Hanung: 'Bumi Manusia' Itu Soal Cinta Minke dan Annelies

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Senin, 28/05/2018 14:05 WIB
Hanung: 'Bumi Manusia' Itu Soal Cinta Minke dan Annelies Hanung Bramantyo menganggap novel 'Bumi Manusia' tak seberat 'Ayat-Ayat Cinta', ia pun menilai cerita dalam karya Pram itu adalah kisah cinta remaja. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Yogyakarta, CNN Indonesia -- Hanung Bramantyo telah ditetapkan sebagai sutradara untuk film Bumi Manusia yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Pramoedya Ananta Toer.

Belum lama ini ia telah mengumumkan lokasi syuting serta sejumlah pemain yang akan terlibat.

Aktor muda Iqbaal Ramadhan ia pilih untuk berperan sebagai Minke, Sha Ine Febrianti sebagai Nyai Ontosoroh, aktris pendatang baru Mawar Eva de Jongh sebagai Annelies, serta Ayu Laksmi dan Donny Damara sebagai orangtua Minke.


Pada kesempatan yang sama di Yogyakarta, CNNIndonesia.com berbincang dengan Hanung soal film Bumi Manusia yang akan mulai syuting pada Juli mendatang.


Apa yang akan dilakukan Hanung untuk Bumi Manusia?

Saya ingin membawa Bumi Manusia kepada novelnya, sesuai novelnya.

Tapi kadang sering sekali saya menjumpai orang ketika diminta tanggapan soal novel Bumi Manusia selalu menganggapnya, "ini novel yang sangat berat, novel sastra yang sangat tinggi," kemudian memfilmkannya bakal sulit.

Makanya, mari kembali membaca Bumi Manusia dalam konteks sekarang. Bumi Manusia yang ditulis pak Pram ini sangat melampaui zamannya.

Apa yang Hanung tangkap dari Bumi Manusia?

Jadi kalau dilihat, seandainya yang nulis bukan pak Pram dan judulnya bukan Bumi Manusia, (inti cerita) Minke dengan Annelies itu hubungan cinta.

Ada anak muda yang lagi galau dengan dunianya, dunia dengan perubahan yang sangat cepat ini.

Tiba-tiba ditantang teman sekolahnya untuk 'hayuk berani enggak ke rumah itu, ke daerah itu, ada cewek cantik, kita taruhan yuk bakalan suka sama siapa.'

Para pemeran film 'Bumi Manusia'.Para pemeran film 'Bumi Manusia'. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)

Itu sebetulnya kan cinta yang sekarang, Minke itu memutuskan untuk 'gue berani ayok kita ke sana,' baru kemudian Minke dan temannya saling bersaing. Seperti kisah sekarang, tapi diletakkan pada masa tahun 1900-an.

Di situ yang kemudian membuat pergulatan cinta ini menjadi semacam hubungan yang harmonis sekaligus tragis.

Saya pikir saat baca (buku) Bumi Manusia, dibanding Ayat-Ayat Cinta, lebih berat Ayat-Ayat Cinta.

Kenapa Ayat-Ayat Cinta?

Karena Ayat-Ayat Cinta bicara tentang suami-istri, yang mau berpoligami, ada fitnah, pembunuhan segala macam. Lebih berat Ayat-Ayat Cinta dibanding Bumi Manusia. Itu menurut saya seperti itu.

Makanya mari kita membaca lagi Bumi Manusia disesuaikan dengan konteks zaman sekarang.

Jadi buat saya, Bumi Manusia adalah sebuah novel yang hebatnya adalah novel yang sangat remaja, sangat ABG, tetapi punya nilai konteks zaman yang langgeng, yang tidak pernah lekang.


Jadi kalau mau diproduksi 10 tahun ke depan, dengan sutradara dan pemain yang berbeda, itu masih relevan, apalagi sekarang banyak Minke-Minke muncul di era sekarang.

Mereka adalah anak-anak muda yang sudah tidak lagi apolitis ahistoris, mereka pembaca-pembaca sejarah, mereka orang yang care, bisa dengan mudah mengkritisi pemerintah, #2019ganti apa-apa. Itu sebenarnya pergerakan anak muda. Mereka yang buat meme, ejekan politik.

Berarti bagi Hanung, novel Bumi Manusia 'tidak berat'?

Sebetulnya saya sangat tidak setuju menyikapi novel Bumi Manusia adalah novel yang berat, yang hanya bisa dinikmati budayawan-budayawan saja.

Oh tidak, ini novel harus bisa dinikmati, seharusnya dinikmati remaja milennial.

Apa pendekatan film ini berarti lebih ke anak muda?

Tinggal bagaimana spirit anak muda ini, yang ditulis pak Pram, pada zamannya saat itu, kemudian ditulis kembali, difilmkan sekarang, packaging-nya disesuaikan sekarang.

Kita punya banyak referensi film biopik, biografi atau film-film epik yang menampilkan warna-warna tidak monoton, yang tidak hanya sephia. Kita lihat The Grand Budapest, itu film tahun 1920, tapi warnanya pink, full color ada merah juga.

Iqbaal Ramadhan bakal berperan sebagai Minke di film 'Bumi Manusia'.Iqbaal Ramadhan bakal berperan sebagai Minke di film 'Bumi Manusia'. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)

Kita tidak harus terjebak pada dikotomi film dengan tema kolonial, tema sejarah itu gambarnya harus hitam putih, harus suram.

Saya memulainya dari film Kartini, Kartini gambarnya sangat full color, tapi di gambar yang beredar Kartini selalu menggunakan putih, mau tidak mau harus mengikuti mereka.

Ini kan [Bumi Manusia] fiksi jadi bisa bebas menggunakan warna-warna pastel sebetulnya, kecuali Nyai Ontosoroh, kebetulan seorang nyai kebanyakan menggunakan warna putih. Itu sebuah hal yang kita tidak bisa lari dari sana itu lho.

Proses castingnya bagaimana sampai memilih Iqbaal?

Sudah pilih Iqbaal sejak membedah skenario, sebelum Dilan 1990 tayang. Saat itu juga ada kemungkinan lain, Iqbaal, kemudian pemain The Gift Bona sama pemain Garuda di Dadaku Emir Mahira.

Saat itu Iqbaal masih kecil, ada pilihan Reza [Rahadian] juga. Ini pertanyaannya waktu itu, film ini [Bumi Manusia] mau dimainkan sama yang populer semua, seperti Reza, Christine Hakim, Chelsea Islan.

Jadi seperti merayakan Pram dengan pemain hebat Indonesia lintas generasi. Christine dulu nomor satu, sekarang Reza nomor satu dengan Chelsea wanitanya. Dulu inginnya begitu.

Tapi kalau begitu kita cheating. Karena di novelnya [Minke] 20 tahun. Reza sudah mau 30 tahun bahkan, kalau begitu akhirnya konsep kayak Kartini, naik semua usianya. Kartini waktu itu umurnya seperti Mawar [16 tahun], naik kayak Dian (Sastrowardoyo), masih terbuka begitu saat itu.

Lalu tiba-tiba Aris [Salman Aristo] bilang bahwa Dilan sudah naik. Dia bilang 'Lu lihat Iqbaal di Dilan'. Gue lihat dan langsung ini Minke.

Kenapa?

Kegalauan Minke, kegalauannya. Anak muda, soknya, sok jago itu Iqbaal begitu di Dilan. Apakah Dilan di novel seperti itu saya tidak tahu, tapi Iqbaal mainkan Dilan dengan sok jagonya, bisalah main jadi Minke.

Suka atau tidak, Dilan box office. Yang suka tidak hanya Millenial, tapi lintas generasi. Ibu-ibu arisan ngomongin Dilan. Pilihan Iqbaal sudah sesuai novelnya, tidak mau cheating.

Bagaimana Anda melihat pandangan masyarakat soal anggapan Hanung terlalu berambisi bikin film beberapa waktu terakhir?

Sebetulnya kita tidak bisa menyenangkan banyak orang, susah ya kalau ukuran sebuah film berhasil dari suka atau tidak suka.

OK, banyak sekali yang memuji Kartini, bahkan di-review di situs yang bukan kacangan, itu dipuji, kemudian diputar PBB tapi kemudian penontonnya 400 ribu apakah itu ukuran bagus tidak?

Sementara, Benyamin Biang Kerok yang dianggap film gagal, dikritik. Itu dapat 730 ribu, jadi saya juga bingung.


Artinya, menjawabnya kita tidak bisa menyenangkan banyak orang, di satu sisi banyak mendapat cela, tapi mendapat penonton lebih banyak dari film-film saya yang dipuji.

Kayak The Gift setelah rilis banyak komen positif, tapi nanti lihat penonton berapa.

Jadi susah maunya seperti apa, nah nanti kita lihat Bumi Manusia apakah akan dapat hal yang sama, tapi saya harap dapat kembali bahwa saya buat film untuk siapa dan seperti apa.

Di Bumi Manusia ini saya membuat film untuk merayakan ideologi. Eh bukan ideologi, tapi spirit pak Pram yang mana kita sebagai orang Indonesia, itu harus miliki dua hal: bangga pada kebudayaan, tapi juga jadi warga negara yang global.

Jadi relasi harus menembus wilayah bukan hanya nation, tapi lebih dari itu. Itu yang disebut manusia sejati dalam Bumi Manusia, sebetulnya itu cita-cita pak Pram, itu yang ingin saya hadirkan itu saja. (end)