Di Balik Transformasi Penari Jathil Reog dari Pria ke Wanita

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Rabu, 24/01/2018 07:05 WIB
Di Balik Transformasi Penari Jathil Reog dari Pria ke Wanita Penari jathil dalam kesenian reog awalnya adalah pria, namun sejak 1980-an berubah menjadi wanita. (CNN Indonesia/Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Yang khas dari pertunjukan reog bukan hanya dadap merak berkepala singa. Ia memang pusat pertunjukan. Tapi penari jathil yang mengiringinya juga menarik perhatian.

Jathil ditarikan sekelompok perempuan yang berbusana selayaknya prajurit pria. Mereka biasanya berjajar rapi saat beraksi, sembari menunggang kuda lumping atau eblek.

Meski berias seperti wanita, mereka berlaku seperti pria.


Sejatinya, penari jathil memang sekelompok pria. Itu disampaikan pegiat seni, Sudirman. Penari jathil aslinya menyindir prajurit Majapahit yang tidak memiliki sifat herois dan pemberani. Maka itu mereka diperankan pria, tapi dirias dan dibiarkan berlenggok gemulai.


“Tarian jathilan dilakukan oleh laki-laki yang masih muda dan gagah tapi gerakannya lemah gemulai, cantik. Kok lucu sih, pakaiannya laki-laki kok gerakannya kayak perempuan? Ini yang dijadikan sindiran untuk para prajurit Majapahit," tuturnya, Senin (22/1).

Cikal bakal jathil erat kaitannya dengan gemblak, tradisi turun-temurun di kalangan masyarakat Jawa. Dalam tradisi itu, Sudirman menjelaskan, anak laki-laki dengan usia antara 12 sampai 17 tahun akan ‘dipinang’ oleh seorang warok dan dijadikan gemblak.

Artinya, mereka dijadikan anak angkat selama dua tahun.

Penari jathil sejatinya merupakan pria, bukan wanita.Penari jathil sejatinya merupakan pria, bukan wanita. (CNN Indonesia/Kurniawan)
Untuk itu, si anak harus tampan, berkulit bersih dan berbusana rapi. Mereka akan dijadikan maskot penari jathil, sekaligus penarik perhatian dalam pertunjukan reog Ponorogo.

“Orang tua yang anaknya digemblak akan diberi upah seekor lembu atau sawah garapan,” kata Sudirman lagi. Itu jelas ganjaran yang sangat dinantikan bagi warga pedesaan.

Sudirman sendiri pernah digemblak seorang warok. Ia pun hidup bak putra raja. Busananya istimewa. Ia harus selalu pakai kaus kaki dan sandal di mana pun berada untuk kebersihan.


“Diajari pula sopan santun, tata krama dan sebagainya,” ia melanjutkan.

Namun tradisi itu mulai pudas pada 1970-an. Itu berhubungan dengan adanya instruksi presiden untuk membangun banyak SD Inpres di pedesaan pada 1980-an. Anak pun semakin banyak yang sekolah. Usai menuntut ilmu, mereka lantas mengejar rezekinya sendiri.

“Kalau dulu kan anak-anak itu menganggur, tidak ada kegiatan, dijadikan gemblak,” ujarnya.


Seiring dengan banyaknya anak sekolah, tradisi gemblak pun mulai menghilang.

Di sisi lain, penari reog tetap membutuhkannya. Pada akhirnya, penari-penari itu pun digantikan oleh perempuan yang bisa tampil cantik dan gemulai, namun tetap berbusana pria. (dik/rsa)