Jathil ditarikan sekelompok perempuan yang berbusana selayaknya prajurit pria. Mereka biasanya berjajar rapi saat beraksi, sembari menunggang kuda lumping atau eblek.
Meski berias seperti wanita, mereka berlaku seperti pria.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:FOTO: Kuda-kuda Penantang Lidah Api |
“Tarian jathilan dilakukan oleh laki-laki yang masih muda dan gagah tapi gerakannya lemah gemulai, cantik. Kok lucu sih, pakaiannya laki-laki kok gerakannya kayak perempuan? Ini yang dijadikan sindiran untuk para prajurit Majapahit," tuturnya, Senin (22/1).
Artinya, mereka dijadikan anak angkat selama dua tahun.
Penari jathil sejatinya merupakan pria, bukan wanita. (CNN Indonesia/Kurniawan) |
“Orang tua yang anaknya digemblak akan diberi upah seekor lembu atau sawah garapan,” kata Sudirman lagi. Itu jelas ganjaran yang sangat dinantikan bagi warga pedesaan.
Sudirman sendiri pernah digemblak seorang warok. Ia pun hidup bak putra raja. Busananya istimewa. Ia harus selalu pakai kaus kaki dan sandal di mana pun berada untuk kebersihan.
“Diajari pula sopan santun, tata krama dan sebagainya,” ia melanjutkan.
Namun tradisi itu mulai pudas pada 1970-an. Itu berhubungan dengan adanya instruksi presiden untuk membangun banyak SD Inpres di pedesaan pada 1980-an. Anak pun semakin banyak yang sekolah. Usai menuntut ilmu, mereka lantas mengejar rezekinya sendiri.
“Kalau dulu kan anak-anak itu menganggur, tidak ada kegiatan, dijadikan gemblak,” ujarnya.
Seiring dengan banyaknya anak sekolah, tradisi gemblak pun mulai menghilang.
Di sisi lain, penari reog tetap membutuhkannya. Pada akhirnya, penari-penari itu pun digantikan oleh perempuan yang bisa tampil cantik dan gemulai, namun tetap berbusana pria. (dik/rsa)
Penari jathil sejatinya merupakan pria, bukan wanita. (CNN Indonesia/Kurniawan)