Analisis Tasya dan Chikita Meidy soal Minimnya Lagu Anak Kini

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Minggu, 24/06/2018 11:32 WIB
Analisis Tasya dan Chikita Meidy soal Minimnya Lagu Anak Kini Mantan penyanyi cilik Tasya dan Chikita Meidy menganalisis sebab minimnya lagu anak kini. (CNN Indonesia/Andito Gilang)
Jakarta, CNN Indonesia -- Banyak yang berpendapat bahwa lagu anak Indonesia masa kini tak sebanyak dan sepopuler beberapa dekade lalu. Mantan penyanyi cilik Tasya Kamila dan Chikita Meidy mencoba menganalisis penyebab tirisnya lagu anak-anak saat ini.

Sebagai penyanyi cilik yang sangat aktif di era '90-an, Tasya dan Chikita berpandangan bahwa karya mereka bisa mendapatkan popularitas berkat dukungan penuh media, khususnya stasiun televisi, yang pada masa itu menjadi platform utama anak-anak dalam mendapatkan hiburan.

Stasiun televisi saat itu masih getol menayangkan video musik anak dan menggagas program-program yang mengekspos pendidikan anak.



Namun, kondisi itu tak terjadi saat ini. Keberadaan penyanyi cilik masa kini, seperti Romaria, Adyla Rafa Naura Ayu dan Saga Omar Nagata, fakir dukungan pasar dan media masa kini.

Dalam analisisnya, Tasya menyebut ada empat hal yang memicu kurang banyaknya lagu anak zaman sekarang. Keempat hal yang terkait satu dengan lainnya itu antara lain; man (manusia), money (uang), method (metode), dan media.

Dari segi manusia, Tasya mengatakan saat ini sudah tidak banyak pencipta lagu yang berdedikasi seperti dulu. Di era '90-an, musisi yang fokus membuat lagu anak salah satunya adalah Nugroho Setiadi alias Kak Nunuk.

Tasya menyebut ada empat hal yang menyebabkan minimnya lagu anak saat ini.Tasya menyebut ada empat hal yang menyebabkan minimnya lagu anak saat ini. (CNN Indonesia/Andito Gilang)

Di segi metode, menurut Tasya lagu anak tak lagi memiliki ruang di televisi dan kurang mampu mengimbangi pesatnya era digital saat ini. Sementara di segi uang, jarang ada musisi yang mau memproduksi lagu anak lantaran pasar yang minim.

"Media sekarang mau enggak nyuguhin lagu anak? Sekarang enggak ada. Saat ini kurang populer saja, lebih banyak lagu orang dewasa yang terdengar," kata pelantun lagu Anak Gembala ini saat berbincang dengan CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Pernyataan serupa disampaikan mantan penyanyi cilik Chikita Meidy. Ia menyebut bahwa alih-alih menampilkan lagu atau acara anak, televisi kini lebih peduli bagaimana mengerek rating.


Chikita bercerita, pada 2010 lalu ia sempat membawakan program televisi bertajuk Instinct For Kids. Namun, program itu tak berlangsung lama lantaran gagal mendulang rating.

"Program saya di-cut, katanya kurang menarik. Diganti sinetron yang kurang mendidik," ujarnya.

Walau ada beberapa program pencarian bakat anak-anak, Chikita menilai televisi masih belum sepenuh hati dalam memberikan dukungan. Menurutnya, dalam acara seperti itu, anak-anak diminta menyanyikan tembang orang dewasa, alih-alih lagu lagu anak.

Pembajakan karya, papar Chikita, juga menjadi salah satu alasan mengapa lagu anak kian sedikit. Ia menuturkan pembajakan sangat merugikan musisi dan pihak yang memproduksi lagu, karena karya merupakan sumber pendapatan mereka.

"[Lagu anak] datar-datar saja saat ini. Sebenarnya yang bisa menggerakkan itu diri kita sendiri, menyampaikan informasi lagu anak ke anak-anak sekarang," kata biduan berdarah Minang ini.

Pelantun lagu Kuku Ku ini berpandangan televisi menjadi salah satu kunci lagu anak bisa kembali berjaya. Ia mencontohkan di era '90-an di mana stasiun televisi saat itu menayangkan program anak tiga kali sehari.


Sementara, menurut Tasya, para musisi yang ingin bergerak 'menyelamatkan' lagu anak harus terus berkarya dengan membuat tembang berbobot untuk generasi cilik. Ia pun menyebut lagu anak harus dikemas menarik agar bisa bersaing dengan konten lain, jika nantinya disebarkan lewat media sosial, seperti Youtube.

[Gambas:Video CNN] (res)