Tak Lagi Suram, Museum Pusaka Cirebon Bernuansa Mal

ANTARA, CNN Indonesia | Jumat, 12/10/2018 05:50 WIB
Tak Lagi Suram, Museum Pusaka Cirebon Bernuansa Mal Keraton Kasepuhan Cirebon. (Istockphoto/Joko Harismoyo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat, terus melakukan pengembangan demi meningkatkan jumlah kunjungan turis, salah satunya dengan mengoperasikan Museum Pusaka dengan suasana "lebih modern".

Museum Pusaka ialah museum penyimpanan benda keramat milik Keraton Kasepuhan Cirebon. Selama ini, museum tersebut identik dengan suasana gelap dan kuno.

Keraton Kasepuhan Cirebon lalu mengubah suasana tersebut menjadi lebih terang, sejuk, bersih dan tertata apik.


"Anak muda sekarang senangnya ke pusat perbelanjaan. Karena itulah kita membuat suasana Museum Pusaka yang mirip pusat perbelanjaan yang rapi, bersih dan dingin," kata Raja Kesultanan Kasepuhan Cirebon, Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat, di Cirebon, seperti yang dikutip dari Antara pada Kamis (11/10).

Menurutnya Museum Pusaka yang modern ditujukan kepada generasi muda untuk meneladani masa lalu.

Dengan suasana baru, diharapkan membuat kalangan muda tertarik untuk mempelajari masa lalu Keraton Kasepuhan Cirebon.

"Tujuannya, lahir generasi yang berkebudayaan Nusantara," ujar Sultan Arief.

Suasana modern ini juga ditujukan untuk menarik minat wisatawan asing, terlebih kata Sultan Arief, Bandara Internasional Kertajati yang tengah dibangun memungkinkan wisatawan berbagai negara langsung terbang ke Cirebon.

Dikatakan Sultan Arief, keberadaan Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon, dapat menjadi pendulang devisa sektor pariwisata budaya.

Sultan Arief mengatakan penempatan pusaka di museum berdasarkan periode waktu, dimulai dari koleksi terlama.

Dengan cara tersebut, pengunjung seakan memasuki sejarah Keraton Cirebon mulai dari Pangeran Cakrabuana pada masa Galuh Pajajaran, masa Sunan Gunung Jati, hingga Sultan Cirebon setelahnya.

Pangeran Cakrabuana di abad XIII-XIV bisa dikenali lewat tinggalan pusaka antara lain Keris Sempana, Keris Brojol, Keris Sempaner, Keris Pandita Tapa, Keris Santan, dan Keris Bima Kurda.

Senjata khas Sunda yaitu Kujang Wayang pada masa Galuh Pajajaran dengan bentuk yang begitu artistik juga ditampilkan.

Badik, senjata yang selama ini identik dengan Sulawesi, juga ternyata sudah ada sejak masa Prabu Siliwangi ini.

Pengunjung juga bisa menyaksikan senjata pusaka dari tokoh paling terkenal Kesultanan Cirebon, Sunan Gunung Jati.

Tokoh utama penyebar agama Islam di daratan Jawa ini meninggalkan sejumlah pusaka yang dibuat pada masa 1479-1597 M yaitu Keris Dholog, dan Keris Tilam Upih.

Dalam museum ini juga dipamerkan Peti Mesir yang dibawa oleh Sunan Gunung Jati dan Ibundanya dari Mesir ke Cirebon.

Sunan Gunung Jati adalah putra pasangan Raja Champa, Sultan Syarif Abdullah dan Nyai Rara Santang, putri Raja Siliwangi.

(ard)