Rizky Sekar Afrisia
Mengawali karier di tabloid hiburan Surabaya, lalu terbawa arus ke Jakarta. Pencinta buku dan film yang juga pemerhati kehidupan sosial modern.

Penjual Mimpi Itu Bernama Hollywood

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Rabu, 06/12/2017 10:31 WIB
Penjual Mimpi Itu Bernama Hollywood Ilustrasi Hollywood. (CNN Indonesia/Fajrian)
Jakarta, CNN Indonesia -- “Here’s to the ones who dream…”
-Audition Song (The Fools who Dream) dari La La Land-

Siapa tak seperti Mia Dolan di La La Land. Bermimpi jadi aktris di Hollywood.

Janganlah muluk-muluk jadi artis. Tinggal di jantung perfilman dunia, bertemu selebriti setiap kali jajan di Subway atau Starbucks, sepertinya keren luar biasa.

Tak heran La La Land laku keras. Meski tak jadi Film Terbaik di Oscar 2017 atau yang terlaris seperti Avatar atau Star Wars, film itu digandrungi seluruh dunia.

Panggung musikalnya pun tampil di mana-mana.

Itu karena La La Land bicara soal mimpi. Sejak adegan pertama di jalanan bebas hambatan di California, aura optimistis yang berusaha diusung sang sutradara Damien Chazelle sudah terasa.

Lalu penonton diajak mengikuti hidup Mia dan Sebastian—diperankan Emma Stone dan Ryan Gosling—yang sama-sama mengejar mimpi. Dari penjual kopi di salah satu studio besar Hollywood sampai jadi artis sungguhan. Dari pianis di restoran sampai jadi pemilik kafe.

Siapa tak suka mimpi yang terwujud sempurna, meski mungkin itu tak berujung bahagia.

Cerita semacam itu bukan hanya ada di La La Land, meski tak bisa dipungkiri betapa jenius Chazelle merangkai kisah cinta Mia dan Sebastian di tengah celebrity crushes Hollywood.

Hampir semua film Hollywood menjual itu.

Karier yang mendadak sukses, pahlawan super dengan hati mulia mereka melindungi dunia dari bahaya, hati yang bertemu tambatannya, pilih saja. Hollywood punya semua, beragam versi.

Hollywood adalah magnet bagi pemimpi.

Tapi ternyata, benar kata orang, yang ada di film itu semu. Hollywood tak seindah yang digambarkan Chazelle atau sutradara lain lewat film-filmnya.

La La Land, film yang menggambarkan tentang mimpi akan Hollywood digandrungi di seluruh dunia. (Screenshoot via Youtube/Lionsgate Movies)La La Land, film yang menggambarkan tentang mimpi akan Hollywood digandrungi di seluruh dunia. (Screenshoot via Youtube/Lionsgate Movies). (Screenshoot via Youtube/Lionsgate Movies)
Berjalan di Hollywood Boulevard suatu malam, saya merasakan euforia yang lain dari Hollywood. Bukan hanya harapan seperti di film-film, tapi juga keputusasaan.

Begini gambarannya: hampir di setiap satu atau dua meter, ada tunawisma dengan baju compang-camping yang menatap Anda dengan pandangan memelas, kadang mengancam. Di setiap kurang dari satu meter, ada seniman jalanan yang berusaha mencari uang.

“Hai, silakan lihat. Untuk gadis cantik ini, saya beri diskon. Untuk pacarmu, kau harus tetap bayar US$10,” ujar salah satu pelukis jalanan, di mana kami akhirnya membeli dua poster: satu bergambar Marilyn Monroe dan satu lagi berwajah Joker.

Saat kami kembali, pelukis itu tengah mengerjakan sesuatu, jadi saya ambil kamera dan memotretnya. Semakin banyak orang menonton, terciptalah kerumunan besar. Lalu ia selesai.

Saat kami semua hendak melangkah pergi, ia mendadak teriak, “Jangan bergerak! Ayolah, jangan pergi begitu saja. Lihat kotak ini? Ini tempat kalian semua memberi kami tip.”

Di kawasan Bugis Singapura, menonton orang menyemprotkan piloks ke dinding sampai berbentuk gambar raksasa nan cantik saja, tak perlu membayar sepeser pun.

Di Hollywood, setiap Anda membidik kamera, si ‘model’ bisa kapan saja minta bayaran.

Bukan hanya itu. Banyak pula artis palsu yang menargetkan orang-orang yang datang dengan harapan bertemu selebriti. Masing-masing impersonator biasanya berdiri di samping walk of fame selebriti yang ia tiru. Malam itu saya bertemu Michael Jackson, Catwoman, Wonder Woman, dan banyak lainnya. ‘Jackson’ sempat membuat saya kaget dengan kemunculannya.

Mereka lalu akan mengajak orang-orang yang ingin berfoto dengan walk of fame selebriti favoritnya, untuk juga berpose dengannya. Ujung-ujungnya, mereka akan minta uang.

Begitu juga dengan para artists wanna be yang mengundang orang-orang datang ke acaranya. Mereka akan membagi CD dengan pesan: “Tonton musik saya ya, saya ada di YouTube juga."

Tapi pesan itu belum selesai. Lanjutannya adalah, "Bantu saya dan musik saya berkembang dong," sembari menunjukkan uang US$5. Artinya, minimal kami harus menyumbangnya US$5.

Sumbangan dengan pemaksaan. Kalau tidak diberi, mereka akan marah-marah, atau siapa tahu.

Di Jumat malam itu, kami juga bertemu seorang perempuan yang tiba-tiba berlari mengejar seorang pria dan berteriak: “Hei, berhenti!” Perempuan itu kemudian terjatuh dan tak sanggup mengejarnya lebih jauh. Di belakangnya, teman-temannya keluar dari sebuah toko.

Belakangan saya tahu, pria yang dikejar adalah pengutil.

Ya, sekejam itulah Hollywood. Kenyataannya, Hollywood Boulevard adalah tempat di mana toko oleh-oleh tentang keartisan berjajar—tapi semua berlabel ‘made in China’—tunawisma dan pencopet berkeliaran, serta artis palsu bermunculan, berebut mencari kepingan dolar.

Kenyataannya, jalan bebas hambatan tempat biasa mobil kejar-kejaran tak selebar di film-film. Di Los Angeles, jalan bebas hambatan sama saja dengan kemacetan.

Kenyataannya, Griffith Park tempat Mia dan Sebastian menari ditemani pemandangan kota Los Angeles itu sangat luas. Jangankan menari, mencari tempat parkir lalu jalan ke mana-mana saja susah. Mengenakan sepatu hak tinggi dan berjalan sejauh itu adalah konyol.

By the way, pemandangan dan langit Los Angeles juga tak sedramatis itu. Gedung tertutup kabut mungkin iya. Tapi langit ungu berbintang? Egh, egh, itu tipuan saja. Mencari lokasi lampu jalanan dan bangku tempat Mia dan Sebastian duduk pun mustahil.

Kenyataannya, itu hanya tikungan biasa sampai tim produksi membawa bangku dan lampu jalanan mereka sendiri. Lampu jalanan seperti yang ada di poster La La Land itu hanya bisa ditemui di Griffith Observatory dan ujung jalan keluar Griffith Park.

Kenyataannya, butuh celana olahraga, sepatu nyaman, dan tanktop untuk berjalan jauh memanjat perbukitan menuju tanda Hollywood yang terkenal itu. Orang tidak foto di hadapannya dengan mudah. Sebelum senyum terkembang, pasti berkeringat dan ngos-ngosan.

Kenyataannya, pun tak ada coffee shop seperti tempat Mia bekerja di dalam studio Warner Bros. Itu juga bikinan tim produksi. Kenyataannya, film Hollywood hanya menampilkan yang terbaik yang mereka punya, untuk memesona dunia. Dan mereka yang terpesona pun datang.

Ada memang, yang akhirnya bernasib beruntung atau benar-benar punya talenta. Tapi tidak sedikit pula yang berujung terjun dari papan Hollywood karena putus asa atau berakhir di Hollywood Boulevard menirukan selebriti dan menjadi pengutil maupun tunawisma.

Saya pemimpi. Dan saya pengagum film Hollywood. Tapi saya tak mau terbuai mimpi lalu datang ke Hollywood begitu saja, berharap mendadak dapat panggilan casting seperti Mia Dolan, lalu ternyata berakhir seperti pengutil yang dikejar-kejar sampai terjatuh itu.

Hollywood memang magnet. Siapa tak tertarik. Di Indonesia, mungkin seperti Jakarta yang jadi magnet buat pemuda-pemudi di daerah. Tentu saja ada yang berhasil, banyak yang tidak.

Saya hanya ingin menggambarkan Hollywood secara apa adanya. Tak muluk-muluk seperti di film-film. Sebab para sutradara itu, sangat genius membuai kita dengan menjual mimpi.

Tak ada salahnya bermimpi. Itu adalah kunci, kata Nidji saat mengiringi Laskar Pelangi. Tapi mewujudkan mimpi yang sudah terlanjur kita beli itu, ada di tangan kita sendiri. (rsa)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS