Sineas Michael Moore Ramal Donald Trump Kembali Jadi Presiden
CNN Indonesia
Kamis, 31 Agu 2017 18:40 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Sineas dokumenter Michael Moore selama ini dikenal kerap mengeluarkan kritik terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Namun dalam wawancara baru-baru ini, ia justru menilai sang taipan bakal kembali jadi Presiden AS pada 2020.
Diberitakan Independent, Moore ketika diwawancara Fast Company menyebut faktor kemenangan elektoral yang membuatnya menjadi Presiden AS pada 2016 lalu bakal terulang di 2020.
"Saya harus mengangkat ini lagi, karena Amerika akan punya populasi yang lebih banyak untuk melawan Trump pada 2020. Namun ia akan memenangkan elektoral seperti saat ini," kata Moore.
Trump secara mengejutkan memenangkan pemilihan elektoral tingkat negara bagian pada pemilu November lalu yang mengantarkan ia menjadi Presiden Amerika Serikat ke-45.
Padahal sebelumnya melalui tahapan pupular vote, Hillary Clinton memenangkan pertarungan sengit antara kandidat Partai Republik dengan Partai Demokrat itu. Clinton mendapatkan 3 juta suara.
Namun, dalam tahapan elektoral yang menentukan pemenang pemilu, Clinton justru tersandung oleh Trump dengan selisih 77 ribu suara.
Moore percaya serangkaian kebijakan Trump menambahkan jumlah pengikut yang kontra terhadap sang taipan. Dan dengan bertambahnya jumlah yang menolak Trump, Moore menilai bukan mustahil ia tidak akan lagi jadi presiden.
"Kabar baiknya, kami tidak harus membujuk pendukung Trump satu per satu karena kami sudah memiliki angka mayoritas," kata Moore.
"Namun hanya ada sedikit peluang sistem elektoral berubah sebelum 2020," lanjutnya.
Moore berpendapat, dengan berfokus pada meyakinkan sejumlah pendukung Obama yang beralih pada Trump dapat menghentikan episode ke-dua kepemimpinan suami Melania itu.
Sejak memutuskan mengikuti pemilihan presiden dan memenangkannya, Trump bak bermusuhan dengan Hollywood. Sejumlah selebrita papan atas kerap memberikan kritik hingga terjadi drama blokir media sosial antara Trump dan para pesohor dunia itu. Add
as a preferred
source on Google
Diberitakan Independent, Moore ketika diwawancara Fast Company menyebut faktor kemenangan elektoral yang membuatnya menjadi Presiden AS pada 2016 lalu bakal terulang di 2020.
"Saya harus mengangkat ini lagi, karena Amerika akan punya populasi yang lebih banyak untuk melawan Trump pada 2020. Namun ia akan memenangkan elektoral seperti saat ini," kata Moore.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Trump secara mengejutkan memenangkan pemilihan elektoral tingkat negara bagian pada pemilu November lalu yang mengantarkan ia menjadi Presiden Amerika Serikat ke-45.
Padahal sebelumnya melalui tahapan pupular vote, Hillary Clinton memenangkan pertarungan sengit antara kandidat Partai Republik dengan Partai Demokrat itu. Clinton mendapatkan 3 juta suara.
Moore percaya serangkaian kebijakan Trump menambahkan jumlah pengikut yang kontra terhadap sang taipan. Dan dengan bertambahnya jumlah yang menolak Trump, Moore menilai bukan mustahil ia tidak akan lagi jadi presiden.
"Kabar baiknya, kami tidak harus membujuk pendukung Trump satu per satu karena kami sudah memiliki angka mayoritas," kata Moore.
"Namun hanya ada sedikit peluang sistem elektoral berubah sebelum 2020," lanjutnya.
Moore berpendapat, dengan berfokus pada meyakinkan sejumlah pendukung Obama yang beralih pada Trump dapat menghentikan episode ke-dua kepemimpinan suami Melania itu.
Sejak memutuskan mengikuti pemilihan presiden dan memenangkannya, Trump bak bermusuhan dengan Hollywood. Sejumlah selebrita papan atas kerap memberikan kritik hingga terjadi drama blokir media sosial antara Trump dan para pesohor dunia itu. Add
as a preferred source on Google