Ulasan Film: '212 The Power of Love'

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Kamis, 10/05/2018 16:17 WIB
Ulasan Film: '212 The Power of Love' Film '212 The Power of Love' sudah bisa disaksikan di bioskop mulai Rabu (9/5). (dok. Warna Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Euforia yang melingkupi film 212 The Power of Love sebelum tayang sepertinya terlalu berlebihan. Film yang disebut terinspirasi dari kisah nyata Aksi Bela Islam 212 itu justru hanya menjadikan peristiwa itu sebagai latar dan terjebak pada konflik karakter utamanya.

Film itu berpusat pada karakter Rahmat (Fauzi Baadila), jurnalis majalah Republik yang tak percaya ajaran agama. Karakternya yang dingin dan idealis dicoba dibangun dengan kuat, lewat fakta bahwa ia adalah lulusan terbaik Harvard University dan pengagum Karl Marx.

Namun penggambaran bahwa Rahmat setuju dengan pernyataan Marx bahwa 'agama adalah candu' kurang dieksplorasi. Ia hanya diperlihatkan mencari wajah Marx di Google lewat komputer di kantornya. Argumennya di rapat redaksi pun seakan dipaksa dihubungkan dengan gagasan Marx.



Dari pengenalan karakter Rahmat sebagai jurnalis terbaik di Indonesia yang berkantor di Jakarta, 212 The Power of Love mengantarkan penonton ke Ciamis, kampung halaman sang tokoh utama. Ia terpaksa pulang karena ibunya meninggal. Padahal 10 tahun ia tak menyambangi keluarga. Apalagi Rahmat berkonflik dengan ayahnya, kiai Zainal (Humaidi Abbas).

Pertemuan Rahmat dengan sang ayah tak ayal diwarnai ketegangan. Terutama saat Rahmat mendengar ayahnya ingin ikut Aksi 212 di Jakarta. Rahmat pun melarang, lantaran ayahnya sakit-sakitan. Namun Zainal ngotot berjalan kaki dari Ciamis ke Jakarta untuk aksi itu.

Rahmat yang awalnya tak percaya agama pun harus terjebak dalam aksi yang menuntut penegak hukum memproses pejabat Pemprov DKI Jakarta karena kasus penistaan agama itu, demi menjaga sang ayah sekaligus membujuknya untuk tak ikut-ikutan aksi lebih dalam lagi.


Seperti disinggung sebelumnya, sutradara Jastis Arimba seakan hanya berputar pada konflik keluarga antara Rahmat dan ayahnya yang tak kunjung usai. Aksi 212 hanya menjadi latar dan penguat konflik, yang sayangnya tak sekaligus menjadi solusi hubungan Rahmat dan ayahnya.

Film itu pun seakan tak berhasil menyampaikan pesannya. 'The power of love' atau kekuatan cinta yang dijadikan judul, seakan dipaksakan masuk ke dalam film lewat satu karakter.

Alhasil, konflik yang berkepanjangan dan mudah tertebak membuat film seperti sinetron. Meskipun, film itu tentu sarat nilai baik soal agama, cinta dan keluarga.

[Gambas:Youtube]

Sayangnya Jastis yang dibantu Ali Eunoia sebagai penulis naskah juga tak menggarap film itu dengan mulus dari segi teknis. Ada beberapa adegan percakapan yang sangat terasa bahwa dialognya di-dubbing. Itu terlihat jelas karena gerakan mulut tak sesuai suara.

Sutradara juga kurang memperhatikan logika waktu. Ada satu adegan di mana pada suatu malam Rahmat diperlihatkan sedang menonton laporan langsung reporter televisi. Namun laporan di televisi justru terang benderang seperti di siang hari. Padahal, disebutkan itu 'live.'

Belum lagi green screen yang terasa di beberapa adegan. Kualitas gambar terasa 'belang' saat menampilkan massa Aksi 212, seakan mengambil dokumentasi yang sudah ada, alih-alih membuat rekaannya sendiri dengan syuting di tempat aslinya, Monas. Sementara untuk adegan aksi, kebanyakan ditampilkan secara medium shot yang hanya memperlihatkan sedikit orang.


Bahkan penggunaan green screen pun terasa di rapat redaksi.

Naskah yang kurang matang dan pengungkapan bahasa kamera yang tak mulus membuat film yang digarap rumah produksi Warna Pictures itu cukup mendapat angka 6 dari 10. Meski begitu, 212 The Power of Love bisa dibilang laris. Film yang bisa ditonton di jaringan bioskop XXI dan CGV blitz sejak Rabu (9/5) itu penuh di hari pertama. Penontonnya membeludak.

Tampaknya 'the power of love' lah yang melariskan film itu. (rsa)