The Panturas, Rock Selancar Kontemporer dari Pegunungan

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 19/10/2018 13:38 WIB
The Panturas, Rock Selancar Kontemporer dari Pegunungan The Panturas menuturkan kisah sejak awal mula hingga akhirnya memilih memainkan rock selancar. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Surf rock atau rock selancar adalah genre musik yang cukup tenar di negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat. Terlebih genre ini berasal California Selatan yang merupakan daerah pesisir yang dipopulerkan oleh peselancar sekaligus musisi Dick Dale.

Biasanya band beraliran rock selancar berasal dari daerah yang dekat dengan pantai. Selain Dale, masih ada The Beach Boys dan The Tornadoes yang berasal dari California.

Identitas utama rock selancar adalah gitar elektrik dengan modulasi reverb sehingga terdengar becek dan lagu instrumental tanpa vokal. Bila penasaran seperti apa, dengarlah lagu Misirlou milik Dickdale. Lagu itu sempat dipakai sebagai lagu tema film 'Pulp Fiction' (1994).




Ada pula sejumlah band yang menggunakan vokal meski mengurung rock selancar. Biasanya mereka lebih sering disebut sebagai vocal surf yang merupakan sub genre dari rock selancar.

Di Indonesia, genre ini cukup asing karena timbul-tenggelam. Sempat populer pada era 60an karena kemunculan Eka Sapta dan perlahan tergerus genre lain. Kemudian awal 2000an rock selancar kembali dikenal karena kemunculan Southern Beach Terrror.

Baru pada era 2010an muncul nama-nama baru yang mengusung genre rock selancar, salah satunya The Panturas. Tidak seperti band rock selancar yang berasal dari pesisir, mereka berasal dari Jatinangor, Sumedang, yang merupakan dataran tinggi.

"The Panturas itu sebenarnya plesetan dari band rock selancar yang namanya The Ventures," kata drumer Surya Fikri alias Kuya saat mengunjungi kantor CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.



The Panturas telah merilis album perdana bertajuk Mabuk Laut pada Februari lalu. Pesta perilisan yang mereka gelar di Bandung dan Jakarta terbilang sukses. Mereka berkolaborasi dengan vokalis The Upstairs, Jimi Multhazam saat pesta perilisan di Jakarta.

Setidaknya ada tiga lagu hit dari delapan lagu dalam album Mabuk Laut. Tiga lagu itu adalah Fisherman's Slut, Gurita Kota dan Sunshine. Mayoritas pengunjung dalam beberapa acara menyanyi dengan lantang saat lagu tersebut dilantunkan.

Menengok ke belakang, Kuya menjelaskan keterbentukan The Panturas berawal dari band SMA-nya yang bernama Teenage Pinnochio. Salah tiga personel band itu adalah Kuya, gitaris Rizal Taufik dan bassist Cecep alias Kodok. Sayang, Teenage Pinnochio tak berjalan dengan baik, padahal Kuya ingin serius bermusik.

"Gue menyarankan untuk bikin band rock selancar, enggak tahu sih kenapa bisa pilih genre tersebut, mengalir saja waktu itu. Saat itu lagi suka banget sama The Beach Boys, Dick Dale dan kawan-kawan," kata Kuya.

Awalnya Kuya ingin menjadi band rock selancar seutuhnya dengan membawakan lagu instrumental tanpa vokal. Ia sempat melakukan riset di Perpustakaan Batu Api di Jatinagor dan berdiskusi dengan teman kampus di Universitas Padjadjaran.



Seiring berjalannya waktu Kuya, Rizal dan Kodok sepakat untuk tidak selalu membuat lagu instrumental. Mereka ingin ada beberapa lagu yang bisa dinyanyikan, terutama saat tampil langsung. Saat itu mereka mulai mencari personel untuk mengisi posisi vokal, gitar dan kibor.

"Gue menyarankan Abyan Nabilio (Acin) karena suaranya unik, gua pernah dengar dia menyanyikan ulang Don't Look Back In Anger milik Oasis di Soundcloud. Lagu itu dibawakan dengan gaya bossanova," kata Kuya.

Bukan hanya vokal, Acin juga berperan sebagai gitaris. Kemudian mereka menambahkan satu kibordis bernama Azis. Jadilah formasi komplit The Panturas, kala itu mereka merilis single Fisherman's Slut melalui Soundcloud. Pun tawaran manggung di sejumlah acara mulai berdatangan.

Sembari tampil, Rizal dan Acin melakukan riset agar tahu bagaimana menghasilkan suara gitar elektrik yang diinginkan. Riset mereka lakukan mulai dari menonton penampilan musisi rock selancar di YouTube, sampai melihat alat apa yang digunakan, karena alat sangat berpengaruh pada suara yang dihasilkan.

Proses mendapat suara yang becek mudah ketika mereka berhasil mendapatkan efek modulasi reverb. Pun mereka tidak langsung bisa menghasilkan suara tersebut, karena harus menemukan setting yang pas antara gitar elektrik dengan modulasi reverb.

"Dapat alat musik yang cocok untuk rock selancar susah juga, yang bener-bener cocok itu gitar Acin bermerek Di Pinto. Di Pinto ini dipakai juga sama band rock selancar asal Amerika, Los Straitjackets," kata Kuya.



Kuya melanjutkan, "Ini beruntung ada yang jual murah. Jarang banget ada yang jual, gue sih belum pernah lihat lagi musisi di Indonesia lainnya yang pakai gitar ini."

Perjalanan The Panturas sempat tersendat karena Azis dan Kodok memiliki kesibukan lain. sementara personel lain ingin serius bermusik lewat The Panturas. Akhirnya mereka sering tampil tanpa kibor, posisi Kodok digantikan Bagus Patria alias Gogon yang saat itu masih menjadi personel tambahan.

Gogon yang personel tambahan terhitung lebih sering tampil bersama The Panturas ketimbang Kodok. Akhrinya Gogon diangkat menjadi personel tetap, Azis dan Kodok mengundurkan diri.

Setelah bermusik selama dua tahun, The Panturas sadar mereka tidak maminkan rock selancar seutuhnya. Mereka tahu bahwa rock selancar yang hakiki adalah musik instrumental tanpa vokal dengan suara gitar elektrik yang becek. Tapi, menurut Kuya sampai saat ini masih ada perdebatan seperti apa rock selancar yang hakiki.

Bila diperhatikan, suara gitar elektrik mereka memang terdengar becek. Tetapi 75 persen lagu dalam Mabuk Laut memiliki vokal, hanya lagu Tenggelamkan! dan Pergi Tanpa Pesan (cover Eka Sapta) yang instrumental.

"Gue merasa kami enggak cukup untuk disebut rock selancar. Tapi kita mengambil ajar rock selancar sebagai bahan utama musik kami. Musik kita jadi apa ya terserah bagaimana yang mendengar," kata Acin.

Rizal menambahkan berkelakar, "Pun kita menyebut diri kita sebagai band rock selancar kontemporer. Biar aman saja sih sebenarnya daripada kita disasar kritikus."

The Panturas, kata Kuya, membuat banyak lagu dengan vokal karena ingin pesan yang mereka sampaikan bisa diterima dengan mudah oleh pendengar. Lewat lagu Fisherman's Slut, Fish Bomb dan Gurita Kota mereka ingin menyampaikan bahwa tidak semua laut Indonesia indah seperti dalam iklan pariwisata.

"Nama kami The Panturas, pas kita tilik Pantura enggak bagus gitu. Meski awalnya plesetan dari The Ventures, tapi identik sama nama tempat. Dari situ kami sepakat bahas tentang sisi kelam lain Indonesia," kata Kuya.

Musik rock selancar kontemporer The Panturas dapat disansikan pada CNNIndonesia.com Music At Newsroom Special Edition, Rabu 24 Oktober pukul 14:00 WIB atau di sini.

[Gambas:Youtube] (adp/rea)