Amarah Ello pada 'Sampah Sampah Dunia Maya'

Muhammad Andika Putra | CNN Indonesia
Jumat, 10 Agu 2018 12:32 WIB
Marcello Tahitoe alias Ello kembali bermusik dengan merilis lagu Sampah Sampah Dunia Maya pada Jumat (10/8). Marcello Tahitoe alias Ello merilis lagu baru berjudul Sampah Sampah Dunia Maya. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Musisi Marcello Tahitoe kembali bangkit dan berkarya. Hari ini, Jumat (10/8) ia merilis lagu terbaru bertajuk Sampah Sampah Dunia Maya melalui sejumlah layanan musik streaming.

Ello, sapaan akrab Marcello, membuat lagu ini pada 2015 silam, saat media sosial ramai dengan konten-konten negatif. Ia merasa konten negatif bagai sampah berserakan yang bisa berdampak buruk bagi pengguna media sosial. Dari liriknya, terasa kental emosi kemarahan.

"Waktu itu mungkin gue lagi marah, hati gua tergugah karena konten tersebut. Ada konten yang bisa dibilang hoaks dan berujung pada perpecahan, gue enggak suka itu," kata Ello saat berkunjung ke kantor CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.


Ello tidak merujuk pada hanya satu konten negatif. Konten dengan konteks sosial, ekonomi, politik maupun lainnya bisa termasuk dalam sampah dunia maya yang dimaksud Ello.

Musisi 35 tahun itu sudah merasakan sendiri dampak negatif dari sampah dunia maya. Itu adalah saat ia terlibat kasus kepemilikan ganja tahun lalu. Pembenci atau haters berkicau. Beruntung jumlah haters pada akun media sosial Ello terbilang sangat sedikit.

Ia pun sudah punya cara khusus menangkal mereka.


"Sekarang bagaimana menyerap energi negatif, diolah jadi sesuatu yang positif. Jempol mereka merdeka, terserah mereka saja mau ngomong apa," kata Ello.

Ello sudah melakukan itu. Dari fenomena haters, putra musisi Minggoes Tahitoe itu tidak butuh waktu lama menggarap Sampah Sampah Dunia Maya. Penulisan lagu dan aransemen musik ia kerjakan bersama rekan satu bandnya: Enos Martyn, Arden Wiebowo dan Robby Wahyuda.

Ia bercerita, proses kreatifnya berjalan mengalir tanpa hambatan. Ello hanya mengisi bagiannya degan gitar, lalu membebaskan personel lain untuk mengisi dengan bas dan drum.


"Apa yang kami rasa enak ketika lagi jamming, langsung rekam. Proses kreatif menyenangkan banget. Biasanya gue mikir suara alat musik di mana saja, kali ini enggak," kata Ello. Proses rekaman bahkan dilakukan di rumahnya, kawasan Kayu Putih, Jakarta Timur.

Ia memanfaatkan waktu sebulan untuk rekaman, sebelum rumahnya akan dijual kala itu.

"Gue merekam satu album sebagai kenang-kenangan sebelum dijual. Ada delapan lagu untuk album yang rilis nanti, Sampah Sampah Dunia Maya ini single," kata Ello.


Album yang dimaksud Ello, sebenarnya sudah siap rilis sejak 2015. Namun ia harus mengantre waktu rilis karena masih bernaung di label rekaman. Hingga akhirnya Ello menyerahkan waktu perilisan pada label Sony Music. Mana lagu yang dirilis duluan pun ditentukan label.

Satu perubahan jelas pada diri Ello setelah Sampah Sampah Dunia Maya rilis. Ia akan mengganti nama beken menjadi Cello. Ia menjelaskan, Cello merupakan sapaan akrab orang-orang terdekatnya. Sementara Ello adalah panggilan dari ibu dan neneknya.

"Jadi enggak ada perubahan. [Ello ke Cello] bukan berarti berubah dari mangga ke jambu, tapi justu mengupas mangga itu lebih dalam," kata Ello, atau kini bisa dipanggil Cello.

[Gambas:Youtube] (rsa/rsa)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER