Terpikat Karya Seni Ukir Suku Kamoro Papua

Resty Armenia, CNN Indonesia | Sabtu, 19/11/2016 17:36 WIB
Terpikat Karya Seni Ukir Suku Kamoro Papua Warga Mimika, Papua (ANTARA FOTO/Andika Wahyu)
Jakarta, CNN Indonesia -- Suku Kamoro kembali memamerkan ratusan karya seni ukirnya di Jakarta pada 19-20 November 2016. Setiap tahun suku ini rutin menggelar pameran serupa di Ibu Kota untuk menunjukkan kekayaan dan kelestarian budaya mereka, terutama di bidang seni ukir, anyam dan tari.

Karya seni ukir yang dipamerkan suku yang bermukim di pesisir pantai Kabupaten Mimika, Timika, Papua, ini sangat bervariasi, baik dari segi bentuk maupun ukuran. Ada karya yang berukuran mini, namun ada yang menyita ruang hingga sepanjang dua meter.

Sementara bentuknya sendiri ada yang berupa topeng roh, binatang, noken, tifa (alat musik khas Papua berbentuk seperti gendang), hingga senjata berburu. Persamaannya hanya satu: seluruh proses pembuatan dipastikan menggunakan bahan alami.


Sebanyak 270 produk akan langsung dijual kepada siapa saja yang berminat. Berkaca dari tahun-tahun sebelumnya, biasanya sekitar 80 persen barang yang dipamerkan selama tiga hari akan terjual. Harga barang-barang ini lumayan terjangkau, yakni berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp15 juta.

Pembina Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe Luluk Inarti mengungkapkan, bahwa organisasinya telah belasan tahun mendampingi Suku Kamoro untuk terus memupuk kebudayaan yang beragam dan menjaga eksistensi. Salah satunya, dengan membantu menjual karya seni ukir dan anyam yang dihasilkan oleh suku tersebut.

"Kalau barang ini ditumpuk, tidak ada gunanya juga. Lama-lama semangat mengukir mereka pudar. Kami menyelenggarakan acara semacam ini untuk membantu menjual produk mereka. Berapapun harga yang terjual dalam kegiatan ini, seluruhnya 100 persen kembali ke masyarakat," ujar Luluk di American Club, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Warga Suku Kamoro, tutur Luluk, bisa mengambil seluruh keuntungan penjualan, karena semua biaya teknis pembinaan dan pameran ditanggung oleh PT Freeport Indonesia sebagai bentuk tanggung jawab sosialnya kepada masyarakat sekitar yang terkena dampak operasional perusahaan. Pasalnya, tanah adat suku ini dipakai Freeport untuk membangun bandara, kantor administratif, dan lain-lain.

Luluk menjelaskan, setiap tahun keuntungan yang diperoleh masyarakat dari acara ini selalu naik cukup signifikan, baik secara moral maupun material. Secara material, ada tambahan pendapatan warga Suku Kamoro yang karyanya terjual. Sedangkan secara moral, masyarakat menjadi terus bersemangat untuk menghasilkan produk seni.

Selain masuk langsung ke kantor warga, papar Luluk, uang hasil penjualan juga dipakai untuk menghidupi sanggar-sanggar seni yang sudah ada di kampung agar tetap aktif, sehingga bisa dijadikan sebagai tempat penyimpanan produk dan pelatihan bagi anak muda.

Luluk bercerita, mulanya Suku Kamoro tidak tahu bahwa karya seninya diapresiasi oleh orang lain. Freeport lantas membeli sejumlah hasil ukiran yang dipakai untuk menghias kota. Selain itu, ribuan pegawai perusahaan asing yang menambang emas itu biasanya menginginkan suvenir jika mereka pulang ke daerah asalnya.

"Awalnya mutunya masih rendah, namun seiring berjalannya waktu, ada program pembinaan yang memperbaiki kualitasnya. Apalagi setelah kami bisa meyakinkan mereka bahwa kami bisa bantu jualkan ke kota, seperti di Jakarta. Mereka kan hadir juga dan bisa menyaksikan bahwa memang benar karyanya dihargai orang, timbul rasa bangga," katanya.

Wanita berusia 45 tahun ini berharap agar Suku Kamoro juga bisa lebih dikenal masyarakat Indonesia, bahkan dunia, sebagai salah satu suku besar di Papua. Selama ini, ucapnya, suku ini belum intens menggelar pameran di luar negeri. Beberapa tahun lalu pihaknya pernah mengirimkan wakil untuk pameran di Brasil dan Belanda.

"Kalau bicara soal Papua, orang hanya tahu Dani untuk gunung atau Asmat untuk pesisir selatan. Tidak ada yang tahu tentang Kamoro. Keinginan kami adalah nama Kamoro bisa sejajar dengan dua suku itu. Dan untuk disejajarkan itu, kami tampil melalui ukiran dan tarian. Papua ada 250 suku, tapi yang kita tahu mungkin beberapa saja," ujarnya.

Bakat Ukir Turun-Temurun

Ketua Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe Herman Kiripi menjelaskan, warga Suku Kamoro memiliki hak warisan seni dari garis keturunan ayah (patrilineal). Ia mengatakan, jika seseorang berasal dari keturunan yang nenek moyangnya adalah pengukir, maka orang itu pun memiliki fungsi secara adat sebagai pengukir. Selain pengukir, fungsi adat lainnya bisa berbentuk penari, penabuh tifa, dan lain sebagainya.

Ia bercerita, anak-anak Suku Kamoro yang berusia tujuh sampai delapan tahun akan melewati prosesi inisiasi adat yang menandakan bahwa mereka sudah memasuki usia harus membantu meringankan beban orangtua, misalnya dengan membantu mencari kayu bakar sendiri.

Selain itu, prosesi itu juga menandakan bahwa anak yang telah diinisiasi akan menerima warisan seni dari ayahnya. Jika sudah menguasai bakat seni ayahnya, maka anak tersebut juga diperbolehkan untuk mempelajari seni yang lain.

"Seperti saya, saya pengukir, pemukul tifa, dan penari. Anak saya harus mengikuti, harus turun-temurun. Moyang saya pengukir, jadi ikut menurun ke saya, sampai nanti cucu dan cicit. Jadi tidak semua warga bisa mengukir. Keterampilan bisa ditambah, tapi kalau moyangnya pengukir, ya pengukir semua," ujarnya.

Herman optimistis kebudayaan Suku Kamoro akan terus lestari, mengingat banyaknya anak muda di sukunya yang berminat untuk belajar kebudayaan aslinya, terlepas dari tanggung jawab hak warisan seni yang diturunkan kepada mereka.

"Kami kalau tidak memiliki kegiatan di tempat lain pada siang hari, misalnya bekerja, maka saya biasanya duduk dan mengukir. Anak saya pun melihat dan mencontoh. Dia harus lihat, supaya bisa paham. 'Oh kalau Bapak buat ini, saya harus bisa juga yang lebih bagus,'" katanya.

(vga/vga)