Yang Memukau di 'Jakarta Contemporary Ceramics Biennale 2016'

Rahman Indra, CNN Indonesia | Kamis, 08/12/2016 19:01 WIB
Memasuki gelarannya yang ke-empat, pameran keramik kontemporer tahun ini memberi gambaran menjanjikan akan perkembangan seni keramik masa depan. Memasuki gelarannya yang ke-empat, pameran keramik kontemporer internasional tahun ini diikuti 41 seniman dari dalam dan luar negeri. (Foto: CNN Indonesia/Rahman Indra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sepuluh karya keramik berwujud kepala yang disusun berderet itu mencuri perhatian pengunjung pameran. Tidak hanya karena bentuk dan warnanya yang mencolok, akan tetapi, juga karena dari suara ketukan yang ditimbulkannya seperti ketukan bunyi gamelan yang saling sahut menyahut satu sama lain.

Karya seniman asal Bandung, Arya Pandjalu tersebut menjadi satu dari 41 seniman yang turut serta dalam pameran keramik kontemporer internasional bertajuk The 4th Jakarta Contemporary Ceramics Biennale yang resmi dibuka pada Rabu (7/12) malam.

Bertempat di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, pameran dengan tema 'Ways of Clay: Perspective Toward the Future' tersebut diikuti seniman dari dalam dan luar negeri, dan berlangsung hingga 22 Januari 2017. 


Mengisi tiga gedung, A, B dan C milik Galeri Nasional, pameran ini merentang dengan menghadirkan beragam bentuk karya seni dari mulai pajangan di atas meja, hiasan dinding, instalasi seni, hingga video pendek yang merangkum proses kreatif dan kisah bercerita. 

Para seniman yang turut serta tahun ini dibagi atas dua, yang berpartisipasi dalam program residensi, dan yang tidak. 

Adapun seniman yang berpartisipasi dan ikut residensi, di antaranya ada Arya Pandjalu, Eddie Hara, dan Uji 'Hahan' Handoko dari Indonesia, Angie Seah (Singapura), Awangko Hamdan (Malaysia), Danijela Pivasevic-Tenner (Serbia-Jerman), Elodie Alexandre (Perancis-India), He Wenjue (China), Joris Link (Belanda), Jose Luis Singson (Filipina), Joseph Hopkinson (Wales-UK), Kawayan De Guia (Filipina), Ljubina Jocic nezevic (Serbia), Maria Volokhova (Ukraina-Jerman), Nao Matsunaga (Jepang-UK), Pei-Hsuan Wang (Taiwan), Richard Streitmatter-Tran (Vietnam), Ryota Shioya (Jepang), Soe Yu Nwe (Myanmar), dan Thomas Quayle (Australia). 

Sementara, seniman yang tidak residensi, antara lain Agung 'Agugn' Prabowo, Heri Dono, Eddie Prabandono, Gita Winata, Nadya Savitri, dan Panca Dz dari Indonesia, serta Alice Couttoupes (Australia), Ane Fabricus Christiansen (Denmark), Antonella Cimatti (Italia), Clare Twomey (UK), Diego Akel (Brazil), Eva Larsson (Swedia), Geng Xue (China), Kyoko Uchia (Jepang), Kyungwon Baek (Korea Selatan), Masha Ru (Rusia-Belanda), Dina Roussou (Yunani-Belanda), Mohamad Rizal Saleh (Malaysia), Sarah O'Sullivan (Australia), Takashi Hinoda (Jepang), Teri Frame (AS) dan Tomoko Sakumoto (Jepang).  

Residensi selama satu bulan berlangsung di sejumlah tempat di Indonesia, diantaranya di Bandung, Majalengka, Yogyakarta, Semarang, dan Bali. 

Hasilnya, seniman yang ikut residensi melahirkan karya kreatif yang tidak hanya beranjak atas pencarian riset, tapi juga dari temuan di tempat residensi yang ditinggali. Beberapa di antaranya mengusung kritik sosial di daerah setempat, dan mencoba mewujudkannya dalam bentuk karya. 

Mask karya Arya Pandjalu

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4 ... 7