Raden Mandasia dan Playon Raih Kusala Sastra Khatulistiwa

Rahman Indra, CNN Indonesia | Jumat, 04/11/2016 14:23 WIB
Raden Mandasia dan Playon Raih Kusala Sastra Khatulistiwa Karya prosa Yusi Avianto Pareanom dan puisi F. Aziz Manna itu menjadi pemenang dalam gelaran ke-16 penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini. (Foto: Dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK), yang sebelumnya dikenal dengan nama Khatulistiwa Literary Award (KLA) telah memilih dua pemenang, masing-masing kategori prosa dan puisi, pada Kamis (3/11).

Novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi karya Yusi Avianto Pareanom dinobatkan sebagai pemenang kategori prosa, sementara, Playon karya F. Aziz Manna menjadi pilihan juri kategori puisi.

Pengumuman pemenang dari kedua karya tersebut disampaikan panitia KSK di Atrium Plasa Senayan, Jakarta, pada Kamis (3/11).


"Kami penyelenggara Kusala Sastra Khatulistiwa sangat senang bahwa setiap tahun ditemukan penulis-penulis yang karyanya layak dibaca lebih banyak pembaca," ujar Richard Oh, pendiri Kusala Sastra Khatulistiwa saat dihubungi di Jakarta usai pengumuman penghargaan.

Yusi dengan Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi sebelumnya bersaing dengan empat karya lainnya di 5 besar yakni, O karya Eka Kurniawan, Si Janggut Mengencingi Herucakra karya A.S. Laksana, Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-pohon? karya Eko Triono dan Genduk karya Sundari Mardjuki.

Sebelumnya, Yusi telah menulis Rumah Kopi Singa Tertawa (2010), dan A Grave Sin #14 and Other Stories (2015).

Sementara itu, Aziz Manna unggul dari empat nominasi puisi lainnya, yakni Ibu Mendulang Anak Berlari karya Cyntha Hariadi, Sergius Mencari Bacchus karya Norman Erikson Pasaribu, Kawitan karya Ni Made Purnama Sari dan Buku Tentang Ruang karya Avianti Armand.

Aziz sebelumnya pernah menulis antologi puisi Menguak Tanah Kering (2000), Izinkan Aku Menciummu (2006), Siti Nurbaya dan Kisah Para Pendatang (2010).

"Setelah 16 tahun perhelatannya, saya melihat lanskap kesenian yang tak banyak mengalami perubahan," ungkap Oh dalam pengantarnya.

Namun, tentu saja, kata dia, ada beberapa berita menggembirakan seperti karya-karya sastra yang mulai mendapat perhatian dunia.

Hizkia Yosie Polimpung, ketua juri KSK ke-16 dalam pengantarnya menyampaikan bahwa para juri saling menanyakan batasan dikotomi antara sastra 'populer' dan sastra yang 'serius'. Mereka lalu mencari-cari apa yang mempersamakan keduanya.

Ada satu hal yang cukup sintomatik, yaitu mewabahnya nostalgia, dalam artian kerinduan ingin pulang yang menyakitkan.

Para juri menilai karya sastra adalah proyek romantik, bukan sekadar permainan belaka pengisi waktu luang. Ia adalah yang serius dan bersikeras bahwa realitas yang ada tidaklah harus sebagaimana disajikan di depan mata. Ia menolak untuk begitu saja menerima abstraksi nostalgik yang mencoba menarasikan realitas.

Ia melankolis, selalu berpegang akan sesuatu yang tak pernah dimungkinkan untuk ada oleh tata-bahasa realitas. Ia fantastis, namun dalam bentuk yang bisa dipertanggungjawabkan. Ia erotis, tanpa keharusan mengumbar-umbar sensualitas. Ia menggugah kesadaran baru, tanpa perlu sibuk menggurui. 

Beberapa pertimbangan inilah yang kemudian menempatkan Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi dan Playon menjadi pilihan untuk pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini. (rah/rah)