Perburuan Keliling Dunia Roi Rahmanto demi Koleksi Musik

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Sabtu, 21/04/2018 14:38 WIB
Perburuan Keliling Dunia Roi Rahmanto demi Koleksi Musik Roi Rahmanto tinggal bersama ribuan koleksi musik di rumahnya. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak seperti rumah kebanyakan, dinding ruang tamu Roi Rahmanto tak dihiasi foto keluarga, pernikahan atau wisuda. Alih-alih foto, hal-hal berbau musik memenuhi rumah di kawasan Bintaro Sektor 9, Tangeran Selatan itu. Roi memang kolektor musik sejak 1974.

"Mau minum apa? Air mineral?" anak bungsu Roi, Revi Meiriana menawarkan saat CNNIndonesia.com berkunjung ke rumahnya, beberapa waktu lalu. Roi sedang dalam perjalanan pulang. Ia memang masih banyak kesibukan di tengah usianya yang tak lagi muda, 56 tahun.

Kesukaan Roi mengoleksi berbagai pernik soal musik termasuk album fisik membuat profilnya layak dikisahkan untuk merayakan Record Store Day yang jatuh setiap 20 April. Sembari menunggu, saya menelusuri koleksi Roi yang mengular sampai ke belakang rumah. 



Di dinding di atas sofa ruang tamu, ada sederet album The Rolling Stone yang dipigura emas. Di dinding lain, terdapat action figure personel Kizz. Action figure John Lennon, Jimi Hendrix, Motley Crue dan beberapa musisi lain diletakkan di atas lemari bufet.

Revi lalu mengajak saya ke ruangan di bagian belakang rumah. Ruangan berukuran 3 x 4,5 meter itu berisi koleksi dari musisi Indonesia. Rilisan kaset dan piringan hitam dari Koes Ploes, The Rollies, Dara Puspita, Fariz RM serta sejumlah musisi lain menghiasi ruangan.

Tak jauh dari ruangan itu terdapat tangga menuju lantai dua. Dinding tangga juga dihiasi koleksi Roi. Kali ini poster musisi asing mengantarkan saya ke atas. Terdapat pula album Guruh Gipsy yang sudah ditandatangani dan master album Sakura (1980) milik Fariz RM.

Koleksi Roi Rahmanto termasuk action figure musisi.Koleksi Roi Rahmanto termasuk action figure musisi. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Tangga itu ternyata mengarah ke ruang keluarga di lantai dua. Tak berbeda dengan lantai satu, dinding ruang keluarga itu dipenuhi DVD konser dari berbagai musisi. Meja di sekeliling ruang keluarga dipadati action figure musisi, di antaranya adalah Metalica, Destiny's Child dan action figure bugil sang legenda, John Lennon serta Yoko Ono.

"Ini belum seberapa, di ruangan sebelah rumah lebih banyak koleksi. Ke sana yuk, tunggu Papa di sana," Revi kembali mengajak, kali ini ke ruangan yang terpisah dari rumah utama.

Ruangan itu berukuran 16 x 7 meter, dibagi menjadi dua. Satu ruangan khusus untuk koleksi The Beatles, satu ruangan lagi untuk koleksi musisi lain.

Koleksi Roi Rahmanto dipajang dengan rapi.Koleksi Roi Rahmanto dipajang dengan rapi. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Roi memajang koleksi The Beatles dengan sangat rapi, di balik etalase kaca yang menempel dengan tembok. Ia membuat diorama berisikan piringan hitam, kaset, pernak-pernik dan action figure yang disesuaikan dengan album band asal Inggris itu.

Saat saya sedang mengamati koleksi itu, Roi datang memasuki ruangan.

"Ya seperti ini koleksi saya. Belum semua saya pajang karena belum ada tempat yang cukup. Ruangan ini saja baru saya bangun 2015," kata Roi setelah menyapa.

Rumah Roi Rahmanto dipenuhi koleksi musik.Rumah Roi Rahmanto dipenuhi koleksi musik. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Di ruangannya memang masih ada beberapa barang yang masih terkemas rapi dan belum terpajang. Sejumlah hard case gitar terlihat menumpuk di lorong penghubung ruangan.

Roi berencana meningkatkan ruangan itu dan memperbesarnya dengan menghubungkan ke ruangan utama. Ia masih akan memajang koleksi dari 20 band lain seperti The Beatles, The Who, Jimi Hendrix, Metalica, Led Zeppelin, dan AC/DC. Apalagi koleksinya masih akan bertambah.


Koleksi Senilai Miliaran Rupiah

Koleksi yang jumlahnya mencapai ribuan itu berawal dari 1974, saat Roi membeli kaset album Rubber Soul (1965) dari The Beatles. Harganya masih Rp250 kala itu. Kaset dipilih karena harga piringan hitam masih sangat mahal. Tapi dari situ, Roi tergoda untuk terus membeli.

Punya rilisan fisik dari musisi favoritnya seakan jadi kewajiban.

Bersamaan dengan kaset, Roi juga membeli majalah musik seperti Aktuil, Musik Ekspres dan Pop Foto. Tujuan utamanya, selain dibaca, juga mendapat poster musisi di dalamnya.

Roi Rahmanto juga koleksi alat musik langka.Roi Rahmanto juga koleksi alat musik langka. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
"Zaman itu, kalau kamar anak muda enggak ada poster musisi, enggak keren. Saya semakin gila koleksi ketika tahun 1975 Deep Purple konser, sampai sekarang tiket konser saya simpan. Sejak itu saya koleksi sampai sekarang," kata Roi bercerita.

Tahun '90-an, Roi pindah ke Jakarta setelah lulus kuliah dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Namun ia tak berhenti membeli rilisan fisik atau memenuhi kamar dengan poster. Sembari menjadi arsitek, ia masih mengoleksi barang-barang berbau musik.

Bukan hanya di Indonesia, pria kelahiran Surabaya itu juga berburu barang musik ke luar negeri. Misi itu mulus lantaran istri Roi, Ina Amatul bekerja sebagai pramugari di Garuda Indonesia. Setiap tahun ia mendapat jatah gratis ke luar negeri sebanyak dua kali.


"Saya mulai terbang ke luar negeri itu tahun 1995, kira-kira saya sudah ke Amerika tiga kali, Australia 10 kali. Kemudian saya juga ke Jerman, Belanda, Inggris dan Hongkong. Berburu koleksi sambil jalan-jalan," kata pria kelahiran Agustus 1961 itu.

Perburuan Roi paling gila adalah ketika ia ke AS pada 2008, bersamaan dengan masa Pemilu dan krisis keuangan di negara itu. Alhasil, banyak orang menjual berbagai barang agar mendapat uang. Saat itulah Roi membeli plakat emas (gold record) milik The Beatles atas pencapaian penjualan 500 ribu kopi album mereka, Yesterday and Today.

Barang itu terbilang sangat langka lantaran tidak diperjualbelikan.

Roi Rahmanto bersama koleksinya yang mencapai ribuan.Roi Rahmanto bersama koleksinya yang mencapai ribuan. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Saat itu juga, Roi menemukan sebuah toko musik yang menjual barang-barang dengan harga murah. Tak mau rugi, ia membeli merchandise The Beatles dan beberapa musisi lain.

Tak terasa ia sampai menghabiskan uang sekitar Rp100 juta.

"Saya waktu itu sewa mobil SUV yang besar, di belakang itu penuh barang-barang koleksi. Tapi anak dan istri saya sudah mengerti hobi saya," kata Roi.

Roi memperkirakan koleksinya sekarang mencapai lebih dari 7.000 barang, yang terdiri atas piringan hitam, kaset, CD, alat musik replika, buku, merchandise dan action figure.

Roi Rahmanto memburu koleksinya sampai ke luar negeri.Roi Rahmanto memburu koleksinya sampai ke luar negeri. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Ia mengaku tidak pernah menghitung uang yang dikeluarkan untuk membeli barang koleksi. Namun jika dihitung, kurang lebih nilai dari semua koleksi tersebut mencapai Rp5 miliar.

Koleksi paling 'monumental' menurut Roi adalah bas Gibson Thunderbird IV yang pernah dimiliki bassis band The Who, John Entwistle. Salah satu sisi bas itu lecet karena banyak dipakai. Tapi pada bagian tengahnya, terdapat tanda tangan Entwistle.

"Ini saya beli dari orang yang menang lelang barang Hard Rock Cafe seharga Rp35 juta, saya lupa Hard Rock mana. Barang langka lain adalah action figure The Beatles yang dibuat tahun '60-an dan vinil warna putih album White Album milik The Beatles," kata Roi.

Koleksi musik Roi Rahmanto jika dinilai mencapai miliaran rupiah.Koleksi musik Roi Rahmanto jika dinilai mencapai miliaran rupiah. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Meski rumahnya sudah penuh koleksi, perburuan Roi tak usai di usia paruh baya.

Desember lalu Roi datang ke Sydney untuk menonton konser Paul McCartney. Pada kunjungannya ke negara kanguru itu ia membeli boneka personel The Beatles. Perburuannya juga akan berlanjut ke Liverpool, Inggris pada Agustus mendatang. Entah sampai kapan perburuan itu, yang jelas Roi masih punya daftar barang-barang yang ia inginkan, tertulis dalam buku.

Ia hafal mana barang yang belum dan sudah ia miliki. Pinball edisi The Beatles, Iron Maiden dan Rolling Stone adalah barang yang belum kesampaian ia miliki.

"Saya sangat jarang punya tabungan karena dibelikan koleksi terus. Tapi anak dan istri saya paham, mereka mengerti hobi saya. Koleksi ini untuk kepuasan pribadi saja," kata Roi.


Sampai saat ini, Roi belum berencana menjadikan ruang tempatnya menyimpan barang-barang koleksi sebagai museum dan terbuka untuk umum. Namun jika ada yang ingin melihat koleksinya, ia sangat terbuka. Ia bahkan bersedia bercerita, seperti kepada saya.

Dekat dengan Musisi Indonesia

Sejak mengoleksi barang-barang musik, Roi bergabung dengan Komunitas Pecinta Musik Indonesia (KPMI). Melalui komunitas ini ia kenal banyak musisi besar Indonesia.

Ahmad Dhani, Piyu, Ida Royani termasuk di antaranya. Ia bahkan pernah bertukar barang koleksi dari band Queen dengan Dhani. Roi juga sempat menjual beberapa majalah The Beatles kepada Piyu. Sementara Ida sempat meminjam majalah Aktuil untuk mengopi berita tentangnya.

Roi Rahmanto juga mengoleksi musik dari dalam negeri dan mengenal banyak musisi lokal ternama.Roi Rahmanto juga mengoleksi musik dari dalam negeri dan mengenal banyak musisi lokal ternama. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
"Kalau tidak salah waktu itu Ida Royani mau nyaleg, dia nyari data di majalah Aktuil. Dia pinjam majalah Aktuil satu tas," kata Roi.

Roi juga mengaku kenal dengan Guruh Soekarnoputra yang pernah tergabung dalam band Guruh Gipsy. Fariz RM dan Yon Koeswoyo pun pernah berinteraksi dengannya.

"Saya dapat master album Sakura dari Fariz. Kalau dari Yon, saya punya dua gitar yang pernah ia mainkan, ada tanda tangannya. Waktu itu dia menjual kepada saya, saya tidak bisa sebut berapa harganya," kata Roi.

Bukan hanya dekat dengan musisi senior, Roi juga kenal dengan musisi sekarang, seperti personel band GIGI, Naif dan Rian d'Masiv. Barang-barang mereka pun termasuk ia koleksi. (rsa)