Tupac Shakur yang Makin Melegenda setelah Tiada

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Selasa, 04/04/2017 11:30 WIB
Tupac Shakur yang Makin Melegenda setelah Tiada Tupac Shakur masih melegenda, bahkan akan dapat Rock and Roll Hall of Fame. (REUTERS/Mike Segar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengaruh musik Tupac Shakur tak bisa dihentikan oleh batu nisan sekalipun. Ia memang tak lagi menghasilkan karya baru sejak lima tahun sebelum kematiannya pada 1996.

Tapi pemberian bintang Rock and Roll Hall of Fame Jumat (7/4) mendatang membuktikan bahwa musik Shakur masih dikenang jauh setelah ia tiada. Acara pelantikan itu selebrasinya.

Ia masih terpilih meski wujudnya tak lagi ada di dunia ini. Ia bahkan menjadi rapper ke-enam yang terpilih masuk Hall of Fame sepanjang 30 tahun sejarahnya. Tidak banyak rapper yang masuk dinding kebanggaan itu. Dibanding yang masih hidup, Shakur justru dipilih.


Hall of Fame mendeskripsikannya sebagai: “simbol perlawanan internasional dan semangat di luar hukum, sebuah kontradiksi yang tak terelakkan, sesosok rapper anti-hero yang jelas.”
Padahal semasa hidupnya, Shakur menghabiskan waktu di penjara. Putra dari dua aktivis Black Panther itu hanya punya empat album sebelum ia dibunuh di Las Vegas. Pembunuhan tragis—ditembak oleh seseorang dari dalam mobil bergerak—itu tak pernah tuntas.

Shakur baru berusia 25 tahun saat ia harus mengakhiri hidupnya.

Banyak yang berpendapat namanya jauh lebih besar ketika sudah tiada dibanding saat masih hidup. Albumnya total terjual 75 juta kopi, namun lebih banyak dari ‘pasca-kematian.’

Kalau saat masih hidup ia punya empat album, setelah meninggal Shakur justru ‘merilis’ tujuh karya. Mungkin itu tidak sebanding dengan penjualan artis hip hop abad 21 seperti Drake, Kanye West atau The Weeknd. Tapi tetap saja, ia punya pengaruh besar.
Apalagi rap sekarang sudah menjadi musik terpopuler ke-dua di Amerika Serikat setelah rock. Ia bukan lagi lagu kaum minoritas untuk menyuarakan perjuangan. Ia adalah ‘karya.’

“Bagi siapa pun yang serius soal belajar hip hop, ada beberapa orang yang musiknya harus diperhatikan, dan Tupac adalah salah satu dari orang itu,” kata Todd Boyd, profesor Studi Sinema dan Media di University of Southern California, seperti dikutip dari Reuters.

Menurutnya, siapa pun tak bisa mengklaim mereka punya cukup pengetahuan soal hip hop, jika tak mendengar atau tak tahu Shakur. Mendengarkan lagunya menghasilkan perasaan khusus.

“Dia punya pengaruh emosional yang kuat yang menurut saya bicara soal fakta bahwa, ini adalah seseorang yang, dalam pikiran saya, mungkin akan lebih baik jadi aktor ketimbang rapper,” ujar Boyd melanjutkan.
Saking populernya, Shakur pernah ‘dihidupkan’ kembali. Ada hologramya di festival musik Coachella tahun 2012. Itu membuat penjualan musiknya kembali naik. Ia juga menjadi subjek atas beberapa film dokumenter, bahkan di Broadway dan inspirasi serial televisi.