Giring 'Nidji' Ungkap Stres Musisi seperti Bieber & Chester

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Selasa, 25/07/2017 13:42 WIB
Giring 'Nidji' Ungkap Stres Musisi seperti Bieber & Chester Giring Nidji mengaku pernah stres sebagai musisi. (CNN Indonesia/Christina Andhika Setyanti)
Jakarta, CNN Indonesia -- Meninggalnya vokalis Linkin Park Chester Bennington dan pentolan Soundgarden Chris Cornell diduga karena stres. Alasan yang sama disampaikan Justin Bieber saat membatalkan konsernya. Bieber seharusnya ke negara-negara Asia, termasuk Indonesia, mulai September.

Diakui vokalis band Nidji Giring, stres memang menjadi bagian dari kehidupan selebriti.


“Yang membuat stres itu popularitas. Orang jadi populer kalau tidak dikasih fundamental kebatinannya, susah. Saya sendiri, jujur saja pernah mengalami depresi," ungkap Giring saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui telepon, Selasa (25/7).


Giring bercerita, fase itu dia alami sebelum band-nya merilis lagu pengiring utama film Laskar Pelangi pada 2008. Saat itu Nidji sedang tidak dalam kondisi terpuruk. Mereka justru berada pada puncak kejayaan usai merilis album Breakthru' (2006) dan Top Up (2007).

"Duit banyak, cewek banyak, semua yang diimpikan untuk menjadi seorang rockstar, tapi enggak bahagia. Itu hanya jadi keenakan sesaat, tapi tidak secara spiritual," katanya.

Justin Bieber memilih membatalkan konsernya karena stres.Justin Bieber memilih membatalkan konsernya karena stres. (REUTERS/Stefan Wermuth)
Ketidakbahagiaan itu, kata Giring, karena dia merasakan kehampaan dan ketakutan. Ia juga mengungkapkan, banyak hal negatif lain yang berkecamuk dalam pikirannya saat itu.

"Ada rasa takut, ada rasa paranoid, ada rasa sombong. Hidup lebih negative thinking.”

Tapi ayah tiga anak itu mengaku beruntung karena ia memiliki keluarga yang selalu mengingatkannya untuk bersyukur.


“Untung ada Cynthia [istri] dan ibu saya yang selalu mengingatkan untuk bersyukur. Saya pernah alami populer kemudian tidak populer, dan kuncinya memang bersyukur, sehingga saat populer lagi menghadapi hal seperti itu bisa lebih santai," ujarnya.

Dalam kasus Cornell, Bennington juga Bieber, menurut Giring, popularitas mereka sudah dalam tingkat dunia, sehingga itu lebih membuat gila. "Mereka mungkin terlihat gahar dari luar, tapi dalamnya tidak tahu. Tidak usah menghakimi bila tidak tahu kehidupannya," katanya.

"Dan bedanya,” ia melanjutkan, “Kalau di Indonesia, setiap kali ada problem kita bisa ke keluarga. Kalau di Amerika itu lebih individualistis.”

Chester Bennington meninggal bunuh diri karena diduga stres.Chester Bennington meninggal bunuh diri karena diduga stres. (Rich Fury/Getty Images for iHeartMedia/AFP)
“Tapi memang apa yang terjadi pada kita, saat rusak atau jatuh, balik ke akar kita, keluarga, adalah cara paling tepat menemukan kembali diri kita," ujar Giring lebih lanjut.

Ia menyarankan, sebaiknya sebagai musisi yang paling penting untuk dipikirkan adala menciptakan karya yang menyenangkan diri sendiri. Ketika karya itu disukai orang lain, kesenangan lain adalah bonusnya.

Kalau ternyata musik itu tak disukai karena ada perubahan, ia menyarankan untuk cuek. Ia lebih memilih menciptakan karya baru yang menurutnya unik dan berbeda. Penggemar penting untuk didengar, “tapi tetap ada kejutan baru.”

"Kalau mau main musik hanya karena ingin terkenal, itu terserah saja, tapi nanti akan stres sendiri. Menjadi populer itu disyukuri, dinikmati dan jangan terlalu terjerembap. Nanti sakit," ujarnya.


Giring bukan tidak pernah lelah menghadapi tur dan popularitas. Mungkin itu pula lah yang dirasakan Bieber. Giring juga memandang lebih baik sang musisi berhenti sejenak.

Tapi bukan berarti pula ia harus membatalkan konsernya.

"Jangan di-cancel, ditunda saja lebih baik, mungkin bisa diubah jadi tahun depan. Dan di waktu jeda bisa diisi dengan traveling," katanya.