Budaya Indonesia di Balik Busana dan Senjata Wiro Sableng

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Sabtu, 01/09/2018 17:57 WIB
Budaya Indonesia di Balik Busana dan Senjata Wiro Sableng Seluruh properti termasuk senjata Wiro Sableng diinspirasi dari budaya Indonesia. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Produser sekaligus penulis naskah Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, Sheila (Lala) Timothy memikirkan masak-masak semua elemen dalam filmnya. Itu ia tekankan betul pada timnya. Ardianto Sinaga yang direkrut sebagai production designer pun mengakui itu.

Setelah membaca naskah yang ditulis Lala bersama Tumpal Tampubolon dan Seno Gumira Ajidarma, Anto berpikir untuk membuat semua properti berbau Indonesia. Wiro Sableng adalah pendekar asli buatan Indonesia, pun seluruh koreografi dan lokasi syuting di Indonesia.

Dibantu Caravan Studio, ia pun membuat desain properti dengan memasukkan cita rasa lokal.


Semua desain kostum, senjata bahkan bangunan dalam film Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 terinspirasi dari berbagai budaya dan dearah di Indonesia.


Desain rumah misalnya, Anto banyak terinspirasi dari masyarakat Baduy, Banten, yang tempat tinggalnya terbuat dari bambu dan beratap ijuk. Rumah tersebut terlihat pada Desa Jatiwalu yang merupakan tempat tinggal Wiro Sableng semasa kecil.

Selain itu, Anto juga membuat kostum untuk semua karakter kecuali milik Bidadari Angin Timur (Marsha Timothy) yang dibuat oleh desainer kondang Tex Saverio.

Soal kostum, Anto menerjemahkannya dari naskah. Karakter Anggini (Sherina Munaf) misalnya, dideskripsikan mengenakan pakaian serba ungu dan besenjatakan selendang. Anto pun mendesain kostum ungu dengan selendang yang diikat di pinggang.

[Gambas:Instagram]

Pada bagian pundak terdapat kain dengan motif khas kain ulos asal Medan, Sumetara Utara.

"Kalau pakaian karakter Empat Berewok dari Goa Sangreng, itu dari pemain Reog Ponorogo," kata Anto kepada CNNIndonesia.com di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, pekan lalu.

[Gambas:Instagram]

Dari semua desain, kata Anto, kostum Wiro Sableng adalah yang paling sulit karena hanya dideskripsikan mengenakan atasan dan celana putih. Ia pun sempat menonton sinetron untuk mencari inspirasi desain kostum Wiro. Namun kostum di sinetron menurutnya terlalu jadul.

Celananya terlalu gombrong. "Gue ingin Wiro terlihat zaman sekarang, jadi celananya gue buat seperti celana jogger yang body fit. Wiro kan tinggi, badannya bagus dan kakinya ramping," kata Anto menjelaskan. Sementara atasannya, didesain dengan potongan miring.


Menurut Anto, itu agar pakaiannya tidak terlihat seperti seragam karate. Ia juga menambah jahitan kasar pada bagian kerah dan sambungan kain agar terasa nuansa abad ke-16.

Tak selesai sampai di situ, Anto juga mendesain Kapak Maut Naga Geni 212 dan senjata lain yang ada di film Wiro Sableng. Caravan Studio sebelumnya sudah membuat 10 sampai 15 desain kapak sehingga Anto hanya perlu memilih dan mengembangkan.

Ia mengembangkan desain dengan corak yang terlihat seperti aliran air. Itu terinspirasi dari pamor keris, yang akan muncul bila keris dibuat dengan tempaan besi berlapis.

"Bentuk kapak itu di-mix and match, akhirnya jadilah bentuk kapak yang sekarang. Selain itu terdapat desain yang melambangkan air, api, tanah dan udara di kapak," kata Anto.

Kapak Maut Naga Geni 212 senjata Wiro Sableng.Kapak Maut Naga Geni 212 senjata Wiro Sableng. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Sama seperti kostum, Anto juga membuat senjata dengan refrensi senjata-senjata khas Indonesia. Di antaranya adalah golok yang dipakai Kalingundil dan pedang Raja Kamandaka.

"Desain golok Kalingundil itu dari keris Zaman Majapahit yang bermata tiga, ukurannya dibesarkan dua kali lipat. Kalau desain pedang Kamandaka dari golok Prabu Siliwangi."

[Gambas:Instagram] (rsa)