SHINee Curhat soal Kehidupan Setelah Kepergian Jonghyun

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Kamis, 31/05/2018 14:56 WIB
Personel SHINee blak-blakan soal bagaimana mereka menghadapi situasi dan menata kembali hidup, setelah ditinggal sang vokalis utama Jonghyun pada Desember lalu. Personel SHINee blak-blakan soal bagaimana mereka menghadapi situasi dan menata kembali hidup, setelah ditinggal sang vokalis utama Jonghyun pada Desember lalu. (CNN Indonesia/Resty Armenia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Boyband SHINee belum lama ini merilis album mini terbaru The Story of Light. Album itu menjadi langkah pertama mereka usai vokalis utama Jonghyun wafat pada Desember lalu.

Selama masa promosi album tersebut, tepatnya dalam acara bincang-bincang hit Radio Star, grup asal Korea Selatan ini mencurahkan kehidupan mereka sebagai kuartet, setelah ditinggal Jonghyun. Mereka mengaku sempat ragu untuk tampil hanya berempat di depan publik.

"Kami khawatir melakukan pertunjukan secara umum. Ada bagian dari berbagai acara di mana kau harus melakukannya dengan cara menyenangkan, jadi saya bertanya-tanya apakah ini hal yang benar untuk dilakukan," kata Minho.



Bukan hanya masalah tampil, ia mengungkapkan bahwa mereka sempat ragu merilis album dan mempromosikannya.

"Seiring waktu berlalu, kami mengumpulkan lagi diri kami dan berbicara tentang masa depan, dan saya pikir emosi kami mulai tenang," tambahnya.

Ikut menambahkan, Taemin memaparkan kondisi itu turut mengubah dirinya menjadi lebih terbuka.

"Saya menjadi ambisius tentang kegiatan solo saya dan tepat pada saat itu saya menyadari rekan-rekan saya benar-benar hebat," ungkapnya sembari berkaca-kaca.

Sementara, setelah kepergian Jonghyun, Onew dan Key mengaku menerima konseling untuk memulihkan kondisi mereka. Menurut Onew, ia melakukan itu karena tak dapat menangis untuk melepas emosinya saat itu.

"Itu seperti, pada awalnya saya pikir saya tidak boleh menangis," ungkapnya yang kemudian tak sanggup melanjutkan ceritanya.

Onew menangis dan meminta maaf, setelah pemandu acara menyarankan dia tak perlu berbicara tentang apapun yang membuatnya sedih. Sedangkan Key mengaku menerima konseling dan pengobatan untuk gangguan stres pascatrauma.

"Ada alasan mengapa kami memutuskan untuk mengadakan konser di Jepang dan muncul di 'Radio Star.' Kami tak bisa melihat itu sebagai penyebab keruntuhan kami, dan meskipun ungkapan 'mengatasi' juga tidak benar," katanya.


Key pun mengatakan bahwa setelah terjadi, baginya sangat sulit untuk pergi keluar dan berhadapan dengan orang-orang yang terus menanyakan kabarnya.

"Jadi saya menulis di akun media sosial saya, meminta orang untuk memperlakukan saya seperti biasanya sehingga saya dapat kembali ke kehidupan normal saya," katanya.

Lebih lanjut, Key pun mengungkap bahwa konser di Tokyo Februari silam menjadi persembahan untuk Jonghyun dan para penggemar. Belum lagi, konser itu memang telah direncanakan setahun sebelumnya untuk pentas mereka berlima.

"Saya tak pernah membayangkan bahwa ada hal-hal buruk yang dikatakan tentang itu. Ada juga komentar yang diunggah, mereka mengatakan bahwa kami menggunakan acara yang menyedihkan sebagai pemasaran. Saya benci mendengar itu begitu banyak," katanya.

Taemin pun menimpali, dikutip MBC via Naver, dirinya selalu berusaha untuk menunjukkan sesuatu yang baik untuk orang lain. Namun kini, ia lebih berpikir itu akan dilakukannya untuk mereka lebih dulu.


"Kami bekerja bersama begitu lama dan hasilnya adalah jika kami tidak mengatasi ini, maka anggota kami akan berpisah, dan kami tidak menginginkan itu, jadi kami memutuskan kami harus berusaha mengatasinya. Itu sama dengan album," ujar Taemin.

Secara keseluruhan, Minho mengatakan bahwa dirinya tidak berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun, ia yakin saat dia dan anggota SHINee yang lain tampil atau mendengar lagu mereka diputar, itu menjadi sumber kekuatan mereka bertahan.

SHINee merilis album mini The Story of Light Ep. 1 sekaligus video musik untuk lagu Good Evening pada 28 Mei lalu.

[Gambas:Youtube]

(res)