Zaman Kegelapan Jadi Tema Nominasi 'Man Booker Prize 2018'

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 21/09/2018 21:15 WIB
Zaman Kegelapan Jadi Tema Nominasi 'Man Booker Prize 2018' Enam novel pilihan telah diberitakan. Pemilihan pemenangnya akan dilakukan pada pertengahan Oktober mendatang. (Dok. The Man Booker Prize via themanbookerprize.com)
Jakarta, CNN Indonesia -- Enam novelis pilihan bersaing mendapatkan Man Booker Prize 2018. Ini adalah penghargaan bergengsi yang diberikan setiap tahunnya untuk novel orisinil yang ditulis dalam bahasa Inggris dan dipublikasikan di Inggris.

Berbicara tentang novel pilihan Booker tahun ini, yang temanya meliputi pelecehan seksual sampai krisis lingkungan, direktur Kwame Anthony Appiah mengungkapkan topik dominan dari 171 buku yang terdaftar adalah, "Spesies kita, dan kadang tentang spesies lain yang juga berbagi planet kecil ini, ditantang oleh kegelisahan, penderitaan, rasa sakit; sementara institusi dan lingkungan kita berada di bawah ancaman."

"Kita hidup di kegelapan. Atau setidaknya, para novelis kita berpikir kita hidup di kegelapan," kata Appiah.


Daisy Johnson menjadi novelis termuda yang masuk nominasi.

Karyanya berjudul Everything Under, bercerita tentang hubungan ibu dan anak yang bermasalah, terinspirasi dari mitos Yunani lama.

Selain Johnson, daftar pilihan juga termasuk karya eksperimental Anna Burns dari Irlandia Utara, Milkman yang berkisah mengenai masalah-masalah di Irlandia Utara dari perspektif seorang wanita muda; juga Washington Black milik Esi Edugyan dari Kanada, menceritakan kisah nyata tentang pelecehan ras yang dialami anak berusia 11 tahun yang jadi budak seorang pemilik perkebunan asal Barbados.

Novelis Amerika Rachel Kushner dan Richard Powers juga masuk nominasi, masing-masing dengan karya The Mars Room yang mengisahkan perbedaan gender dan kelas sosial dalam potret kemiskinan dan penahanan, serta The Overstory, mengenai sembilan orang yang tak saling kenal yang mencoba menyelamatkan beberapa hektar hutan perawan terakhir di dunia.

Daftar ini dilengkapi oleh penyair Robin Robertson dengan debut novel The Long Take, menuturkan cerita gangguan stres pasca trauma yang dialami seorang veteran perang.

Juri dan kritikus Leo Robson menyebut buku-buku nominator sebagai 'katalog krisis yang dialami manusia', sementara juri dan penulis Val McDermid berpendapat, "Buku-buku ini tentang zaman kegelapan, dan kita hidup di dalamnya, tak ada keraguan lagi. Tetapi membaca buku-buku itu tidak membuatku depresi."

Bagi juri dan penulis feminis Jacqueline Rose, memilih pemenang dari daftar di atas nyaris mustahil.

"Ini semua sudah tak terhindarkan. Tapi ada harapan di dalam penulisan sebuah buku, fakta bahwa orang bisa menulis dan mengalami kegelapan ini. Kami menghormati buku-buku ini, mereka berani pergi ke tempat-tempat yang menyimpan banyak sekali kepahitan," ujarnya.

Dengan daftar yang terdiri dari tiga penulis Inggris, satu dari Kanada dan dua orang berasal dari Amerika, tidak tertutup kemungkinan akan ada tiga pemenang Amerika selama tiga tahun berturut-turut. Pada Man Booker 2016, Paul Beatty keluar jadi pemenang dengan The Sellout, sementara Lincoln in the Bardo milik George Saunders berjaya di 2017; keduanya adalah warga negara Amerika.

Pada 2013, keputusan warga negara Amerika bisa memenangkan penghargaan bergengsi yang asalnya dari Inggris ini menimbulkan kontroversi. Pada Februari lalu, 30 penerbit menulis kepada penyelenggara penghargaan, meminta mereka mempertimbangkan kembali keputusan di atas.

Appiah pun berpendapat, "Menurutku orang yang sungguh suka membaca sastra fiksi tidak akan menanyakan paspor penulisnya," katanya seraya menegaskan, keputusan akhir kontroversi tersebut tidak di tangannya.

Pemenang Man Booker 2018 akan diumumkan pada 16 Oktober di Guildhall, London.

(rea)