Musisi Genius dan Filsuf Nyentrik Itu Bernama Harry Roesli

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 15/09/2018 10:14 WIB
Musisi Genius dan Filsuf Nyentrik Itu Bernama Harry Roesli Lahir dari keluarga berada, Harry Roesli kemudian meninggalkan 'istananya' dan memilih mendalami musik dan menyuarakan keadilan sosial. (Dok. Pribadi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bagi kaum milenial, nama Harry Roesli mungkin tidak sepopuler Armand Maulana. Tapi tanpa ada Harry Roesli, mungkin Armand Maulana tak tampil sekeren di atas panggung seperti yang selama ini dikenal.

Harry Roesli lebih dari sekadar musisi. Ia adalah guru, seniman, "tukang musik", bahkan pendidik para musisi Bandung yang kemudian berkembang menyajikan musik berkualitas kepada masyarakat.

Lahir dengan nama Djauhar Zaharsyah Fachrudin Roesli pada 10 September 1951, cucu dari pujangga besar Indonesia Marah Roesli yang terkenal akan karyanya Siti Nurbaya ini memilih musik sebagai panggilan jiwa.


Tak ada yang kurang dari kehidupan seorang Harry Roesli. Ia lahir sebagai anak bungsu dari keluarga berada, anak seorang Mayjen TNI Roeshan Roesli, dan seorang dokter.


Ia pun tumbuh dalam pendidikan yang baik, hingga diterima di Teknik Mesin Institut Teknik Bandung yang kala itu --1970-- dikenal prestise.

Tapi ia meninggalkan itu semua, kehidupannya yang di tengah "istana", pendidikan di kampus prestise, untuk mendalami musik, menyuarakan keadilan sosial, dan rela mengajarkan para musisi jalanan agar tak menjadi 'preman'.

Harry memutuskan meninggalkan ITB kala sudah duduk hingga tingkat empat dan memilih kuliah musik di Institut Kesenian Jakarta. Ia terus mempelajari dan mengembangkan musik hingga menerima beasiswa mendalami musik di Rotterdam Conservatorium, Belanda.

Ia juga dikenal sebagai musisi serba bisa. Memulai dengan membentuk Gang of Harry Roesli pada 1971 dan merilis album 'Philosophy Gang' di tahun yang sama, Harry Roesli membuat geger dunia musik.

Band Gang of Harry Roesli.Band Gang of Harry Roesli. (Dok. Pribadi)

Harry Roesli dikenal sebagai musisi serba bisa dengan keahlian tak hanya sebatas gitar, melainkan juga gong, gamelan, drum, botol, kaleng bekas dan kliningan. Kemampuan yang langka di eranya.

Karyanya pun monumental. Harry mampu menggabungkan berbagai instrumen musik secara bersamaan namun berirama. Selain itu, nyaris mustahil secara sepakat menempatkan satu genre dalam sebuah karya seorang Harry Roesli.

Ditambah, lirik metafora yang ciamik namun masih mampu menyampaikan pesan kritikan sosial secara tepat.

"Saya lihat lagi karya-karyanya, saya dengarkan liriknya, ini orang gila juga. Dipikir-pikir dia ciptakan Malaria itu umur 20 tahun, Ken Arok usia 23 atau 24 tahun, lalu lihat karyanya Indonesia Jangan Menangis itu dia umur 26, dia udah buat seperti itu. Ini orang penting buat musik di sini," kata istri Harry, Kania Perdani Handiman.

Malaria adalah salah satu karya terbaik Harry Roesli yang disebut pengamat musik kawakan mendiang Danny Sakrie sebagai metafora potret Indonesia. Sedangkan Ken Arok, adalah karya Harry Roesli dalam bentuk teater.


Lalu, lagu Jangan Menangis merupakan karya yang muncul terinspirasi dari Peristiwa Malari pada 1974 yang banyak melibatkan protes dari para mahasiswa, termasuk Harry sendiri yang saat itu masih kuliah.

"Harry Roesli adalah seniman yang mengaduk-aduk banyak dimensi seni, entah itu musik, teater hingga film menjadi medium untuk bercermin, medium untuk menerka perilaku kita termasuk medium untuk kritisi," tulis Danny Sakrie pada 10 September 2013 di laman pribadinya.

"Jika menilik karya-karyanya yang terangkum pada sekitar 20-an lebih album, sederet karya musik panggung hingga teater, maka kita bisa menangkap benang merah kerangka berpikir Harry Roesli yang lugas, tegas, tanpa tedeng aling-aling, terhadap hipokritas, tapi disajikan dalam semangat bercanda," kata Danny.

"Harry Roesli memang akrab dengan bingkai yang satirikal. Kadang, ia mengungkap tematik dengan menjungkirbalikkan logika," lanjutnya.

Harry Roesli bersama anak-anaknya.Harry Roesli bersama anak-anaknya. (Dok. Pribadi)

Namun di balik kegeniusan seorang Harry Roesli, ia adalah sosok pemurah, usil, pendidik, namun juga amat protektif terhadap keluarganya. Ada banyak yang merasakan berbagai petuah, falsafah, dan bantuan dari seorang Harry Roesli.

Salah satunya Norbertus 'Nano' Riantiarno, salah satu pendiri Teater Koma. Harry Roesli adalah sahabat, sekaligus 'pembimbing' Neno dan musik Teater Koma hingga kini.

"Usia Kang Harry lebih muda dari saya. Dia lahir di Bandung, 10 September 1951. Tapi dia lebih bijak. Kata-katanya benar. Panggilan 'Akang', adalah cerminan rasa hormat saya kepadanya," kata Nano.

Sedangkan bagi Armand Maulana, Harry Roesli adalah salah satu orang yang memberikan kenangan mendalam meskipun tak selalu bisa bertemu dengan sang legenda semasa dirinya masih hidup.


"Kang Harry bisa sampai subuh enggak berhenti ngoceh dan ocehannya itu banyak banget pelajaran, banyak banget pengalaman dia yang bisa untuk saya, kalau bertemu dengan situasi seperti itu. Sudah begitu, orangnya lucu, orangnya super genius plus lucu. Kalau sudah ngelucu, ngakak banget sih," kata Armand Maulana.

"Saya lihat dari kang Harry seorang seniman atau musisi itu memang harus siap [dengan segala kondisi akan pentas]," kata vokalis Gigi itu.

"[kenangan yang lain dari Harry Roesli] Keluarkanlah seluruh tenaga untuk membuat lagu itu sebagus mungkin.. Paling tidak saat karya itu tidak diterima, atau biasa-biasa saja, kita udah senang sendiri," lanjutnya.

Harry Roesli meninggal pada 11 Desember 2004. Sudah 14 tahun berlalu, namun warisan Harry Roesli masih terjaga di Bandung melalui Rumah Musik Harry Roesli yang juga jadi rumah bagi banyak musisi jalanan yang ingin menjadi musisi yang sesungguhnya.

Layala Khrisna Patria, anak Harry Roesli.Layala Khrisna Patria, anak Harry Roesli. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama)

"Bapak itu ngajarinnya 'kalau kamu ngamen di jalanan, representasikanlah musikmu, jangan jadi pemeras secara halus. Jadikan pengamen itu sebagai profesi, dan musik sebagai mediamu untuk menyampaikan kegelisahan kamu, segala bentuk ekspresi musik kamu. Jangan berkedok preman.'" kata putra Harry Roesli, Layala Khrisna Patria.

Mengenang Indonesia pernah memiliki musisi sekaliber Harry Roesli yang secara tak langsung memperkaya khasanah musik Indonesia, CNNIndonesia.com mencoba mengulik sedikit kisah hidup sang maestro dalam Fokus Legenda: Filosofi Nyentrik Harry Roesli pada edisi September kali ini.

Ada banyak kisah dan sumbangsih Harry Roesli yang masih bisa digali, namun setidaknya kini generasi milenial dapat kenal dan mengetahui bahwa Indonesia pernah memiliki musisi genius sekaligus filsuf yang gayanya kerap nyentrik dan dianggap 'sangar' itu. (end)