Teater Keliling Bangkitkan 'Sang Saka' yang Terbenam

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Kamis, 17/08/2017 11:42 WIB
Teater Keliling Bangkitkan 'Sang Saka' yang Terbenam Teater Keliling membawa lakon 'Sang Saka' berkeliling Indonesia, termasuk di Lampung. (Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Lampung, CNN Indonesia -- Potret pemuda masa kini dianggap jauh berbeda dari pemuda di Era Kemerdekaan. Itu diceritakan seorang veteran yang coba mengajak sejumlah pemuda masa kini agar lebih peduli pada bangsa yang diperjuangkan hingga merdeka 72 tahun silam.

Sayang, usaha veteran itu gagal. Alih-alih mau dirangkulnya, para pemuda itu justru lari. Hingga sang veteran pun hanya mampu mengenang perjuangannya yang begitu keras di masa lampau. 

Kenangan itu bermuara pada bagaimana dirinya berjuang mendapatkan kemerdekaan, termasuk saat ia meninggalkan rumah dan keluarga, ditinggal kawan yang mati dalam peperangan, serta kesulitan lainnya.


Sepenggal kisah seorang veteran yang pergi berjuang itu menjadi awal lakon Sang Saka yang dibawa Teater Keliling mengitari Indonesia.
Kisah pun kemudian berganti sudut pandang lain, yakni sudut pandang pemuda masa kini. Jangankan menghormati bangsanya, menghormati orangtua sendiri tergambar masih sulit mereka lakukan.

Apa yang ada di benak mereka hanya eksistensi diri. Mulai dari berswadaya foto, tenggelam dalam dunia maya, berkiblat pada gaya hidup bangsa asing, serta berkomentar tanpa menghadirkan solusi.

Wujud itu digambarkan lewat tingkah Komer, sosok pemuda yang begitu ‘tenggelam’ akan kecanggihan teknologi hingga lupa akan kehidupan sekitarnya. Dalam hidupnya yang terpenting adalah dirinya sendiri.

Sementara Kor, gadis perantauan dari Medan yang menganggap segala hal mewah adalah keistimewaan buatnya. Sama halnya dengan Komer, ia juga seakan tak peduli dengan kehidupan sekitarnya.

Satu lagi adalah Pati, pria sangar yang diceritakan kerap menjadi pendemo bayaran. Dia menganggap dirinya adalah wakil rakyat, tapi bagi yang lain, ia hanya pemicu keributan.
'Sang Saka' ditampilkan di Lampung.'Sang Saka' ditampilkan di Lampung. (Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Tiga orang itu diceritakan merupakan sahabat karib yang bertemu kembali untuk berpetualang mencari harta karun. Dalam perburuan harta karun itu, terbuka rahasia dari setiap diri mereka dan menjawab apa penyebab pemuda dan pemudi bangsa yang lupa diri dan memupuskan rasa cintanya pada negeri.

Banyak hal lebih penting dari hal pribadiSang Saka
Harta karun berhasil ditemukan, tetapi bukan seperti yang ada dalam bayangan mereka. Harta itu menuntun ke sebuah dimensi waktu imajiner detik proklamasi kemerdekaan yang membuka kembali mata dan hati mereka, yakni tentang pentingnya peran dalam membentuk bangsa ini menjadi benar-benar merdeka.

Silih berganti dipertunjukan gambaran perjuangan para pahlawan mendapatkan kemerdekaan. Perselisihan, perdebatan, serta desakan antara pemuda dengan Soekarno-Hatta agar Indonesia segera merdeka.

Gerakan itu menghasilkan perumusan naskah proklamasi yang diketik Sayuti Melik, yang kemudian dibacakan Soekarno-Hatta dan akhirnya sang saka merah putih dikibarkan dengan iringan lagu Indonesia Raya. 

Sang Saka yang saat itu begitu diagungkan para pemuda adalah harta karun itu. Identitas bangsa yang kini tak begitu dianggap dan malah jadi harta 'terpendam.’

Lakon Sang Saka ini dipentaskan ke lima kota di Indonesia, mulai dari Surabaya (6 Agustus), Malang (7 Agustus), Bali (10 Agustus), Makassar (13 Agustus), dan berakhir di Lampung (15 Agustus). Rudolf Puspa, pendiri Teater Keliling sekaligus sutradara lakon ini sengaja membawa pertunjukannya ke beberapa kota sebagai perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia.
Secara sederhana Rudolf serta sang putri Dolfry Indra Suri menuliskan cerita soal realita pemuda yang dinilai tak lagi mengenal sejarah bangsa. Di balik kesederhanaan kisahnya, terdapat pesan-pesan yang begitu kuat.

Dibagi ke dalam empat panggung kecil serta satu panggung utama, lakon ini menyasar titik yang tepat untuk menepuk penonton yang hadir. Ruang yang digunakan diisi dengan baik. 

Penonton dibuat terlibat ke dalam pertunjukan tersebut. Bagaimana sesekali pemain berdialog sembari berinteraksi langsung dengan penonton, tanpa 'lari' dari benang merah cerita.

Lainnya, tata panggung dan lampunya pun diset dengan baik sehingga para pemain mampu membawa emosi ke dalam pesan yang ingin disampaikan. Terlebih, saat dialog-dialog sarkasme dilontarkan soal fakta kehidupan pemuda masa kini.

Bumbu-bumbu komedi yang dibawa pun terasa menyegarkan, membuat pertunjukan ini lebih hidup daripada sekedar mendikte soal sejarah kemerdekaan Indonesia.
Sayangnya, teater yang menyasar kalangan pemuda ini lingkupnya terbilang kecil, sehingga jangkauan untuk menepuk pundak pemuda agak terbatas. 

Namun, usaha Teater Keliling dengan pertunjukan yang terasa intim ini diharapkan lebih efektif menggerakkan mereka.

"Ajakan untuk pemuda melihat masa lalu dan mempelajari sejarah bangsanya, saya tak ingin ada jarak karena ini semacam mengajar," kata Rudolf yang ditemui usai pertunjukan terakhir Sang Saka di UMKF FKIP Universitas Lampung, Rabu (15/8).

"Bangsa ini rusak karena enggak mengenal sejarah, itu yang menjadi latar cerita," tambahnya.

Rudolf menuturkan, pentas ini menjadi kelanjutan dari lakon Jas Merah yang dipentaskan tahun lalu. Ke depan, dia berharap kisah-kisah perjuangan dan momentum kemerdekaan dapat terus dia ekspos dan pesannya tersampaikan.
Teater Keliling didirikan 13 Februari 1974 di Jakarta. Memiliki misi utama mencerdaskan bangsa, terutama kalangan muda melalui pendidikan karakter yang berorientasi kepada idealisme pendidikan. Teater Keliling juga berkeliling ke mancanegara untuk mendukung diplomasi budaya Indonesia di dunia internasional.

"November ini kami akan ke Jepang membawakan lakon Behind The Mask, tentang manusia-manusia yang bersembunyi di balik topeng. Sebelumnya pentas ini sudah saya bawa ke Jerman," ujarnya.