Music at Newsroom Special: Satu Hari Dua Bintang

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 19/10/2018 19:00 WIB
Music at Newsroom Special: Satu Hari Dua Bintang Bersama The Panturas, Yura Yunita menjadi pengisi Music at Newsroom Special pada Rabu (24/10). (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Music at Newsroom CNNIndonesia.com tersaji berbeda dari biasanya pada bulan Oktober ini karena bertepatan dengan ulang tahun ke-4 CNNIndonesia.com. Bila biasanya hanya menghadirkan satu bintang setiap bulan, kali ini dua bintang akan beraksi di tengah ruang redaksi CNNIndonesia.com.

Disiarkan secara streaming, Music at Newsroom akan berlangsung selama satu setengah jam. Music at Newsroom Special akan mengudara pada Rabu (24/10) pukul 14:00 WIB.

Penampil pertama Music at Newsroom Special adalah Yunita Rachman alias Yura Yunita. Musisi asal Kota Kembang ini baru saja merilis album kedua pada September lalu bertajuk 'Merakit'.


Yura lahir dari keluarga pecinta musik pada 1991 silam. Sejak berusia tiga tahun, ia sudah bermain instrumen piano klasik. Keluarganya kerap membuat panggung dengan menampilkan bakat kesenian saat acara keluarga.

Kariernya semakin meroket ketika bertemu dengan Glenn Fredly melalui sebuah acara televisi pada 2013 lalu. Mereka berkolaborasi lewat lagu Cinta dan Rahasia yang turut dalam album debut Yura dan berhasil menjadi hit.



"Kak Glenn pun menawarkan membuat proyek Bang Ari untuk membuatkan Yura album pertama. Jadi, dia menawarkan diri untuk jadi eksekutif produser untuk album Yura," kata Yura kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Kamis (18/10).

Sepanjang karier bermusik ia telah merilis dua album bertajuk 'Yura' (2014) dan 'Merakit' (2018). Hasilnya, ia meraih tiga penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI), yaitu dari kategori Penyanyi Wanita Terbaik (2017), Pencipta Lagu Terbaik (2017) dan Artis Solo Wanita Pop Terbaik (2018).

Penampil kedua Music at Newsroom Special adalah The Panturas. Band asal Jatinangor, Sumedang yang mengusung genre surf rock alias rock selancar. Saat ini The Panturas dihuni Abyan Zaki (vokal/gitar), Rizal Taufik (gitar), Surya Fikri alias Kuya (drum) dan Bagus Patrias (bass).

"Gue menyarankan untuk bikin band rock selancar, enggak tahu sih kenapa bisa pilih genre tersebut, mengalir saja waktu itu. Saat itu lagi suka banget sama The Beach Boys, Dick Dale dan kawan-kawan," kata Kuya saat berkunjung ke kantor CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Band yang terbentuk pada awal 2016 ini baru melahirkan satu album bertajuk 'Mabuk Laut' pada awal 2018 lalu. Album itu berisikan delapan lagu, yaitu Fisherman's Slut, Fish Bomb, Tenggelamkan!, Gurita Kota, Arabian Playboy, Bulu Babi, Pergi Tanpa Pesan dan Sunshine.

Pesta perilisan yang mereka gelar di Bandung dan Jakarta terbilang sukses. Mereka berkolaborasi dengan vokalis The Upstairs, Jimi Multhazam saat pesta perilisan di Jakarta.



Setelah bermusik selama dua tahun, The Panturas sadar mereka tidak memainkan rock selancar seutuhnya. Mereka tahu bahwa hakiki rock selancar adalah musik instrumental tanpa vokal dengan suara gitar elektrik yang becek. Walau sebenarnya, menurut Kuya, sampai saat ini masih ada perdebatan mengenai esensi rock selancar.

Bila diperhatikan, suara gitar elektrik The Panturas memang terdengar becek. Tetapi 75 persen lagu dalam Mabuk Laut memiliki vokal, hanya lagu Tenggelamkan! dan Pergi Tanpa Pesan (cover Eka Sapta) yang instrumental.

"Gue merasa kami enggak cukup untuk disebut rock selancar. Tapi kita mengambil aja rock selancar sebagai bahan utama musik kami. Musik kita jadi apa ya terserah bagaimana yang mendengar," kata Acin. (adp/rea)