'Supermarket' Musik Melly Goeslaw dan Penyesalan Main Medsos

Renata Angelica, CNN Indonesia | Minggu, 14/10/2018 18:58 WIB
'Supermarket' Musik Melly Goeslaw dan Penyesalan Main Medsos Melly Goeslaw mengungkapkan pendapat-pendapat kritisnya tentang dunia seni, politik, dan rasa penyesalannya memiliki akun media sosial. (Detikcom/Ismail)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ruangan itu tidak besar, namun dipenuhi kursi-kursi besar dan berbagai gambar yang digantung di dinding yang juga ramai motif. Melly Goeslaw duduk di salah satu kursi, berbincang bersama CNNIndonesia.com mengenai hidupnya yang juga berwarna.

Aksen Sunda masih kental dalam logat Melly, dan ia begitu terbuka dengan pemikiran-pemikiran pribadinya. Setelah berkisah tentang jalan hidup, ia mengutarakan pendapat mengenai perubahan yang tengah terjadi dalam industri musik nasional saat ini.

"Musik itu seperti supermarket, jadi kita baru puas kalau masuk ke supermarket yang ada sayurnya, buah-buahannya, permennya, cookies, sampo, segala macam yang lengkap, pasti kita akan kembali lagi ke situ," ujar Melly mengibaratkan.


Punya band Potret yang musikalitasnya unik, Melly juga pernah diragukan saat membentuk grup vokal Bukan Bintang Biasa (BBB) yang diawaki oleh selebritas yang ketika itu tak punya pengalaman bermusik. Namun ia melihatnya dari sisi lain.


"Menurut saya, BBB mengisi salah satu rak itu. Kalau misalnya kamu punya daging steak wagyu, ya enggak apa-apa, saya punya permen, yang mana permen ini ada juga yang mau beli di supermarket. Industri seni ini akan bagus dan jalan kalau seperti itu," paparnya.

"Nah, tahun '90-an itu kayak gitu. Ada Dewa, Base Jam, Java Jive, Potret, punya musik yang berbeda. Soloisnya ada Krisdayanti, Rossa, ada Atiek CB, wah, macem-macem. Jadi jalan [industrinya], seru," kata Melly yang merasakan berbagai panggung sejak akhir 1980-an.

Ia membandingkan perubahan yang banyak terjadi sejak saat itu. Di mana, kini dinilainya mudah untuk dikenal publik melalui berbagai jalan, misalnya lewat YouTube. Menurut Melly, sebagai generasi yang lebih awal menjalani kehidupan, para orang tua mesti memberikan nasihat menggunakan media internet itu dengan bijak.

Bagi Melly, YouTube memiliki dua sisi, menguntungkan karena memperkaya khazanah namun sekaligus bisa membatasi kreativitas lantaran mengikuti tren percakapan yang sedang terjadi. Di sisi lain, kemudahan teknologi saat ini juga dipandang Melly menghalangi musisi meningkatkan makna karya mereka.


"Dulu karena kita generik dan organik, semuanya di-create sendiri. Sekarang tools-nya banyak, sehingga semua orang bisa jadi bintang, selebgram, dulu kan enggak bisa. Dulu rekaman saja pakai pita, salah satu kata, ulang dari awal. Sekarang nyanyi empat track, sudah, penyanyinya disuruh pulang, tinggal di-edit," kata Melly memberi perumpamaan yang nyata.

"Kita berlomba-lomba membuat desain yang unik dan menarik di medsos dan YouTube. Tapi esensi lagunya enggak dipikirin, jadinya hit sih, tapi enggak abadi," ujarnya tegas.

Musik, Politik, dan 'Sumbu Pendek' Netizen

Telah menjalani profesi sebagai musisi selama lebih dari tiga dekade, Melly juga kenyang bersinggungan dengan politik negeri. Ia juga pernah menjalani kehidupan sebagai 'penggembira' panggung kampanye. Namun berbagai pengalaman hidup dan insting bermusiknya membuat ia menentukan satu keputusan.

"Musik dan politik itu sebaiknya tidak terkait," ucap Melly.

Berbagai koleksi foto lawas Melly Goeslaw.Berbagai koleksi foto lawas Melly Goeslaw. (Repro/CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama)

"Dulu, kita seniman dipakai untuk kampanye. Saya bisa sore sama Golkar, siang sama PDI, sore sama siapa. Profesi kita murni untuk menghibur, mengundang orang untuk datang ke lapangan, titik. Sekarang tidak seperti itu. Kebanyakan men-declare, 'gue nomer satu, gue nomer dua'. Saya pribadi melihat itu pilihan ya, memang kamu lebih suka dengan jalur seperti itu ya silakan," ungkapnya.

Bagi Melly, mendukung salah satu pihak dalam politik adalah hal yang lumrah. Namun dirinya enggan menunjukkan secara terbuka akan pilihannya mendukung salah satu pihak. Menurutnya, ada fan yang juga bisa jadi memiliki pilihan yang berbeda dengan dirinya.

Lagi pula, sebagai seniman, dirinya memiliki keluwesan mengkritisi kebijakan pemerintah dengan bahasa seni yang filosofis. Seperti yang pernah ia lakukan beberapa waktu lalu melalui unggahan di Instagram.

[Gambas:Instagram]

[Gambas:Instagram]

Sebagai pengguna media sosial yang aktif, Melly juga paham dunia maya juga tak luput dari drama dan ketegangan antar penggunanya. Bahkan dirinya kerap berhadapan dengan netizen yang 'sumbu pendek', tak memahami kalimat yang ia ucapkan dan langsung tersulut emosi.

Ia mengisahkan pernah diprotes kala membuat lagu 'Tuhan Yang Mau' saat terjadi gempa Yogyakarta 2006 silam. Lagu tersebut memiliki lirik 'bila nanti aku bertemu Tuhan//akan kuminta ampun untuk bangsaku' yang membuat netizen 'berkicau': "'Emang bangsanya punya dosa apa?'," ujar Melly mengingat salah satu komentar.


"Makanya kita kalau mau bikin lagu, dulu sah-sah saja, sekarang jadi banyak protes. Sekarang tuh semua kuliahnya di ilmu cocoklogi, semua dicocok-cocokin. Harus hati-hati, gitu. Mungkin dia [netizen] enggak siap kali ya, dikasih lahan sebegitu luasnya," katanya.

"Nyesel saya, nyesel main medsos. Karena kalau dipikir-pikir, enak banget ya kayak Bu Christine [Hakim] atau Reza Rahadian kan cuma admin-nya saja. Dia enggak lihat apapun, jadi dia cuma posting saja," ucap Melly, sedikit tersenyum getir. (end)