Ulasan Film: 'The Secret: Suster Ngesot Urban Legend'

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Kamis, 26/04/2018 16:00 WIB
Ulasan Film: 'The Secret: Suster Ngesot Urban Legend' Raffi Ahmad sungguh bernyali merilis film 'The Secret: Suster Ngesot Urband Legend' dengan segala tantangan pasar dan kejanggalan ceritanya. (Dok. RA Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Raffi Ahmad sungguh bernyali. Bersamaan dengan euforia dan perilisan Avengers: Infinity War, ia melalui perusahaan filmnya, RA Pictures merilis film horor, The Secret: Suster Ngesot Urban Legend.

Film itu jadi karya kedua Raffi setelah sebelumnya rilis dengan Rafathar (2017). Kali ini, Raffi menggandeng sutradara Arie Aziz untuk menggarap film yang sejatinya pernah Arie buat sebelumnya. Bahkan Raffi dengan berani ikut duduk sebagai sutradara.

Pada 2007, Arie membuat film serupa bertajuk Suster Ngesot The Movie yang menggandeng Nia Ramadhani. Kala itu, di bawah MD Pictures, film tersebut sanggup menjual 768 ribu tiket dan masuk ke peringkat ke-lima film terlaris di tahun tersebut.


Kini, Raffi menyodorkan istrinya sendiri Nagita Slavina dan temannya, Marshanda kepada Arie untuk bermain dalam film tersebut.


Kisah The Secret dengan karya Arie sebelumnya juga tak banyak perbedaan, sama-sama soal suster yang dibunuh tak wajar lalu arwahnya gentayangan. Untuk menambah bumbu, The Secret pun diberi drama soal cinta.

Meski kisah film soal hantu yang disebut suster ngesot cenderung sama dan dikenal luas, The Secret gagal untuk membuat legenda urban itu jadi kekuatan yang menguntungkan. The Secret banyak memiliki alur cerita tak masuk nalar.

Kisah film ini bermula Kanaya (Nagita Slavina) yang merupakan anak seorang hartawan (Roy Marten) baru pulang ke Indonesia setelah sekolah di Melbourne. Namun ia terkejut, ayahnya yang tajir itu ternyata memiliki istri muda seumuran dirinya.

Tak kuasa menerima kondisi itu, Kanaya memutuskan melarikan diri ke vila keluarganya di pinggiran Jakarta. Ia diikuti oleh kekasihnya, Teddy (Raffi Ahmad). Namun di tengah perjalanan, Kanaya mengalami kecelakaan.


Ketika tersadar, Kanaya berada di sebuah rumah sakit tua di pinggiran Jakarta. Ia dibawa ke sana oleh Teddy. Namun bukannya sembuh, Kanaya merasa dihantui oleh sosok suster ngesot di rumah sakit tersebut.

Hantu itu bahkan terus mengikutinya hingga ia pulang ke vila. Demi mengalihkan ketakutannya, Kanaya kerap bermain dengan anak dari tetangganya, Lala yang memiliki indra keenam dan Marsha (Marshanda). Namun teror si suster ngesot itu terus menghantui Kanaya.

Mengangkat kisah legenda masyarakat urban memang butuh strategi matang, salah siasat justru akan membuat film amat membosankan. Salah satu strategi yang memungkinkan dilakukan adalah memainkan alur cerita.

Tapi tampaknya penulis Demas Garis dan Talitha Tan terlalu asyik memainkan cerita hingga lupa akan logika yang mengalir dalam film ini. Pun Arie dan Raffi yang duduk di bangku sutradara abai dalam memperhatikan hal tersebut.

[Gambas:Youtube]

Sebut saja ketika Kanaya harus terpaksa dirawat di rumah sakit kuno yang tak terawat, di kelas paling awam, padahal ia anak miliuner yang tampak hanya asyik memamerkan mobil mewah dan perabotan mahal serta pesta sambil bermain biliar.

Pun dalam kisah film tersebut, Teddy dikisahkan seorang pemuda dari keluarga sosialita dan kaya raya dengan mobil mewah sebagai kendaraannya.

Bahkan untuk sekelas film horor yang mengangkat legenda masyarakat urban berlokasi di pinggiran Jakarta, jumlah keberadaan mobil mewah dalam film ini dirasa terlalu banyak sampai terasa bak pameran.

Bukan hanya itu. The Secret: Suster Ngesot Urban Legend dalam sajiannya membuktikan diri sebagai film aji mumpung mengekor euforia ketenaran film horor sukses sebelumnya dengan banyak adegan yang mengingatkan pada film-film tersebut.

[Gambas:Instagram]

Terlepas dari cerita yang tidak masuk akal, adegan-adegan menakutkan alias jumpscare yang muncul juga mudah ditebak. Scoring musik pun terasa berlebihan.

Bagi sebagian produsen film, menggunakan nama terkenal dalam film untuk mendongkrak penjualan tiket agaknya amat kental terasa dalam film ini meski tak menjamin kualitas yang ditawarkan kepada penonton.

Padahal, di sisi lain, penonton bioskop sudah mulai cerdas dan kritis memilah film yang akan ditonton di tengah era baik kebangkitan film Indonesia karena konten, bukan cuma sekadar nama besar pemain atau gimik serta tren yang berkembang.

Sudah sepatutnya sineas, apalagi yang muda dan memiliki modal cukup besar seperti Raffi Ahmad, memikirkan dengan masak-masak kualitas film dari segi konten, bukan hanya sekadar ikut tren apalagi cuma mengeruk keuntungan dari penggemarnya yang setia menanti karya mereka.

[Gambas:Instagram]

Atau Raffi sebenarnya dapat investasi ke sineas lokal berkualitas yang masih banyak menghadapi masalah dana, alih-alih membuat film hanya sekadar 'buang-buang duit'.

Namun tak semua bagian dalam The Secret: Suster Ngesot Urband Legend bikin dahi berkerut. Satu-satunya bagian yang menarik hanyalah ketika komedian Nunung berhadapan dengan komika Mongol. (end)