“Ayun berayun pikir mengalun, beterbangan khayal keinginan. Lelah memilih arah terpasti, jelaga malam halangi,” lirik menggelegar pun terdengar.
Bertajuk ‘Passion, Love and Culture,’ konser itu dibuka dengan lagu Saujana yang juga diiringi lantunan alat musik saluang, talempong, bansi, dan serunai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Malam ini kami akan mengajak menjelajahi Indonesia lewat musik," ujar Adi Adrian, sang pianis dan kibordis.
Setelah lagu pertama yang berasal dari Barat Indonesia, penampilan ke-dua KLa Project menghidupkan instrumen khas Sunda. Musik Sunda itu mengiringi lagu Waktu Tersisa. Tepuk tangan penonton, yang menandakan kepuasan sekaligus apresiasi, tak henti berkumandang.
Menjelang penampilan lagu ke-tiga, lampu panggung gelap. Diikuti teriakan yang menggema di ruang pertunjukan. Teriakan itu terdengar beberapa kali, membuat bulu kuduk merinding.
Lampu sorot akhirnya mengarahkan cahaya pada dua pemain musik tradisional di atas panggung. Kali ini ini tampak alat musik tradisional dari Timur Indonesia. Ia mengiringi dendangan lagu Terpuruk Ku Di Sini. Lagi-lagi busana KLa Project menyempurnakannya.
Pada lagu ke-empat yakni Terkenang, KLa Project kembali ke bagian Barat Indonesia. Musik dan tampilan yang ‘dicuri’ kali ini berasal dari tanah Batak.
Lilo bercerita, ia butuh kurang lebih enam bulan untuk mempersiapkan konser itu. "Adi sampai keliling Indonesia mempelajari ini dan mengenalkannya kepada kami. Budaya bersatu.”
Hingga lagu ke-lima yang berjudul Pasir Putih, iringan musik tradisional masih mengiringi penampilan grup yang tahun ini merayakan perjalanan karier selama 28 tahun itu.
Penampilan lebih meriah. Tidak hanya diiringi musik tradisional, lagu juga dibuka dengan tarian tradisional dari Pulau Dewata.
Kejutan lain menanti di penampilan selanjutnya. Lilo mendadak muncul seorang diri. Busananya telah berganti. Kali ini ia mengenakan luaran emas dengan selendang merah.
Foto: CNN Indonesia/Agniya KhoiriSuasana Konser KLa Project di TIM, Kamis (15/12). |
Lilo menyanyikan Laguku. Alih-alih berubah canggung, suasana justru makin meriah. Penonton terus bersorak. Apalagi saat personel lain akhirnya kembali ikut bergabung. Katon menyapa penonton, mengungkapkan perasaannya soal perjalanan musik KLa Project selama 28 tahun ini.
"Selama 28 tahun KLa dapat bertahan karena passion, love dan culture. Dan kami ingin membuat musik Indonesia go internasional dengan sesuatu," katanya, yang disambut intro lagu legendaris milik KLa Project. Menjemput Impian.
Sesuai dugaan, riuh rendah penonton semakin memuncak. Tampak raut-raut kebahagiaan kala lagu favorit mereka dibawakan. Mereka pun larut dalam nyanyian. Tanpa dipandu, serentak para penonton ikut bernyanyi bak paduan suara.
Setelah tiga lagu dengan format penampilan mereka biasanya, lagu selanjutnya pun menghadirkan para musisi yang mengiringi penampilan mereka dengan instrumen tradisional.
Kali ini datang musik khas Melayu. Kala instrumen awal dilantunkan, tampak seorang wanita memberikan surat pada Katon. Itu ternyata menjadi gimmick pada lagu Belahan jiwa yang pada lirik awalnya yang terdengar ‘membaca lagi surat-suratmu, hatiku jatuh rindu.’
Foto: CNN Indonesia/Agniya KhoiriKonser KLa Project yang bertajuk Passion, Love and Culture. |
Penonton tak hentinya bertepuk tangan. Pada Lagu Baru, semua penonton bahkan berdiri dan berdendang mengikuti irama.
Tak terasa, pertunjukan terasa akan segera berakhir kala satu penampilan lagu Yogyakarta yang ditunggu-tunggu dibawakan. Dibuka dengan penampilan seorang sinden bernama Lidya Waw, ini menjadi penampilan termagis yang disuguhkan KLa Project malam itu.
Dendangan musik gamelan khas Jawa, ditambah empat penari dengan busana tradisional ikut menghangatkan suasana. Gemuruh riuhan tepuk tangan dan nyanyian dari kursi penonton menggema satu ruangan Teater Jakarta.
Bulu kuduk dibuat merinding akan penampilan yang juga membuat berdecak kagum tak henti.
"Sudah ya, sudah selesai. Kita sudah capai,” kata Lilo menyadarkan penonton yang masih terkesima. Tapi mereka belum puas. Penonton meminta penampilan tambahan.
Lilo yang berbaik hati pun mengabulkan permohonan para penonton, sembari melontarkan celotehan yang mengundang gelak tawa kembali.
"Tapi janji ya satu lagu habis itu pulang. Kita capai, umur sudah kepala lima," candanya.
Lagu Semoga menjadi persembahan terakhir konser malam itu. Lagu itu juga menjadi harapan yang disampaikan Katon, agar bangsa Indonesia dapat bersatu.
Foto: CNN Indonesia/Agniya KhoiriAlat musik daerah seperti Sasando, mengiringi lagu-lagu di konser KLa Project. |
Di sela penampilan dari lagu satu ke lagu berikutnya, antar personel kerap berceloteh akan kondisi terkini Indonesia. Lilo misalnya, menyuratkan dukungannya pada calon gubernur DKI Jakarta selanjutnya.
"NKRI nomor satu, tapi gubernur nomor dua," celotehnya yang disambut gelak tawa dan tepuk tangan penonton.
Celoteh lainnya yakni pada akhir penampilan yang menyampaikan salam perpisahan, “Pulanglah dengan damai, jangan demo.”
Sementara Katon, lebih menyampaikan pesan bahwa Indonesia yang begitu kaya budaya seharusnya dapat bersatu. Dia membuat perumpaan akan kehidupan yang KLa Project jalani.
"Kami bertiga jarang bertemu, tapi ketika dipanggung kami bersatu dalam musik, dalam perbedaan. Bukankah Indonesia juga seharusnya begitu?" kata Katon di sela penampilan lagu terakhir Semoga. "Untuk Indonesia... Semoga," ujarnya menutup penampilan. (rsa)
Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri
Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri
Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri