Kisah di Balik 'Kemunculan' Hillary Clinton di Grammy Awards

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Senin, 29/01/2018 15:34 WIB
Hillary Clinton 'muncul' secara tiba-tiba di ajang Grammy Awards 2018. Ada kisah penuh sindiran kepada Donald Trump di balik kemunculannya itu. Hillary Clinton 'muncul' secara tiba-tiba di ajang Grammy Awards 2018. Ada kisah penuh sindiran kepada Donald Trump di balik kemunculannya itu. (REUTERS/Joshua Roberts)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ajang Grammy Awards 2018 yang dipandu James Corden memunculkan kejutan. Di tengah acara, muncul Hillary Clinton yang menimbulkan tawa dan tepuk tangan meriah dari para undangan.

Kedatangan Hillary Clinton, meski melalui video, bukan tanpa tiba-tiba. Clinton menjadi salah satu pembaca buku Fire and Fury: Inside the Trump White House yang sempat menimbulkan kontroversi.

Sebelum Hillary muncul, Corden sempat berujar bahwa pemenang kategori Best Spoken Word Album tahun depan akan mungkin soal presiden Amerika Serikat saat ini, Donald Trump.



Corden menilai, hal itu mungkin terjadi bila buku Fire and Fury: Inside the Trump White House karangan Michael Wolff yang berisi sepak terjang Trump selama pemilihan presiden dan memimpin Gedung Putih menjadi nominasi Best Spoken Word Album.

Kategori Best Spoken Word Album merupakan kategori khusus yang memberikan penghargaan Grammy untuk sejumlah karya seni seperti buku audio, pembacaan puisi, atau penuturan kisah. Tahun ini, kategori itu jatuh kepada Carrie Fisher melalui memoarnya yang bertajuk The Princess Diarist.

Peluang kemenangan oleh presiden Amerika Serikat amat mungkin terjadi lantaran mantan presiden sebelumnya juga pernah memenangkan penghargaan ini seperti Barack Obama, Bill Clinton dan Jimmy Carter.


Dan untuk mempercepat proses penyeleksian kategori itu, Corden mengaudisi sejumlah tokoh untuk membacakan buku kontroversial tersebut.

John Legend, DJ Khaled, Cher, Snoop Dogg dan Cardi B muncul dalam video untuk membacakan beberapa kalimat dalam buku itu. Mereka semua gagal, Corden menilai tidak ada yang cocok dari mereka untuk menjadi narator.

Narator terakhir telihat menutupi wajah dengan buku itu. Ia membaca sembari menurunkan buku secara perlahan, narator itu adalah lawan Trump pada pemilihan umum presiden AS kemarin, Hillary Clinton.

Kisah di Balik Kemunculan Hillary Clinton di Grammy AwardsBruno Mars menyapu bersih kategori utama Grammy Awards 2018. (AFP PHOTO / Timothy A. CLARY)

"Ia sudah lama takut diracun, itu menjadi alasan mengapa ia suka makan McDonald. Tidak ada tahun ketika ia datang dan makanan aman dikonsumsi," kata Hillary dalam video.

"Itu dia, kami dapat (narator)," kata Corden.

"Anda berpikir begitu?," tanya Hillary.

"Ya," jawab Corden

"Grammy ada di dalam tas?," tanya Hillary.

"Ya ada di dalam tas," jawab Corden.

[Gambas:Youtube]

Buku Fire and Fury: Inside the Trump White House dirilis 5 Januari lalu. Buku itu membongkar segala tingkah laku Trump yang tak diketahui oleh publik.

Wolff mengklaim bahwa temuannya akan tingkah laku Trump di tahun pertamanya menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat mampu menggulingkan dia dari kursi orang nomor satu di Negeri Paman Sam.

Dalam buku, Wolff mengungkapkan bahwa Trump sering menggoda istri rekannya sendiri dan Gedung Putih nyatanya tak mengetahui program sang pimpinan.

Wolff juga mengungkapkan bahwa Trump bingung mengapa ia bisa memenangkan pemilihan umum, padahal di sisi lain ia menganggap Gedung Putih menakutkan.

[Gambas:Video CNN]

Wolff menyatakan kesimpulan dari buku yang ia tulis telah tersebar luas. Menurutnya, Trump tidak pantas menduduki jabatan tersebut.

Usai buku itu rilis dan menimbulkan kehebohan, Gedung Putih mengecam buku kontroversial tersebut.

Juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders menyebutnya sebagai "sepenuhnya fantasi". Seorang pengacara Trump pun mengirim surat agar Wolff dan penerbit menghentikan bukunya. (end)