Merangsang Lagu Anak-Anak Indonesia Bangkit Kembali

Resty Armenia, CNN Indonesia | Minggu, 24/06/2018 19:12 WIB
Merangsang Lagu Anak-Anak Indonesia Bangkit Kembali Berbagai upaya dinilai perlu dilakukan demi merangsang kebangkitan kembali lagu anak-anak dalam negeri. (Screenshot via Youtube/@MyMusic Records)
Jakarta, CNN Indonesia -- Keberadaan lagu anak di Indonesia kian berkurang. Jika dibandingkan zaman '70-an hingga '90-an, lagu anak dan para penyanyi cilik tumbuh subur dan mendapat tempat di hati masyarakat. Namun, hal itu tak terjadi di era 2000-an hingga kini.

Banyak hal yang mempengaruhi terhentinya perkembangan lagu anak di Indonesia, salah satunya ekosistem musik anak yang sudah tak lagi kondusif.

Direktur Edukasi Ekonomi Kreatif Deputi Riset Edukasi dan Pengembangan Badan Ekonomi Kreatif, Poppy Savitri, menyebut hal itu bisa menyebabkan tak ada rangsangan untuk para penulis lagu dalam melahirkan tembang anak-anak yang bermutu.



Poppy lantas memaparkan beberapa upaya yang dilakukan Bekraf demi merangsang kebangkitan kembali lagu anak. Misi pertama yang baru saja selesai dieksekusi, yakni menciptakan ekosistem industri musik anak dengan mengadakan Lomba Cipta Lagu Anak 2018. Untuk misi ini, Bekraf menggandeng Miles Film yang sedang meluncurkan sinema anak Kulari ke Pantai.

"Membentuk kembali ekosistem industri nyanyian anak anak. Lomba ini bagian dari membentuk kembali ekosistem tersebut," ujar Poppy kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat.

Selain itu, menurut Poppy, hal yang perlu dilakukan adalah mengadakan kajian, riset, data data tentang sejarah musik kita termasuk lagu anak anak, sehingga ada referensi yang kuat untuk menentukan langkah ke depannya.

Lebih jauh, Poppy menilai para pelaku kreatif yang ingin fokus dalam bidang dan industri lagu anak harus diedukasi dan diberi kemudahan dalam mengakses permodalan, baik perbankan maupun non-perbankan.

"Kita perlu mendorong pemasaran karya lagu anak-anak agar dapat diakses oleh publik, misalnya dengan ide melalui radio yang khusus memutar lagu anak-anak," katanya.

Jika nantinya karya musik anak sudah mulai terlihat, Poppy menyebut perlu dilakukan perlindungan hak cipta sebagai bagian dari Hak Kekayaan Intelektual para musisi dengan berbagai peran (penulis lagu, penyanyi, dan sebagainya) pada industri ini.

"Dan terakhir, kita perlu untuk membentuk kerja sama penta helix, karena untuk membentuk ekosistem tersebut dibutuhkan kerja sama antara Pemerintah, asosiasi dan komunitas, swasta, akademisi dan pers," ujarnya.


Lagu-lagu Tasya masih didengarkan oleh anak-anak zaman sekarang.Lagu-lagu Tasya masih didengarkan oleh anak-anak zaman sekarang. (Screenshot via Youtube/@TasyaVEVO)

Kesadaran Orangtua

Profesor musik dan komposer handal Tjut Nyak Deviana Daudsjah berpandangan bahwa selama ini sudah banyak sekali lagu anak-anak Indonesia yang sudah direproduksi dan diaransemen ulang tersebar di Youtube dan platform lain di internet.

Namun, menurut pendiri Institut Musik Daya Indonesia itu, karena musik yang ditampilkan masih amat sederhana yakni dengan menggunakan Musical Instrument Digital Interface (MIDI) alih-alih instrumen asli, maka aransemennya kurang begitu menarik. Karenanya, ia tak heran jika lagu-lagu itu kemudian tak menarik minat dan tak banyak menghasilkan.

Deviana pun menyayangkan fakta bahwa tidak terlalu banyak sekolah-sekolah yang mengajarkan lagu-lagu anak kepada para siswanya. Hal ini, membuat siswa tidak tahu keberadaan lagu anak-anak dan kemudian membuat para penulis lagu lokal malas untuk menciptakan lagu anak.

"Jadi solusinya itu dengan menyadarkan kembali pada orangtua dan sekolah soal betapa pentingnya lagu anak," katanya kepada CNNIndonesia.com saat dihubungi lewat sambungan telepon.

Ia menambahkan, "Saya juga usul, bagaimana kalau dari pihak media, khususnya televisi karena paling banyak ditonton orang, tolong adakan lomba lagu anak-anak. Tapi bukan [kontes bernyanyi] seperti X-Factor atau Indonesian Idol. Juri-jurinya juga harus yang kompeten."

Musisi yang aktif tampil dan mengajar di Eropa ini pun mendorong agar pemusik lain, yang memiliki latar pendidikan musik dan selera musik artistik tinggi, mau menciptakan lagu anak-anak.

"[Musisi] intelektual dan mengerti lingkungan dan keadaan di Indonesia, kebiasaan dan kebudayaan bangsa kita. Jadi lingkungan sosialnya juga dipelajari, terus dia bisa mengarang sebuah lagu yang lebih mengena ke hati dan ke pikiran orang-orang di Indonesia," katanya.

Deviana menganggap suara penyanyi cilik dalam melantunkan lagu anak tak harus merdu. Menurutnya, yang paling penting adalah pesan dari lagu tersebut tersampaikan.


Lagu Sesuai Usia Anak

Sementara, psikolog anak Erfiane Cicillia mengatakan bahwa orangtua amat disarankan untuk memperkenalkan lagu anak kepada buah hatinya. Tujuannya bisa macam-macam. Mulai dari membuat anak gembira, belajar bicara, hingga berlatih nyanyi atau musik.

Soal lirik, Erfiane menilai harus dibuat yang sesuai dengan usia anak. Lagu untuk anak yang masih duduk di bangku TK, misalnya, tidak boleh terlalu banyak lirik. Alih-alih, kata-kata lebih baik diulang-ulang saja.

"Anak TK sampai SD kelas 2 dan 3 itu lebih pada [lirik] berkalimat pendek dan diulang agar mereka lebih bergairah, termotivasi, senang. Kalau batita itu gerak dan lagu, jadi sambil mereka mengikuti menyanyi, sambil belajar kata-kata. Mereka juga harus dibantu dengan gerakan supaya perkembangan motoriknya terasah," ujarnya kepada CNNIndonesia.com via sambungan telepon.

[Gambas:Youtube]

Erfiane pun memahami bahwa semakin ke sini lirik lagu anak semakin kompleks. Ia berpandangan bahwa hal-hal yang dilihat di sekitar anak-anak masa kini memang makin bervariasi, sehingga lirik mengikuti perkembangan zaman yang ada.

"Anak sekarang akan protes kalau lirik lagunya sederhana seperti lagu zaman dulu. Seperti Abang Tukang Bakso kan harga baksonya 200 perak, pasti dikritik anak sekarang itu. 'Memangnya dapat bakso 200 perak?'"

"Tapi ya tidak apa-apa, itu sebetulnya membantu supaya otak anak bekerja. Supaya mereka berpikir dan kita bisa jelaskan bahwa zaman waktu lagu ini diciptakan harga bakso masuk segitu. Itu membuka komunikasi antara orangtua dan anak juga kan," ujarnya.

Kuncinya, ucap Erfiane, adalah sesuaikan lagu dengan usia anak. Namun, jika anak sudah terlanjur menyanyikan atau menghapal lagu orang dewasa, maka orangtua tidak boleh asal melarang.

"Orangtua harus memberi tahu bahwa lagu itu tidak sesuai, atau misal liriknya tidak baik. Jangan asal melarang, melainkan memberikan alternatif lagu lain," katanya.



[Gambas:Video CNN] (res)