Mengenal Tradisi Pemakaman di Korea Selatan

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Kamis, 21/12/2017 15:05 WIB
Mengenal Tradisi Pemakaman di Korea Selatan Keluarga mendiang personel SHINee Jonghyun menggelar upacara pemakaman dengan tradisi Korea. (AFP PHOTO/pool/CHOI Hyuk)
Jakarta, CNN Indonesia -- Personel boyband SHINee Jonghyun telah dimakamkan di Korea Selatan, Kamis (21/12), pukul 09.00 waktu setempat. Sebelumnya, musisi yang wafat pada Senin (18/12) lalu itu disemayamkan lebih dulu di rumah duka di Rumah Sakit Asan Seoul.

Dalam tradisi Korea Selatan sendiri, mengutip WorknPlay Korea, secara keseluruhan merenungkan kematian adalah cara yang terperinci dan khusus. Upacara pemakaman menjadi salah satu hal yang paling penting di Korea.

Persemayaman jenazah dan upacara pemakaman berlangsung selama tiga hingga tujuh hari. Akhir-akhir ini, tiga hari menjadi yang paling umum dilakukan. Setelahnya, keluarga yang ditinggalkan seharusnya tetap berkabung selama tiga tahun.



Di zaman kuno, seorang istri yang ditinggal suaminya akan membangun sebuah pondok kecil di dekat pemakaman dan tinggal di sana selama tiga tahun. Namun, tradisi tersebut sudah jarang dipraktikkan, hanya peringatan ulang tahun pemakaman yang terkadang masih dihormati.

Sama seperti di Indonesia, tamu pemakaman tidak diundang secara formal. Saat seseorang meninggal, para tamu diinformasikan melalui anggota keluarga, teman atau kenalan. Diharapkan seorang tamu akan meluangkan waktu untuk mengunjungi pemakaman kapanpun dia memiliki kesempatan. Meskipun tamu biasanya akan memberi tahu keluarga saat dia berencana untuk tiba, para tamu bebas untuk datang dan pergi sesuka mereka.

Nomor ruangan yang disewa di rumah duka (jangraeshikjang). (AFP PHOTO/JUNG Yeon-Je)Nomor ruangan yang disewa di rumah duka (jangraeshikjang). (AFP PHOTO/JUNG Yeon-Je)
Biasanya, upacara pemakaman akan dilakukan di sebuah rumah duka (jangraeshikjang). Jangraeshikjang biasanya berada di kawasan rumah sakit tertentu. Karena itu, persiapan pemakaman bisa dimulai dengan segera, atau pada hari yang sama dengan kematian. Jika kematian terjadi pada malam hari, hal itu bisa dilakukan pada keesokan paginya.

Keluarga mendiang akan memberitahu nomor ruangan di jangraeshikjang yang disewa kepada teman, saudara, rekan bisnis dan lainnya. Upacara pemakaman bisa digelar besar-besaran, seringkali dengan ratusan orang yang hadir dan dilangsungkan selama tiga sampai tujuh hari.


Pada saat itu, keluarga terdekat biasanya tinggal di sana selama tiga hari penuh. Mereka bahkan tidur di rumah duka. Orang-orang yang ada di sana menyapa setiap pengunjung yang datang untuk memberi hormat kepada mendiang. Sapaan dilakukan dengan membungkuk dan kemudian dibalas oleh para tamu.

Setelah mengucapkan salam kepada keluarga, para tamu dapat memberi penghormatan pada seseorang yang telah meninggal dengan berdoa di depan peti mati dengan foto mendiang. Tamu dapat melakukan jeol atau meletakkan lutut dan tangannya di lantai dan kemudian membungkuk ke depan. Hal ini dilakukan dua kali sebagai penghormatan.
Foto jenazah dipajang di atas peti persemayaman.Foto jenazah dipajang di atas peti persemayaman. (Yonhap/via REUTERS)
Setelahnya, pengunjung harus membakar dupa dan membungkuk kecil tanpa berlutut, satu kali untuk keluarga.

Namun, cara membungkuk seperti itu lebih ditujukan untuk para pria, untuk wanita mereka cukup dengan duduk bersila lalu membungkuk di atas kaki mereka.

Begitu pertemuan dan penghormatan pada keluarga selesai, para tamu dibawa ke ruang makan, di mana mereka duduk di meja tradisional lalu berbagi makanan dan minuman. Pada momen itu, mereka akan berbagi cerita dan menghormati kenangan terhadap orang yang telah meninggal.


Etika Hadir di Upacara Pemakaman Korea Selatan

Hampir sama dengan kebanyakan, para tamu diharapkan mengenakan pakaian berwana gelap atau hitam. Hal itu pun berlaku untuk keluarga yang berkabung. Para wanita diminta untuk tidak memakai perhiasan dan riasan.

Warga Korea Selatan memiliki pakaian tradisional yang disebut hanbok yang identik dengan warna cerah. Namun, untuk menghadiri prosesi persemayaman dan upacara pemakaman, warga hanya bisa mengenakan hanya yang berwarna hitam atau putih.

Kerabat dekat laki-laki dapat memakai ban lengan dan topi khusus yang terbuat dari goni. Hal tersebut memungkinkan anggota keluarga laki-laki mudah diidentifikasi sebagai kerabat almarhum.

Makanan

Di rumah duka, biasanya keluarga menyediakan ruang makan di mana para tamu dapat makan dan minum bersama. Minuman bir dan soju pun menjadi suguhan agar suasana hati tidak terus berduka. Mereka mencoba mengingat mendiang dengan cara merayakan hidupnya bukan sebagai kejadian yang sangat menyedihkan.

Di sana tak akan ada makanan tradisional khusus untuk upacara pemakaman, sehingga makanan yang ditawarkan bisa bervariasi. Bisa sup pedas dengan daging sapi, kue beras Korea atau ragam menu favorit mendiang.

Ilustrasi: Situasi di rumah duka di Korea Selatan.Ilustrasi: Situasi di rumah duka di Korea Selatan. (Reuters)
Santunan

Seperti acara pernikahan, kebiasaan yang diharapkan dari setiap tamu adalah pemberian donasi untuk pemakaman tersebut. Itu turut menjadi tradisi kuno Korea untuk membantu berbagi beban biaya pemakaman.

Biasanya, di sana akan ada kotak merah (bujoham) dan para tamu dapat menempatkan donasi mereka di kotak itu. Uang harus selalu ada dalam amplop putih dan orang biasanya menandai nama mereka di amplop.

Tujuannya adalah agar keluarga yang tengah berduka dapat membuat catatan tentang siapa yang telah menyumbangkan dan kemudian dapat mengembalikan jumlah yang sama jika terjadi kematian di keluarga yang lain.

Tamu yang tidak mengenal dekat akan memberi sekitar 30.000 Won (Rp378 ribu), dan mereka yang dekat biasanya memberi lebih.

 Ilustrasi keadaan di rumah duka Jonghyun. (AFP PHOTO/JUNG Yeon-Je)Ilustrasi keadaan di rumah duka Jonghyun. (AFP PHOTO/JUNG Yeon-Je)

Pemakaman


Pada hari terakhir atau pemakaman, biasanya tidak banyak tamu yang hadir. Pemakaman biasanya hanya digelar dengan sebuah upacara kecil dan hanya berlangsung untuk keluarga dekat.

Setelahnya, jenazah dapat dibawa ke krematorium atau ke kuburan. Dulu lebih populer mengubur tubuh, tapi baru-baru ini, terutama di kota-kota, kremasi semakin digemari bagi masyarakat Korea Selatan.

Pada 2010, menurut Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan, terdapat 172 ribu jenazah yang dikremasi. Itu merupakan 67 persen dari total kematian di sana.

Kota-kota besar seperti Seoul, Busan dan Incheon mencatat jumlah tertinggi, sementara banyak daerah pedesaan tercatat jumlahnya masih rendah. Alasan utama kremasi adalah kurangnya ruang untuk penguburan. Alasan lain yakni merawat kuburan memakan banyak waktu dan biaya.

[Gambas:Video CNN] (res)