Yang Memukau di 'Jakarta Contemporary Ceramics Biennale 2016'
Rahman Indra | CNN Indonesia
Kamis, 08 Des 2016 19:01 WIB
Karya dari seniman keramik Malaysia, Awangko Hamdan ini kerap menjadi latar bagi pengunjung untuk diabadikan dan selfie.
Hamdan juga menjadi salah satu seniman yang ikut berpartisipasi dalam program residensi yang diusung JCCB 4. Ia berdiam di Studio Ahadiat Joedawinata Bandung, pada Agustus 2016.
Hasil karyanya, kemudian dibagi atas dua, sebagai pajangan di atas meja, dan beberapa karya lainnya disusun sedemikian rupa untuk menempel di dinding.
Hamdan juga menjadi salah satu seniman yang ikut berpartisipasi dalam program residensi yang diusung JCCB 4. Ia berdiam di Studio Ahadiat Joedawinata Bandung, pada Agustus 2016.
Hasil karyanya, kemudian dibagi atas dua, sebagai pajangan di atas meja, dan beberapa karya lainnya disusun sedemikian rupa untuk menempel di dinding.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karya seniman asal Bandung, Arya Pandjalu tersebut menjadi satu dari 41 seniman yang turut serta dalam pameran keramik kontemporer internasional bertajuk The 4th Jakarta Contemporary Ceramics Biennale yang resmi dibuka pada Rabu (7/12) malam.
Bertempat di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, pameran dengan tema 'Ways of Clay: Perspective Toward the Future' tersebut diikuti seniman dari dalam dan luar negeri, dan berlangsung hingga 22 Januari 2017.
Mengisi tiga gedung, A, B dan C milik Galeri Nasional, pameran ini merentang dengan menghadirkan beragam bentuk karya seni dari mulai pajangan di atas meja, hiasan dinding, instalasi seni, hingga video pendek yang merangkum proses kreatif dan kisah bercerita.
Para seniman yang turut serta tahun ini dibagi atas dua, yang berpartisipasi dalam program residensi, dan yang tidak.
Adapun seniman yang berpartisipasi dan ikut residensi, di antaranya ada Arya Pandjalu, Eddie Hara, dan Uji 'Hahan' Handoko dari Indonesia, Angie Seah (Singapura), Awangko Hamdan (Malaysia), Danijela Pivasevic-Tenner (Serbia-Jerman), Elodie Alexandre (Perancis-India), He Wenjue (China), Joris Link (Belanda), Jose Luis Singson (Filipina), Joseph Hopkinson (Wales-UK), Kawayan De Guia (Filipina), Ljubina Jocic nezevic (Serbia), Maria Volokhova (Ukraina-Jerman), Nao Matsunaga (Jepang-UK), Pei-Hsuan Wang (Taiwan), Richard Streitmatter-Tran (Vietnam), Ryota Shioya (Jepang), Soe Yu Nwe (Myanmar), dan Thomas Quayle (Australia).
Sementara, seniman yang tidak residensi, antara lain Agung 'Agugn' Prabowo, Heri Dono, Eddie Prabandono, Gita Winata, Nadya Savitri, dan Panca Dz dari Indonesia, serta Alice Couttoupes (Australia), Ane Fabricus Christiansen (Denmark), Antonella Cimatti (Italia), Clare Twomey (UK), Diego Akel (Brazil), Eva Larsson (Swedia), Geng Xue (China), Kyoko Uchia (Jepang), Kyungwon Baek (Korea Selatan), Masha Ru (Rusia-Belanda), Dina Roussou (Yunani-Belanda), Mohamad Rizal Saleh (Malaysia), Sarah O'Sullivan (Australia), Takashi Hinoda (Jepang), Teri Frame (AS) dan Tomoko Sakumoto (Jepang).
Residensi selama satu bulan berlangsung di sejumlah tempat di Indonesia, diantaranya di Bandung, Majalengka, Yogyakarta, Semarang, dan Bali.
Hasilnya, seniman yang ikut residensi melahirkan karya kreatif yang tidak hanya beranjak atas pencarian riset, tapi juga dari temuan di tempat residensi yang ditinggali. Beberapa di antaranya mengusung kritik sosial di daerah setempat, dan mencoba mewujudkannya dalam bentuk karya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para seniman yang turut serta tahun ini dibagi atas dua, yang berpartisipasi dalam program residensi, dan yang tidak.
Sementara, seniman yang tidak residensi, antara lain Agung 'Agugn' Prabowo, Heri Dono, Eddie Prabandono, Gita Winata, Nadya Savitri, dan Panca Dz dari Indonesia, serta Alice Couttoupes (Australia), Ane Fabricus Christiansen (Denmark), Antonella Cimatti (Italia), Clare Twomey (UK), Diego Akel (Brazil), Eva Larsson (Swedia), Geng Xue (China), Kyoko Uchia (Jepang), Kyungwon Baek (Korea Selatan), Masha Ru (Rusia-Belanda), Dina Roussou (Yunani-Belanda), Mohamad Rizal Saleh (Malaysia), Sarah O'Sullivan (Australia), Takashi Hinoda (Jepang), Teri Frame (AS) dan Tomoko Sakumoto (Jepang).
Residensi selama satu bulan berlangsung di sejumlah tempat di Indonesia, diantaranya di Bandung, Majalengka, Yogyakarta, Semarang, dan Bali.
Hasilnya, seniman yang ikut residensi melahirkan karya kreatif yang tidak hanya beranjak atas pencarian riset, tapi juga dari temuan di tempat residensi yang ditinggali. Beberapa di antaranya mengusung kritik sosial di daerah setempat, dan mencoba mewujudkannya dalam bentuk karya.
Mask karya Arya Pandjalu
Karya bertajuk 'Mask' milik Arya Pandjalu di gedung C, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. (Foto: CNN Indonesia/Rahman Indra)
Tiga keramik di gedung C Galeri Nasional tersebut menjadi bagian lain dari karya Arya yang dipamerkan kali ini. Proses kreatifnya turut menghiasi pameran di gedung A, dengan menempatkan sekitar patung hijau terang dengan bunyi sahutan seperti gamelan.
Dalam proses kreatifnya, Arya termasuk salah satu seniman yang berpartisipasi dalam residensi JCCB4 di Jenggala, Bali. '
"Gagasan ini muncul dari beberapa hari saya residensi, tentang tanah dan persoalan-persoalan yang ada di sekitarnya," ujar Arya saat ditemui disela-sela pameran.
Lewat karyanya, seniman asal Bandung ini menggabungkan cara bercerita pribadi dengan cara bercerita kelompok masyarakat.
Ia mengaku membuat sekitar 21 karya selama residensi, dan memilih sekitar belasan di antaranya untuk kemudian dipamerkan.
Tujuh karya Takashi Hinoda
Sejumlah karya seniman Takashi Hinoda. (Foto: CNN Indonesia/Rahman Indra)
Sekilas, karya ini seolah menyerupai panggung yang di dalamnya terdapat sejumlah sosok figur dengan beberapa pemain musik, seperti DJ, drummer, gitaris, dan Ouroboros. Yang menarik adalah bagaimana sosok figur ini menyeruak dengan bentuk yang tak biasa, ada yang menyerupai alien serta sosok imajinatif yang penuh intrik.
Efek dramatis dari presentasi karyanya cukup menarik untuk disimak dan ditelisik lebih lama.
Connection, In Between Two Domains karya Awangko Hamdan
Connection dan In Between Two Domains karya seniman Awangko Hamdan, Malaysia. (Foto: CNN Indonesia/Rahman Indra)
Hamdan juga menjadi salah satu seniman yang ikut berpartisipasi dalam program residensi yang diusung JCCB 4. Ia berdiam di Studio Ahadiat Joedawinata Bandung, pada Agustus 2016.
Hasil karyanya, kemudian dibagi atas dua, sebagai pajangan di atas meja, dan beberapa karya lainnya disusun sedemikian rupa untuk menempel di dinding.
Karya bikinannya berupa kancing-kancing baju dalam berbagai ukuran kecil dan besar, serta ada yang tampak ditekuk hingga membengkok. Gagasannya unik di antara beberapa karya keramik seniman lain yang ada di sekitarnya.