FOTO: Budaya China-Jawa dalam Sekantong Boneka Wayang Potehi

Andry Novelino, CNN Indonesia | Minggu, 11/02/2018 16:06 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Boneka Wayang Potehi yang kerap dipentaskan di kelenteng-kelenteng menjelang Imlek, menyimpan sejarah percampuran budaya China dan Jawa yang kaya.

Potehi, dalam lafal Hokkian dari kata poo (kain), tay (kantong) dan hie (wayang), yang kemudian disebut sebagai boneka kantong. Pertunjukan boneka Potehi sudah dikenal pada masa Dinasti Tang (618-907). (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Kedatangan Wayang Potehi di Indonesia, khususnya di Jawa, tidak diketahui secara pasti. Migrasi etnis Tiongkok ke nusantara berabad-abad yang lalu menghasilkan percampuran Budaya, sehingga terjadilah proses akulturasi unsur budaya Tiongkok dan Jawa. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Di Jawa, Wayang potehi merupakan wayang para dewa karena digelar di kelenteng sebagai ungkapan rasa syukur kepada para dewa. Preservasi Wayang Potehi terjadi di daerah Jawa Timur, seperti Blitar, Gudo (Jombang), Malang, Tulunggagung, Sidoarjo. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Cerita pewayangan dalam Wayang China-Jawa didapat dari naskah-naskah China-Jawa yang ditulis tangan dalam aksara Jawa atau Latin dan karya sastra modern berupa roman, cerita pendek dan cerita bersambung yang dimuat di majalah berbahasa Jawa seperti Joko Lodhang dan Panjebar Semangat. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Budaya kaum peranakan di Indonesia merupakan kombinasi antara budaya lokal dengan negeri leluhur. Seperti kata sejarawan ahli Tionghoa, Profesor Leo Suryadinata, “Orang Tionghoa terlalu Tionghoa untuk disebut Indonesia, akan tetapi juga terlalu Indonesia untuk disebut orang Tionghoa”. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Pertunjukan Wayang Potehi dan Wayang kulit China-Jawa memperkenalkan tokoh-tokoh ksatria nan sakti seperti pejuang wanita “Hwan Le Hwa”, yang merupakan sosok jenderal, serta panglima perang dan sebagai Ibu Bumi Tong Tya. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Tokoh penting yang memberikan inspirasi akan kegigihan, semangat, kejujuran, kebijaksanaan serta integritas dalam pewayangan Potehi dan wayang kulit China-Jawa adalah sosok Raja Muda “Sie Jin Kwi”. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Sie Jin Kwi adalah seorang prajurit yang pantang menyerah dalam menghadapi takdir hidupnya, dengan ketulusan, kejujuran serta kesetiaanya ia menjadi sosok yang ditakuti para pesaing dan panglima perang pada masa Dinasti Tang. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Cerita tentang
Wayang Kulit China-Jawa dan Wayang Potehi sebagai warisan budaya bangsa Indonesia sudah hampir punah. Sejak berdirinya Sanggar Budaya Rumah Cinta Wayang (Rumah Cinwa) pada 23 November 2014, memperkenalkan kembali kesenian wayang dalam kemasan kekininan. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Wayang China-Jawa di era Milenial juga mulai muncul lagi dihadapan umum, khususnya Wayang Potehi dari Sanggar Rumah Cinta Wayang. Rumah Cinwa kerap memperkenalkan sejarah dan budaya China-Jawa melalui pementasan Wayang Potehi sampai ke pulau-pulau di luar Jawa. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Uniknya, banyak anak muda yang terdiri dari mahasiswa dan pelaku seni yang menjadi bagian dari seni pertunjukan Wayang Potehi. Sehingga kemasan yang diberikan dalam melakoni Wayang Potehi menjadi lebih kekinian dengan cerita sejarah yang mudah dimengerti khalayak umum. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Ibu Woro Mastuti merupakan salah satu pemerhati dan pelestari sejarah budaya kaum peranakan di Indonesia (China-Jawa). Ia menghidupkan kembali budaya kombinasi etnis China dan Jawa, dengan memperkenalkan Wayang Kulit dan Wayang Potehi kepada anak-anak muda bangsa Indonesia. (CNN Indonesia/Andry Novelino)