudian hadir pameran yang membuat mereka dapat menggunakan lima panca indra sekaligus?

Inilah yang disuguhkan pameran bertajuk Pameran Seni Media Instalasi Korea-Indonesia, 'Dialogue with the Senses' (Dialog dengan panca indra) yang berlangsung di Galeria Fatahillah, Jakarta Barat dari 21 Oktober hingga 3 November 2016.


Pameran seni kontemporer yang diusung Arcolabs ini menghadirkan karya terbaru dari sembilan seniman muda asal Indonesia dan Korea Selatan.

"Karya seniman Korea umumnya mengandalkan indra penglihat, pendengar, dan peraba. Sementara karya seniman Indonesia menekankan pengalaman pencium dan perasa," ujar Jeon Jeongok, kurator pameran saat ditemui di Galeria Fatahillah, Jakarta.

Ia menambahkan, dalam pameran kali ini, seniman Indonesia cenderung menghadirkan instalasi konseptual dan karya berbasis obyek. Sementara, karya seniman Korea berbasis media teknologi seperti komputer, internet, sensor, video, dan proyektor.

Dari keseluruhan, beberapa karya yang dipamerkan kemudian dapat dibagi atas dua. Yang pertama, bersifat interaktif, yang menuntut kontak fisik atau pengoperasian langsung oleh pengunjung. Lainnya, bersifat parsipatoris, yakni yang mengundang pengunjung menjadi pelaku dalam karya yang dipamerkan.

Seluruh karya seakan memancing reaksi emosi dan luapan psikologis melalui pengalaman rangsangan sensoris, sehingga tubuh memainkan peran utama dalam memahami tiap karya.

Dialogue with the SensesSalah satu karya yang dipamerkan dalam Pameran Seni Media Instalasi Korea-Indonesia, 'Dialogue with the Senses'. (Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia) 

Pengalaman lima panca indra

Sesuai dengan tema yang diusungnya, pameran ini lalu bertujuan untuk mengeksplorasi 'pengalaman sensoris' para penikmat seni.

Hal ini sudah dapat dirasakan saat memasuki ruang pameran, dengan hadirnya mural anamorphic berjudul Games of the New Emerging Forces Badminton Series 1 dan Cycling Series 1 (2016) karya seniman asal Yogyakarta Anang Saptoto.

Pendekatan anamorphic atau biasa disebut proyeksi perspektif ini, menurut Anang, memainkan jarak pandang dan perspektif, sekaligus menyajikan ilusi optik sebagai efek yang dapat dinikmati pada bentuk karya manapun.

Karya tersebut cukup memikat indra penglihatan karena ukurannya yang besar dan wujud siluet atlet yang terlihat sangat nyata jika dilihat dari perspektif yang benar. Pengelola pameran menempatkan poin penanda, di mana pengunjung bisa mengambil foto dari perspektif tersebut.

Selanjutnya, pengunjung akan diajak menggunakan indra pendengar dan peraba sekaligus oleh seniman asal Korea Selatan, Park Seungsoon, yang berjudul Aquaphonics V2 (2015).

Bentuk karyanya adalah instalasi bunyi, aliran air, sensor, dan pipa PVC yang dimainkan dengan cara mengendalikan kecepatan laju cairan dalam beberapa pipa.

Untuk menikmati seni ini, pengunjung bisa mencelupkan jarinya ke dalam baskom-baskom kaca yang berisi air dan menempelkan jari lainnya ke lakban yang tersambung dengan sensor. Dengan begitu, akan keluar bebunyian berbeda yang indah. Tema bebunyiannya adalah air dan gamelan Jawa.

Indra penglihat, peraba, dan pengecap akan digunakan saat menikmati karya instalasi patung buatan seniman asal Yogyakarta Elia Nurvista yang berjudul Sucker Zucker yang kurang lebih berarti 'eksploitasi gula'.

Karya seni ini membawa pengunjung kepada kilas balik sejarah kolonial terkait gula, termasuk soal kekuasaan, modal, dan eksploitasi buruh.

Uniknya, bongkahan patung gula yang dibentuk seperti batu permata berwarna-warni ini benar-benar bisa dikecap oleh pengunjung. Tak sedikit pengunjung yang bingung ketika diberi tahu bahwa mereka bisa benar-benar mengecap rasa karya seni ini.

Dialogue with the SensesMural Games of the New Emerging Forces Badminton Series 1 dan Cycling Series 1 (2016) karya seniman asal Yogyakarta, Anang Saptoto memainkan jarak pandang dan perspektif. (Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia)

Karya lain yang tak kalah berkesan adalah milik seniman asal Negeri Ginseng Choi Sukyoung yang berjudul Interactive Seesea Drawing (2016). Di sini, pengunjung diajak Sukyoung berinteraksi dan bermain dengan cara 'mengisi kembali' bawah laut yang mulai punah.

Kepekaan dan kecintaan Sukyoung terhadap alam menggugahnya untuk berbagi kepedulian terhadap pentingnya lingkungan. Pengunjung diajak menggambar hewan-hewan bawah air yang terancam punah pada kertas. Hasil gambar tersebut nantinya akan dipindai dan diproyeksi, seakan kembali hidup.

Meski Sukyoung ingin pengunjung menggambar hewan laut yang hampir punah, kenyataannya banyak pengunjung yang menyalurkan bakat seni rupanya dengan menggambar benda-benda lain, seperti pizza, Tugu Monas, dan lain sebagainya.

Selain keempat karya seni di atas, pengunjung juga bisa menikmati karya instalasi video milik Ricky 'Babay' Janitra yang berjudul Illogical Room, karya The Trio Angels (Tiga Bidadari) milik Heri Dono, karya instalasi media campuran berjudul Rasarumah milik Fajar Abadi, karya instalasi interaktif milik Kim Hyungjoong, dan karya instalasi delapan kanal animasi 3D dengan bunyi berjudul Obsession/Love Forever milik Lee Hyerim. (rah)