Mitos-mitos Gerhana Bulan dari Berbagai Negara

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Rabu, 31/01/2018 17:37 WIB
Mitos-mitos Gerhana Bulan dari Berbagai Negara Banyak mitos di balik gerhana bulan, termasuk yang akan terjadi hari ini, Rabu (31/1). (Ilustrasi/REUTERS/Jean-Paul Pelissier)
Jakarta, CNN Indonesia -- Malam ini, Rabu (31/1) langit akan dihiasi 'supermoon' yang diikuti dengan gerhana bulan total. Di balik fenomena yang ditunggu-tunggu itu, ada beberapa mitos yang banyak dibicarakan.

Pembahasan tentang mitos gerhana bulan sebenarnya sudah terjadi sejak dulu. Ada yang percaya gerhana bulan berpengaruh pada Bumi bahkan kesehatan tubuh. Kepercayaan itu bahkan bukan hanya ada di Indonesia, tetapi juga berbagai negara di dunia.

Berikut lima mitos yang dirangkum CNNIndonesia.com dari berbagai sumber.



1. Gerhana Bulan Menyebabkan Bencana

Fenomena supermoon terjadi karena jalur orbit bulan tidak berbentuk lingkaran sehingga jarak bulan dengan Bumi tak selalu sama. Saat bulan dekat dengan Bumi, bulan menghasilkan gaya gravitasi yang lebih kuat sekitar 42 persen daripada Bumi.

Fenomena pasang surut air laut di seluruh dunia pun jadi sangat fluktuatif. Meski begitu, pusat geologi Amerika Serikat membantah fenomena itu akan menimbulkan bencana.

"United State Geological Survey (USGS) dan lembaga penelitian lain sudah melakukan banyak studi tentang hal ini. Mereka tidak menemukan sesuatu yang signifikan tentang fenomena tersebut [kaitan supermoon dengan bencana alam],” kata Ahli Geofisika USGS John Bellini.


2. Wanita Hamil Dilarang Melihat Gerhana Bulan

Beberapa orang di India menyarankan wanita hamil untuk tidak melihat gerhana bulan. Mereka percaya anak yang berada dalam kandungan bisa cacat bila ibu melihat fenomena langka itu.

Wanita hamil juga disarankan tidak makan dan tidak keluar rumah saat gerhana bulan.

Namun Obstetri dan Ginekologi dari Rumah Sakit Rajan Dhall, Neema Sharma mengatakan gerhana bulan bisa berbahaya bagi semua orang. Apalagi bila melihat dengan mata telanjang. Sehingga, hamil atau tidak, melihat gerhana secara langsung memang bisa berbahaya.


"Radiasi matahari [saat gerhana] berbahaya untuk mata. Lakukan penanganan yang tepat bila melihat gerhana [dengan mata telanjang],” kata Sharma.

3. Bulan Dimakan Raksasa

Masyarakat Tidore percaya gerhana bulan terjadi karena raksasa memakan bulan. Zaman dahulu, Tidore memiliki tradisi memukul kentung dari bahan bambu untuk mengusir raksasa. Ritual itu dikenal dengan nama Dolo-Dolo.

Namun seperti yang sudah dijelaskan secara ilmiah, gerhana bulan terjadi karena fenomena alam, bukan adanya raksasa yang ‘memakan’ bulan sehingga bentuknya menjadi tidak umum.


4. Jaguar Memakan Bulan

Bukan hanya masyarakat Tidore yang punya kepercayaan bahwa bulan bisa ‘dimakan.’ Suku Inka juga percaya bahwa gerhana bulan total terjadi karena jaguar memakan bulan. Mereka percaya warna merah pada bulan adalah darah bulan yang keluar setelah dimakan jagur.

Setiap gerhana bulan terjadi, suku Inka takut karena jaguar akan turun ke Bumi untuk juga memangsa manusia. Untuk menangkal itu, suku Inka pun menodongkan tombak ke arah bulan dan membuat suara berisik.

“[Suku Inka] tidak melihat gerhana bulan sebagai hal yang baik," kata peneliti Lawrence Livermore National Laboratory David Dearborn.


5. Kehadiran Iblis

Bangsa Mesopotamia kuno juga melihat gerhana bulan sebagai pertanda negatif. Mereka percaya gerhana bulan terjadi karena diserang oleh tujuh iblis. Sementara di Bumi, dipercaya bahwa gerhana bulan adalah waktu yang tepat untuk menyerang raja.

Untuk mengantisipasi itu, selalu ada raja pengganti untuk menerima serangan tersebut. Mereka tetap akan diperlakukan dengan baik meski bukan raja yang sebenarnya. Namun setelah gerhana bulan berakhir, mereka akan dihilangkan. Konon, mereka dibunuh dengan diracun.


Sementara ada penggantinya, raja yang sebenarnya menyamar di antara masyarakat biasa.

"Kami mengetahui itu dari catatan tertulis. Biasanya orang yang dijadikan raja pengganti memang orang terbuang," kata direktur Griffith Observatory E.C. Krupp. (rsa)