“Berbicara tentang penerimaan masyarakat, itu masalah selera. Ada memang yang suka dan nyaman dengan nasyid yang memperhatikan bentuk lama, namun ada juga yang barangkali senang yang eksperimental kolaborasi dengan berbagai jenis,” kata Denny MR, pengamat musik saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.
“Selera itu faktor eksternal. Faktor internalnya, lebih penting lagi faktor dari musisinya, kalau mau bertahan, ya harus berinteraksi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan dasarnya sebagi nasyid,” lanjut Denny.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa musisi nasyid atau munsyid pernah menguasai tangga lagu dan penampilan di berbagai acara, misalnya adalah Snada. Lebih dari itu, musik religi juga pernah menjadi ladang baru bagi para musisi ataupun pesohor mencari pundi-pundi keuntungan.
“Padahal musik religi seperti Islami tidak harus terjebak oleh waktu. Harusnya berkumandang setiap hari, dari musisinya juga, jangan hanya saat puasa saja.”
Tren seperti itulah yang dinilai Denny membuat konotasi nasyid menjadi hanya sekadar proyek ketika momen Ramadan tiba, saat kebanyakan umat Muslim menjadi lebih religius dibanding momen sebelumnya.
Padahal musik religi seperti Islami tidak harus terjebak oleh waktu. Harusnya berkumandang setiap hari, dari musisinya juga, jangan hanya saat puasa saja.Denny MR, pengamat musik |
Denny juga memberikan penilaian sebagai bagian dalam perkembangan kreativitas bahwa lirik nasyid juga semestinya berkembang mengikuti zaman. Dahulu, nasyid dan musik religi lainnya identik dengan pengingatan dosa dan siksa, alih-alih menjadi sumber kedamaian dan ingat Tuhan, justru cenderung menakutkan.
Mantan jurnalis musik ini juga menilai dalam proses kreatifitas, munsyid juga ada baiknya tidak terpaku akan penghargaan yang bakal diperoleh. Proses kreatif yang baik dan diterima secara utuh, menurut Denny, juga akan mendatangkan penghargaannya sendiri.
Namun Denny menilai bahwa penggemar musik nasyid ini akan selalu ada dan membuat genre ini terus eksis meski mungkin terasa senyap.
“Nasyid akan selalu ada, kalau apakah melebar atau tidak, itu relatif kembali ke musisi apakah mereka setia pada bentuk atau sanggup melakukan terobosan, karena namanya kreativitas itu tidak berbatas,” kata Denny.
“Kalau mereka membutuhkan pengakuan, ya mereka harus membuat terobosan baru yang membuat orang terperangah, melebar hingga banyak yang menerima. Itu yang bisa dilakukan oleh musik nasyid kini.”