Bukan tanpa alasan para produser film mulai mengangkat kembali film horor dari berdekade-dekade silam dengan teknologi perfilman terbaru.
Sunil Samtani, produser Rapi Films, saat berbincang dengan CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu menyebut beberapa alasan ia kembali mengangkat film horor lawas. Di antaranya, konsep yang kuat dan tren sineas yang mulai peduli akan kualitas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rapi Films tergolong rumah produksi yang telah menghasilkan banyak film horor di masa lalu, sebut saja film Sundel Bolong (1981) yang ikonis dengan Suzzanna memesan 200 tusuk sate, dan Pengabdi Setan (1980) yang kini digarap lagi oleh Joko Anwar.
Salah satu film horor lawas produksi Rapi Films, 'Nyi Blorong' (1982). (Dok. Rapi Films) |
"Kalau dilihat, film lawas itu lebih menakutkan, lebih terasa akrab, CGI pun belum ada sehingga yang mereka buat itu lebih nyata," kata Sunil. "Saat ini CGI banyak sekali."
"Namun film saat ini seperti The Conjuring, CGI yang digunakan banyak namun tetap laris. Berarti menurut saya, tergantung konsep cerita dan pendekatan ke penonton. Kalau bagus, ya jalan saja," lanjutnya.
Kekuatan konsep pula yang disebut Sunil jadi alasan mengangkat kembali Pengabdi Setan dan mempercayakan kepada Joko Anwar untuk mengangkat kembali teror arwah seorang ibu kepada keluarganya itu.
[Gambas:Youtube]
Pengabdi Setan, diklaim Sunil, sempat mendapatkan banyak apresiasi dari berbagai pihak dan disebut sebagai film horor terseram di Indonesia.
Meski berdalih akan kekuatan konsep, menurut pengamat film Adrian Pasaribu, dibuat atau diangkatnya kembali film horor lawas di era modern adalah karena faktor ekonomi.
Sunil Samtani, produser Rapi Films mengakui bahwa konsep yang kuat dari film horor lawas jadi faktor diangkat kembali di era modern. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo) |
"Dalam remake film horor lawas, ada satu faktor lagi yang mungkin bisa menguntungkan si pembuat: basis penonton," kata Adrian.
Menurut Adrian, film berseri baik dalam bentuk remake, reboot, sekuel, maupun prekuel, akan bergantung pada basis penonton yang terbentuk dari film aslinya.
Pembuatan seri lain yang masih berhubungan dengan film asli setidaknya sudah punya penonton, yakni penggemar seri terdahulunya. Jumlah penonton bisa bertambah jika sutradara mampu menggaet 'pasar' baru.
Lihat juga:5 Film Horor Lawas Ikonis Indonesia |
Di sisi lain, Adrian meyakini film horor tergolong genre gambar bergerak yang tidak terlalu membutuhkan biaya besar seperti drama atau genre lainnya.
Asumsi ini terlihat dari biaya produksi film horor Hollywood, seperti The Conjuring dari Warner Bros. pada 2013. Film garapan James Wan itu dibuat dengan bujet US$20 juta namun mendapat penghasilan hingga US$318 juta atau untung lebih dari 15 kali lipat.
[Gambas:Youtube]
Hal ini berbeda dengan karya Warner Bros. lainnya di tahun yang sama, Man of Steel. Film ini membutuhkan bujet US$225 juta namun hanya mendapatkan penghasilan sebesar US$668 juta atau dua kali lipat dari biaya produksi.
"Kasarnya, sudah ada perkiraan jaminan penonton," kata Adrian. "Nah, coba perhitungkan dua unsur itu: biaya produksi murah plus jaminan penonton. Klop sudah."
Namun dua hal itu ternyata belum cukup memenangi hati para produser untuk membuat film horor di era modern. Sunil mengakui, masuknya genre horor Hollywood seperti The Conjuring yang memiliki konsep kuat adalah tantangan bagi sineas di Indonesia.
"Karena setiap tahun penonton dapat film Hollywood macam The Conjuring, Insidious yang smart horror secara kualitas, lama-lama penonton akan membandingkannya dengan produksi Indonesia," kata Sunil.
"Berhadapan dengan Hollywood, kalau tidak meningkat, akan tertinggal. Lihat Jailangkung (2017), mereka berani menghabiskan bujet. Memang sudah harusnya seperti itu, dan masyarakat pun sudah pintar mana yang kualitas dan tidak," lanjut Sunil.
"Menurut saya, produser sudah harus memikirkan kualitas. Dan banyak rumah produksi yang menuju ke sana bukan hanya mikirin soal produksi, mereka meningkatkan kualitas dan ini yang mesti dijaga." kata Sunil.
Salah satu film horor lawas produksi Rapi Films, 'Nyi Blorong' (1982). (Dok. Rapi Films)
Sunil Samtani, produser Rapi Films mengakui bahwa konsep yang kuat dari film horor lawas jadi faktor diangkat kembali di era modern. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)