Titiek Puspa dan Panggung Pohon Jambu di Pekarangan Rumah

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Sabtu, 25/11/2017 13:20 WIB
Titiek Puspa dan Panggung Pohon Jambu di Pekarangan Rumah Titiek Puspa lahir 80 tahun lalu di Kalimantan Selatan. Ia menjalani masa kecilnya dalam kondisi miskin dan sakit-sakitan. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sinar matahari yang terik di siang hari itu bertolak belakang dengan kediaman Titiek Puspa ketika CNNIndonesia.com berkesempatan mengunjunginya. Di kediamannya di Jakarta Selatan itu, rumah Eyang Titiek terasa adem dengan suara kicau burung terdengar dari kejauhan.

Titiek Puspa yang berbalut baju cokelat bermotif bunga dan berkalung wayang menyambut kami dengan ramah, selayaknya seorang nenek ketika para cucunya datang berkunjung.

"Ayo duduk sini," kata Titiek sembari berjalan menuju sofa berukir. Ia tampak sedikit tertatih. Kami pun tak kuasa ingin membantu seniman legendaris tersebut.


Titiek memilih duduk di salah satu kursi berukir dengan beberapa bantal duduk. "Bantal itu biar [kalau duduk] enggak jeblos," kata Titiek. Jadi dia masih bisa duduk tegak.


Cahaya matahari dari jendela lebar di depan kursi yang ia duduki menerangi sosok seniman yang baru saja ulang tahun ke-80 tersebut.

Perjalanan delapan dekade kehidupan Titiek setidaknya sedikit terlihat dari ruangan tamu di kediamannya. Sebuah lemari berisi setidaknya 100 piala atau trofi penghargaan untuk Titiek berdiri diam menyambut tamu di depan.

Belum lagi sejumlah kliping atau sertifikat penghargaan untuk pencipta lagu Apanya Dong itu, terpajang di sana-sini. Beragam lembaga memberikan penghargaan kepada Titiek, mulai dari Anugerah Musik Indonesia hingga berbagai media.

Bukan cuma soal prestasi Titiek, kehidupannya di tengah keluarga besar juga tergambar dari sejumlah foto berbingkai yang terpajang di dinding kediamannya.
Titiek Puspa lahir 80 tahun yang lalu di Kalimantan Selatan.Titiek Puspa (kedua dari kanan) lahir 80 tahun yang lalu di Kalimantan Selatan. ( ANTARA FOTO/Zeynita Gibbons)
Ada lukisan pria dengan jas sederhana didampingi wanita berkebaya tradisional. Mereka adalah orang tua Titiek Puspa, sang ayah Tugeno Puspowidjojo dan sang ibu Siti Mariam.

Lukisan itu diapit dua foto berbingkai. Di sebelah kanan, ada foto sekumpulan pria dan wanita yang telah paruh baya dengan Titiek berada di tengah-kanannya. Mereka adalah saudara kandung dari Titiek Puspa.

"Saya ini anak keempat dari 12 bersaudara," kata Titiek terkekeh menanggapi foto ia dan saudaranya tersebut.

Di sebelah kiri lukisan orang tua, ada foto menggambarkan kumpulan lebih banyak orang, setidaknya puluhan hingga lebih dari 100 orang. Mereka adalah keluarga besar Titiek Puspa.

Titiek mengakui sudah akrab dengan kehidupan berkeluarga besar. Namun, ia menyebut masa kecilnya dihabiskan dengan kondisi sakit dan miskin.


Lahir dengan nama asli Sudarwati pada 1 November 1937 di Tanjung, Tabalong, Kalimantan Selatan, Titiek terus sakit hingga kedua orangtuanya mengganti namanya menjadi Kadarwati, kemudian berganti lagi menjadi Sumarti.

"Saya dulu orang yang paling tidak disukai karena penyakitan," kenang Titiek. Namun ia menyebut nama 'Titiek' adalah sebutan akrabnya di rumah.

Bukan cuma miskin dan kerap sakit-sakitan, Titiek yang kala itu bernama Sumarti kerap menghabiskan waktu sendirian. Ia hanya dapat mengandalkan Tuhan sebagai sahabatnya kala itu.

Keajaiban pun datang. Kesehatan Sumarti mulai membaik seiring dengan kedekatannya dengan Yang Maha Kuasa. Salah satu momen yang selalu dilakukan Titiek untuk berkomunikasi dengan Tuhan adalah menyanyi, di pekarangan rumah.

"Saya pulang sekolah naik pohon jambu nyanyi untuk Dia, ngobrol. Jadi tidak tahunya saya naik pohon itu sekaligus les vokal," kenangnya.

"Dicariin? Wong saya pernah hilang tidak dicari. Anaknya kebanyakan, ada 12. Satu di pohon terus," sambung Titiek santai.

Titiek Puspa akrab dengan Presiden Republik Indonesia mulai dari Soekarno hingga Joko Widodo.Titiek Puspa akrab dengan Presiden Republik Indonesia mulai dari Soekarno hingga Joko Widodo. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Pandangan Titiek masih menerawang sembari mengisahkan masa kecilnya. Tiba-tiba ia tampak teringat suatu hal, momen ketika kepercayaan dirinya tumbuh meski tak seindah seperti bayangan orang.

"Dari kecil saya nyanyi, apalagi di sekolah saat ada acara kenaikan kelas. Saya jadi apa? Jadi badut, jarang jadi anak cantik karena jelek. Saya tidak pernah jadi [peran] menyenangkan," kenang Titiek.

"Malah pernah disuruh jadi laki-laki dan merokok," lanjut Titiek sembari memeragakan pose merokok ala iklan rokok yang kerap ditampilkan di televisi.

"Tahu-tahu kebalik [bagian] yang kebakarnya, yang masuk [ke mulut] salah, justru apinya. Saya jumpalitan," tutur Titiek heboh dengan gerakan tangan seolah-olah ada api rokok masuk ke mulutnya.

"Semua orang tertawa, ya Allah macam-macam, lucu," kekeh Titiek hingga antingnya bergoyang-goyang karena tawa si eyang.

[Gambas:Youtube]

Meski mengalami banyak pengalaman kurang menyenangkan, Titiek tak ambil pusing. Ia justru memupuk itu sebagai sebuah kekuatan untuk bangkit.

Bakat menyanyi yang ia temukan di atas pohon jambu itu ia kembangkan sembari mengumpulkan uang guna membantu kebutuhan finansial keluarga.

Titiek pun pindah dari satu panggung ke panggung lainnya. Ia sempat mengisi acara di radio RRI Semarang sampai akhirnya mengikuti kontes menyanyi Bintang Radio pada 1954, saat ia berusia 17.

"Kebetulan menang dan ikut yang ajang nasionalnya di Jakarta mewakili Semarang," katanya sembari tersenyum.

Sejak itu, Titiek mengukuhkan dirinya untuk benar-benar terjun sebagai penyanyi. Kiprahnya di atas pentas kini telah mencapai 63 tahun. "Tapi ya sebenarnya saya menyanyi sudah 70 tahun lebih," tambah eyang Titiek.



Perjalanan karier Titiek Puspa di Jakarta berlanjut di artikel Jejak Karier Titiek Puspa, dari Gagal Kontes hingga ke Istana ... (end)




BACA JUGA