Ulasan Film: 'Posesif'

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Kamis, 26/10/2017 18:31 WIB
Ulasan Film: 'Posesif' Film 'Posesif' menawarkan hal berbeda ketimbang kisah percintaan remaja semata, penuh ketegangan yang berdasarkan riset mendalam. (Dok. Palari Films)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak ada gombalan klise, adegan cinta monyet, atau bumbu percintaan anak muda seperti biasanya dalam film remaja Posesif. Yang ada, adalah kisah cinta serius berbalut sifat posesif nan mencekam dan nyata.

Kisah film Posesif tak sekadar dibuat dengan asal-asalan, film ini diketahui diangkat berdasarkan riset mendalam sejak 2015 lalu.

Posesif memulai 15 menit awal dengan pertemuan Lala (Putri Marino), atlet loncat indah yang baru pulang berkompetisi, dengan seorang murid baru di sekolahnya, Yudhis (Adipati Dolken).


Pertemuan singkat yang berlanjut dengan kencan ala anak SMA itu diperkaya dengan dialog yang dalam, hasil garapan penulis naskah kondang Gina S Noer.


Lala terbuai manisnya kata dan laku Yudhis yang membuat dia merasakan getaran berbeda. Selama ini, Lala hanya tinggal berdua di bawah asuhan sang ayah (Yayu Unru) yang tegas.

Adegan romansa Lala dan Yudhis terasa terlalu cepat dan memaksa. Gina pun mengakui hal itu dan menyebut bagian film tersebut adalah yang paling sulit dari seluruh naskah.

Namun itu bukan masalah, karena memang cerita Posesif tak berfokus dalam adegan percintaan remaja SMA dan penonton tetap dapat menikmati kisah Lala dan Yudhis.

Kisah Lala dan Yudhis pun berlanjut. Sang sutradara, Edwin menggiring penonton melihat masalah dua sejoli itu yang mulai muncul ke permukaan. Yudhis tenggelam dalam sifat posesifnya atas Lala.

[Gambas:Youtube]

Aksi posesif Yudhis terlihat dari tindakannya kerap menelpon Lala hingga puluhan kali dan melarang kekasihnya itu bergaul dengan teman-temannya sendiri. Bahkan, Yudhis melakukan kekerasan dan menjadi psikopat.

Tindakan kekerasan ala psikopat Yudhis sudah menegangkan, ditambah dengan cinta buta dan pengorbanan ‘bodoh’ Lala menghadirkan rasa gereget di penonton. Namun, Edwin dan Gina memiliki kejutan akan alasan Yudhis menjadi seorang psikopat.

Terlepas dari latar cinta remaja yang terkesan ‘receh’, Posesif menghadirkan isu krusial dan ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti emosi labil darah muda berbalut dengan cinta sesaat dan kegalauan dalam menghadapi kehidupan usia muda.


Gejolak hubungan Yudhis dan Lala itu pun dikemas dengan sinematografi serta suntingan gambar yang apik. Ditambah dengan akting yang cemerlang dari para tokoh, tak heran Posesif dianugerahi 10 nominasi Piala Citra di ajang Festival Film Indonesia 2017.

Putri Marino, sang pendatang baru mampu mengimbangi akting para senior seperti Adipati, Yayu Unru dan Cut Mini. Dia masuk dalam nominasi Pemeran Utama Wanita Terbaik.

Adipati lewat karakternya yang sinting mampu membuat sosok Yudhi tampak nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Adipati pun dijagokan untuk Pemeran Utama Pria Terbaik.

'Posesif' masuk dalam nominasi Film Terbaik FFI 2017.'Posesif' masuk dalam nominasi Film Terbaik FFI 2017. (Dok. Palari Films)

Kelihaian akting para pemain serta kecerdasan Edwin dan Gina meracik Posesif dari kisah sederhana mampu menggambarkan realita hubungan percintaan yang membahayakan nan mencekam. Tak salah jika film ini masuk dalam nominasi Film Terbaik di FFI 2017.