Jika tahun lalu penghargaan ini diberikan pada bintang ternama Christine Hakim, tahun ini jatuh pada orang yang berada di balik layar. Dia adalah produser kawakan Budiyati Abiyoga.
Walau nama Budiyati tak banyak dibicarakan, kontribusinya untuk layar lebar Indonesia tak bisa diabaikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia kemudian menjadi konsultan di berbagai bidang. Pada saat yang bersamaan, Budiyati juga menjadi penulis fiksi cerita pendek dan novel. Salah satu novel Budiyati dengan nama pena Prasanti diangkat menjadi film, yaitu Hati yang Perawan.
Mulai dari Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985) yang memenangi Skenario Terbaik FFI 1986, Naga Bonar (1986) sebagai Film Terbaik FFI 1987, dan Noesa Penida (1988) yang meraih tiga piala citra di FFI 1989.
Budiyati juga memproduksi Cinta dalam Sepotong Roti (1990) yang menjadi Film Terbaik FFI 1991 dan Piala Antemas sebagai film terlaris pada 1991-1992.
Tak hanya di kancah nasional, film Budiyati juga berkiprah di ajang internasional. Seperti Surat untuk Bidadari (1993) yang meraih penghargaan dari festival film Berlin dan Tokyo. Film ini dianggap sebagai awal baru perfilman Indonesia di mancanegara.
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi |
Tak cukup memproduksi film, Budiyati ikut mendirikan Pusat Pendidikan Film dan Televisi (P2FTV). Dia juga menjadi pembimbing dalam komunitas Salman Film Academy di Bandung.
Beragam karya dan kontribusi ini membuat Budiyati mendapatkan Lifetime Achievement Award 2017. Penghargaannya diantarkan oleh Mira Lesmana. (rsa)
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi