Haruki Murakami dan Sepuluh Novel Terbaiknya

Rahman Indra, CNN Indonesia | Minggu, 15/01/2017 10:36 WIB
Haruki Murakami dan Sepuluh Novel Terbaiknya Dari 13 novel yang sudah ditulisnya sejak tiga dekade lalu, sepuluh di antaranya muncul dengan kekuatan cerita yang mengesankan dan patut untuk dibaca. (Foto: Dok. Facebook/ Haruki Murakami)
Jakarta, CNN Indonesia -- Haruki Murakami dikenal sebagai novelis dengan karya-karyanya yang realis tapi penuh keajaiban. Karyanya dibangun dengan obsesi untuk mengeksplor dan memahami inti dari identitas sebagai manusia. Sosok protagonis yang dihadirkannya kerap melalui sebuah perjalanan ke dalam dunia yang metafisik, alam bawah sadar, dunia mimpi dan tanah kematian, yang digunakan untuk menelusuri lebih jauh ingatan akan sesuatu yang pernah dimiliki.

Meski berasal dari Jepang, Murakami juga kemudian menjadi seorang pengarang yang ‘global’, dalam artian karyanya tidak hanya dapat dibaca sebagai bentuk ekspresi budaya Jepang, tapi lebih jauh merupakan penelusuran pertanyaan universal akan kemanusiaan. Apa makna ‘kebahagiaan’ atau ‘sukses’ di dunia sekarang ini? Apa sifat asli manusia? Kenapa beberapa orang tertutupi dalam struktur masyarakat kontemporer dan apa alternatif yang mereka punya? Ini hanya beberapa isu universal yang diusungnya.

Beberapa karyanya menggugah pikiran dan kesadaran, di samping juga sangat menghibur. Dari 13 novelnya yang mulai ditulis sejak tiga decade lalu, berikut sepuluh di antaranya yang menjadi pilihan versi Matthew Carl Strecher, penulis yang meneliti karya-karaya Murakami.


A Wild Sheep Chase 

Novel ini berjudul asli An Adventure Concerning Sheep, dan diubah dengan kekuatan kata yang lebih bergema. Murakami menempatkan sosok protagonis yang berkecimpung di industri bisnis politik yang justru memiliki keterbatasan akan uang dan kekuasaan. Beberapa hal menarik dari novel ini berlangsung di sebuah tempat berlatar kawasan liar Hokkaido, yang diinterpretasi sebagai pikiran terdalam sang protagonis atau mitologi dari tanah kematian. Namun pada intinya, seperti juga novel-novel Murakami lainnya, ini adalah kisah yang menyampaikan konflik antara keinginan individu dan desakan dari luar.

The Wind-Up Bird Chronicle 

Ini adalah salah satu novel Murakami yang menghadirkan ‘dunia lain’, dengan latar labirin sebuah hotel yang mana, Kumiko istri dari sosok protagonis, menjadi tahanan oleh saudara jahatnya, Wataya Noburo. Protagonisnya, suami pengangguran bernama Okada Toru, mesti menemukan jalan menyusuri labirin itu, berkonfrontasi dengan Noboru, dan menyelamatkan Kumiko. Sementara itu ia juga mesti berhadapan dengan hal-hal janggal seperti ketika apa yang terjadi di masa silam saling berbenturan satu sama lain. Karya ini menyusuri lebih jauh akan kekerasan, seks, dan memori kolektif akan kehilangan dan upaya untuk bangkit kembali.

Hard-Boiled Wonderland and the End of the World
 
Novel ini bisa digambarkan sebagai sebuah karya epik, yang mungkin lahir jika penulis Gabriel Garcia-Marquez dan H.G. Wells berkolaborasi. Di novel ini, Murakami memanfaatkan dua narasi, secara bergantian. Di dalamnya terdapat uraian jalanan sempit dari masa depan Tokyo, berbagai peristiwa perang, dunia fantasi, tembok besar dengan penduduk tanpa bayangan, dan dihuni penjaga yang penakut dan kuda poni. Di antara berbagai hal itu, protagonis dalam kisah ini kemudian dihadapkan pada dua pilihan untuk tempat yang ingin ditinggalinya.

1Q84 

Ini adalah novel pertama Murakami yang mengambil topik beresiko akan kelompok relijius, yang sangat rentan bermasalah mengingat Jepang kena serangan teroris Aum Shinrikyo pada 1995. Karakter Sakigake, dalam novel ini, dikisahkan berupaya menemukan kembali hubungan dengan ‘alam’ yang disebut Little People. Novel ini kemudian berpusat pada dua karakter; instruktur kebugaran yang digambarkan sebagai pembunuh bayaran seorang penjahat, dan sang jenius matematika yang digambarkan sebagai seorang penulis. Seperti novel Murakami lainnya, ini juga menghadirkan ketegangan ideologi politik dan agama, serta pencarian akan makna individu.

Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage

Tsukuru Tazaki di sepanjang novel ini mencoba memahami kenapa teman-teman semasa di sekolah menegah mengeluarkannya dari grup tak lama setelah ia meninggalkan Nagoya untuk melanjutkan pendidikannya di Tokyo. Pencariannya akan memahami hal itu membuatnya melakukan perjalanan hingga ke Finlandia, di mana ia dihadapkan pada beberapa temuan akan dirinya sendiri. Novel ini bercerita tentang pengkhianatan dan kemampuan memaafkan, dan di atas semua itu, novel ini bercerita tentang bagaimana seseorang beranjak dewasa.

Kafka On the Shore 

Dapat dikatakan mungkin ini adalah novel Murakami paling membingungkan, di antara novelnya yag lain. Novel ini mengusung tiga protagonis, yang setiapnya berasal dari generasi berbeda. Semuanya menderita trauma akut yang mengarahkan mereka untuk membuka kotak rahasia, seperti Pandora, membuka ‘tembok penjaga’ dan memasuki ‘dunia lain’. Kafka, generasi paling muda, berkonfrontasi dengan labirin metafisik untuk menjadi ‘bocah lima belas tahun terkuat di dunia.’ Pesan yang ingin diusung novel ini yakni jika kita tidak dapat mengubah takdir, setidaknya kita bisa menikmatinya.

Hear the Wind Sing

Ini adalah novel pertama Murakami, dan mengusung gaya penulisan inovatif, yang ringan, cepat dan sederhana. Sosok protagonisnya, dikenal dengan sebutan Boku (sudut pandang orang pertama), menjalani hubungan yang naik turun dengan sahabatnya Rat, seorang bartender China yang disebutnya ‘J.” Lalu ada karakter perempuan berjari sembilan dengan chip besar di bahunya. Semua karakter mencoba mencari tahu kenapa sang protagonis kehilangan idealisme dan semangat mudanya.

Pinball, 1973

Melanjutkan tema kehilangan dan nostalgia di Hear the Wind Sing, novel ini dapat dikatakan sebagai sebuah sekuel yang mengeksplor protagonis tanpa nama dan hubungannya dengan Naoko yang memutuskan bunuh diri. Meski bertema kelam, Murakami menyelipkan humor dengan kemunculan karakter kembar tanpa nama , yang membantu Boku akan rasa kehilangan dan kesepiannya. Beberapa hal menarik dari noel ini adalah ketika protagonis berkatain dengan mesin pinball dan ingatan Naoko yang menarik untuk ditelusuri.

Norwegian Wood
 
Watanabe Toru menjalin hubungan yang tragis dengan seorang perempuan yang jiwanya bermasalah karena kerap mendengar suara kekasihnya yang telah wafat, Kizuki dan seolah memanggilnya dari dunia lain. Sepanjang novel ini, Toru berusaha mencegahnya untuk tidak mengikuti suara-suara itu. Sementara ia juga berjuang akan menahan hasratnya pada ‘Midori’, atau ‘perempuan lain’ di novel ini.

Dance Dance Dance
 
Tidak semua kritikus menyukai novel Murakami satu ini, karena alur penceritaannya yang tergolong lambat. Namun, yang menarik dari novel ini adalah dekonstruksi sosial dan fenomena ekonomi Japan, Inc, di dalamnya. Murakami lewat karyanya ini mengeksplorasi kapitalisme tingkat lanjut dengan memberi perhatian pada komoditas dan lainnya, termasuk hubungan antar manusia, seperti keluarga dan persahabatan.

Di luar sepuluh novel itu, tiga novel Murakami lainnya yang juga menarik dibaca yakni South of the Border, West of the Sun (1992), Sputnik Sweetheart (1999), dan After Dark (2004).