FOTO: Barongsai, Merawat Tradisi, Melestarikan Seni

Adhi Wicaksono, CNN Indonesia | Jumat, 16/02/2018 11:40 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Sejarah barongsai di Cileungsi sudah bercokol sejak puluhan tahun lalu. Saat barongsai lain dilarang Orde Baru, barongsai di Cileungsi tetap lestari.

Hampir setiap sore menjelang Tahun Baru Imlek, kawasan Kampung Pasar Lama, Cileungsi selalu dimeriahkan suara musik pengiring tarian barongsai dari anak-anak persaudaraan Tiong Gie Say yang sedang berlatih. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Bermarkas di Wihara Metta Dharma, persaudaraan Tiong Gie Say mulai merintis sejarah hingga berprestasi dalam kesenian barongsai. Berada di samping kompleks Wihara Dharma Bhakti yang diperkirakan berusia lebih dari 200 tahun, membuat pendatang sedikit sulit mencari tempat latihan Tiong Gie Say. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Tapi kesulitan itu seakan hilang ketika mulai terdengar ramai alunan musik tambur, gong dan simbal mengiringi atraksi kesenian barongsai. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Barongsai dipercaya masuk ke Indonesia seiring masuknya orang China dari daratan Tiongkok pada masa surutnya Majapahit. Ia semakin pesat pada masa kemerdekaan hingga awal '70-an, lalu tenggelam pada '70-an hingga akhir '90-an. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Barongsai sempat tenggelam pada '70-an karena kondisi politis yang saat itu terjadi di Indonesia. Awal 2000-an barongsai mulai bangkit dengan maraknya perayaan Imlek bagi masyarakat Tionghoa, setelah Presiden Indonesia keempat Gusdur memberi peluang itu. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Barongsai sendiri mulai ada di Cileungsi sejak 1954. Masyarakat sekitar mengenalnya dengan sebutan Barong Cam Sie atau Barong Pengki karena bentuknya terbuat dari papan yang menyerupai pengki. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Mulai '60-an masyarakat Cileungsi mulai menggunakan Barong Kilin Sai (berbentuk sejenis binatang bertanduk satu). Meski sempat dilarang pada medio '70-an oleh Orde Baru, warga Cileungsi khususnya Kampung Pasar Lama tetap memainkannya, meski hanya di kawasan kampung dan antarwihara saja. (CNNIndoneia/Adhi Wicaksono)
Hal tersebutlah yang membuat banyak masyarakat di kawasan Cileungsi masih bisa memainkan kesenian barongsai, ketika pada tahun 2000-an kesenian tersebut kembali marak dilakukan di area publik. (CNNIndoneia/Adhi Wicaksono)
Tingginya animo masyarakat pada kesenian barongsai membuat Hendra Rock dan Tan Pang Cuan meresmikan kelompok barongsai yang bermarkas di Wihara Metta Dharma, mengunakan nama Tiong Gie Say dan berpusat pada Kelompok Barongsai Gie Say asal Sukabumi. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Tan Pang Cuan salah satu pembimbing kelompok barongsai Persaudaraan Tiong Gie Say mengawasi rutinitas latihan tiap sore. Selain latihan barongsai, setiap Minggu di tempat tersebut juga diajarkan ilmu kungfu sebagai bekal bela diri dan pembentukan fisik sebelum menghafal gerakan Barongsi. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Pelatihan kungfu dan akrobat menjadi penting mengingat berat kepala barongsai bisa lebih dari 20 kilogram, sedangkan kepala liong sekitar 17 kilogram. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Kini Barongsai Persaudaraan Tiong Gie Say telah mencapai sejumlah prestasi, tampil dalam sejumlah acara berskala nasional bahkan menjuarai berbagai kompetisi nasional dan daerah dalam kategori Barongsai Tonggak Besi. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)