Jatuh Bangun Imlek di Semarang, dari Presiden ke Presiden

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Jumat, 16/02/2018 08:17 WIB
Perayaan Imlek di Semarang yang tampaknya selalu semarak, ternyata pernah 'mati suri' saat zaman Belanda dan beberapa periode presiden. Semarak pasar malam Imlek di Pecinan Semarang. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Semarang, CNN Indonesia -- Semarang merupakan salah satu kota di Indonesia dengan budaya Tionghoa yang sangat kental. Bukan hanya karena punya Kelenteng Sam Po Kong dan kawasan Pecinan yang begitu hidup, perayaan Imlek di kota itu memang semarak setiap tahunnya hingga saat ini.

Tradisi nenek moyang etnis Tionghoa itu sudah ada sejak ribuan tahun lalu, dan tak lepas dari masuknya warga Tionghoa asli ke Indonesia pada tahun 400. Saat itu, kata budayawan Jongkie Tio kepada CNNIndonesia.com, mereka hanya membawa badan. Harta tak banyak.

Mereka tinggal di tempat berlabuh, kemudian berasimilasi dengan penduduk asli.



Mengutip buku Kota Semarang Dalam Kenangan karya Jongkie Tio, warga Tionghoa yang sampai di Semarang berbaur ke daerah Kranggan, Damaran dan Ambengan. Komunitas mereka kemudian berkembang pesat. Namun mereka tak langsung mengenalkan atau merakan Imlek.

Warga asli Tiongho itu menganut kepercayaan tiga agama (tridharma), yaitu agama Tao, Kong Hu Cu dan Budha. Mereka justru tak merayakan Imlek sebagai pergantian tahun. Pasalnya, Imlek di Tionghoa ditentukan oleh kaisar kerajaan untuk menyambut musim semi.

"[Tapi] di Indonesia tidak ada musim semi," kata Jongkie di Semarang, Selasa (13/2).

Semarak perayaan Imlek di Pecinan Semarang, sampai ada pasar malam.Semarak perayaan Imlek di Pecinan Semarang, sampai ada pasar malam. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Imlek di Semarang pun mulai dirayakan pada tahun 2000 kalender Tionghoa (1.449 Masehi). "Itu untuk memeringati kelahiran Nabi Kong Hu Cu [yang sebenarnya lahir pada 551 Sebelum Masehi]," kata Jongkie melanjutkan. Sejak itu perayaan Imlek berlangsung setiap tahun.

Bukan hanya warga keturunan Tionghoa, warga Semarang dengan berbagai latar suku dan agama pun ikut merayakan. Seperti dalam sejarah Tionghoa, Imlek memang bukan hari perayaan agama, melainkan hari perayaan menyambut musim semi yang ditentukan kaisar kerajaan.

Imlek dari Presiden ke Presiden

Perayaan Imlek yang semarak di Semarang sempat teredam karena ada pembantaian keturunan Tionghoa di Batavia (saat ini Jakarta) oleh Belanda pada 1740. Banyak orang Tionghoa yang melarikan diri ke berbagai daerah lewat laut ke arah Timur melalui jalur Pantai Utara.

Orang-orang itu kemudian sampai ke Semarang. Mereka lalu menyusun strategi dan mengalahkan Belanda, dibantu orang Indonesia asli. Namun Belanda tak tinggal diam. Mereka melawan balik, dan 'menggiring' warga keturunan Tionghoa ke satu daerah agar mudah diawasi.


Pada 1743, Belanda menempatkan mereka di Jalan Wot Gandul, Beteng, Gang Pinggir dan Kalikoping. Di salah satu sisi kawasan itu terdapat tangsi militer Belanda, sementara di sisi lain terdapat kali Wot Gandul dan perbukitan. Warga keturunan pun terkepung.

Kawasan itu yang menjadi cikal bakal Pecinan Semarang.

"Saat disatukan dalam kawasan Pecinan itu, perayaan Imlek hanya terjadi di dalam saja," ujar Ketua Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis) Harjanto Halim. Dengan begitu, warga keturunan Tionghoa membangun identitas dan ekonomi yang kuat.

"Kemudian baru tahun 1800-an perayaan Imlek mulai keluar lagi," katanya lagi.


Perayaan Imlek kembali terganggu pada zaman Orde Baru. Di masa itu, masyarakat sentimen terhadap warga keturunan Tionghoa. Mereka tak bisa melakukan sembahyang di kelenteng secara terbuka, tak ziarah ke kuburan leluhur dan tak merayakan Imlek dengan semarak.

Baru di era Presiden Abdurrahman Wahid, kata Harjanto, Imlek berkembang tertatih lagi, bagai bayi yang baru belajar jalan kembali. Pasalnya, ada satu generasi warga keturunan Tionghoa hilang saat rezim Orde Baru. Mereka bahkan takut disebut Tionghoa.

"Saat Orde Baru kan ada penggantian nama, kita tidak bisa melihat lagi seseorang masih ada ikatan sama marga apa karena nama marga tidak lagi di pakai. Seperti saya, nama China saya Tio Tik Wan, kemudian berubah jadi Daddy Budianto saat Orde Baru," kata Harjanto.

Tradisi Imlek di Pecinan Semarang, makan malam bersama di meja panjang.Tradisi Imlek di Pecinan Semarang, makan malam bersama di meja panjang. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Menurutnya, perayaan Imlek semakin membaik ketika Presiden Megawati Soekarnoputri memutuskan Imlek sebagai hari libur nasional. Keputusan itu juga menjadi bukti bahwa Imlek bisa dirayakan oleh siapa saja. Di Semarang, warga dari berbagai latar belakang suku dan agama merayakan Imlek dengan makan malam bersama di meja panjang berlapis taplak merah.

Kata Harjanto, itu disebut 'tok panjang' dalam istilah Tionghoa.

Tradisi itu dilakukan setiap tanggal 30 bulan Cap ji Gwee, bulan terakhir. Keluarga Tionghoa akan makan malam bersama dengan keluarga besar yang dinamakan duan yen fan.

[Gambas:Video CNN]

Bukan sekadar silaturahmi, tradisi makan malam bersama sebelum tahun baru memiliki arti yang lebih dalam. Di meja makan itu, semua orang duduk sama rendah, berdekatan dan memakan makanan yang sama tanpa perbedaan. Itu mencerminkan kerukunan antaragama maupun ras.

"Banyak teman saya di daerah lain atau wisatawan bilang Imlek di Semarang guyub sekali. Ya kami senang dinilai seperti itu, dari dulu pun kami sudah seperti ini," kata Harjanto.

Harjanto menjelaskan, dalam perayaan Imlek di Semarang juga ada penggabungan budaya Tionghoa dan Jawa. Itu terlihat pada dekorasi pohon tebu di beberapa sudut Pecinan. Pohon tebu biasanya juga ditumpuk menjadi satu di rumah orang keturunan Tionghoa sebagai representasi orang-orang yang berpelukan. Rupanya, ada makna khusus di balik tebu itu.


Kata Harjanto, tebu berasal dari bahasa Jawa: antebing kalbu. Artinya, mantap di hati.

"Ini memiliki makna yang positif. Kemudian dalam fengsui Tionghoa, tebu itu manis dan hijau, sehingga dimaknai positif. Dekorasi tebu ini penggabungan dua pandangan dari suku yang berbeda," kata Harjanto menutup penjelasannya. (rsa)